Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2010

UFO - Senjata Rahasia Perang

Catatan: Tulisan ini merupakan bagian dari kumpulan teori mengenai "Asal-Usul UFO", dan merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya di sini, dan versi pembaruannya ada di sini: http://teknologi.kompasiana.com/2009/12/15/asal-usul-ufo/

Berkecamuknya Perang Dunia I pada 1914-1918 telah menimbulkan ketegangan yang besar antara negara-negara di dunia, baik yang terlibat langsung dalam peperangan, maupun yang merasa terancam oleh situasi dunia yang semakin memburuk. Karena kondisi ini maka penampakan UFO pada awal abad ke-20 seringkali dikaitkan dengan kecurigaan terhadap perkembangan teknologi perang negara yang sedang saling bertikai.

Salahsatu penelitian awal mengenai fenomena UFO di dunia, terjadi di Australia pada tahun 1920. Pada 21 Agustus 1920, kapal laut SS Amelia J. Schooner berawakkan 13 orang dan mengangkut muatan batu bara, menghilang di Selat Bass, selatan New South Wales, Australia, dalam perjalanannya dari Newcastle menuju Hobart. Selat Bass adalah selat yang memisahkan daratan Australia dengan pulau Tasmania di sebelah Selatan, dikenal memiliki cuaca yang ganas dan rawan badai sehingga banyak kapal yang melintas disana hilang karena tenggelam. Namun walau setelah pencarian yang extensive, tim pencari yang dikirimkan pemerintah Australia ke selat ini tidak berhasil menemukan jejak Amelie, baik puing ataupun sisa dari badan kapal seandainya saja SS Amelia J memang mengalami musibah dan hancur[1].

Untuk menambahkan kejanggalan, salahsatu pesawat terbang dalam misi pencarian yang dipiloti Captain W. Stutt ternyata menemui nasib yang sama, hilang tanpa jejak dan tak diketahui lagi nasibnya [2] . Uniknya, peristiwa hilangnya mereka ini ternyata terjadi setelah adanya laporan-laporan nelayan setempat mengenai munculnya sinar-sinar misterius di daerah sekitar tempat masuk Selat Bass [3]. AU Australia mulanya mengira sinar-sinar tersebut dihasilkan oleh roket dari kapal selam pengintai Jepang jenis baru, namun serangkaian penelitian yang kemudian mereka lakukan berbuah nihil, dan peristiwa menghilangnya pesawat udara setelah muncul fenomena misterius, kembali terulang pada tahun 1978 dalam peristiwa yang dikenal sebagai "The Valentich Mistery" [4].

Mungkinkah ada negara asing yang berulangkali mencoba memasuki wilayah Australia dari arah Selatan? Apakah pada saat itu Jepang memiliki kemampuan untuk melakukan ekspedisi pengintaian dengan jarak sejauh hampir 9.000 Km?[5]. Selain itu, tim penyelidik tidak pernah menemukan bekas-bekas kapal yang hancur oleh penyerangan negara asing tersebut.

Apakah ini berarti ada pihak misterius yang terlibat dalam menghilangnya kapal laut dan pesawat udara tersebut? Lalu apakah hal serupa terjadi pula di lain penjuru dunia lain? Bagaimanakah kondisi negara lain pada era yang sama?

Pesawat Terbang Hantu

Di Eropa, fenomena penampakan UFO modern diawali pada tahun 1933 dengan laporan dari banyak saksi mata di Skandinavia, atas munculnya pesawat-pesawat terbang misterius. Pesawat misterius ini memiliki bentuk mirip dengan "biplane"; pesawat terbang bersayap ganda bermesin tunggal, namun seringkali dikabarkan terbang pada kondisi cuaca sangat buruk, yang seharusnya sudah membuat pesawat sejenis ini jatuh hancur. Mereka juga dikabarkan seringkali terlihat sedang memutari suatu tempat sambil menyalakan lampu sorot yang kuat. Selain di Skandinavia, fenomena ini terjadi juga di Inggris dan beberapa negara Eropa lain walau dengan frekuensi yang lebih jarang[6]. Anehnya walaupun dilaporkan penampakan pesawat terbang ini hampir selalu diiringi bunyi mesin, namun tak jarang pesawat-pesawat ini terlihat melakukan manuver dalam ketinggian rendah tanpa suara sama sekali.

Atas kemisteriusan identitasnya, pesawat-pesawat terbang ini lalu dijuluki “Pesawat Terbang Hantu” (Ghost Aircraft) . Banyak negara Eropa menganggap kalau pesawat terbang hantu ini berasal dari Jepang untuk memata-matai Eropa[1], namun jika dilihat secara realistis, tidak ada negara manapun pada masa itu yang mampu untuk mengadakan ekspedisi dalam skala sebesar itu, terlebih Jepang.

Mungkinkah ini berarti ada pihak misterius yang tertarik dengan kondisi dunia diambang peperangan global di masa tersebut? Apakah mereka mempergunakan teknologi canggih untuk memodifikasi pesawat terbang konvensional hingga memiliki kemampuan yang lebih baik? Atau apakah Pesawat Terbang Hantu ini merupakan prototype, atau cikal bakal dari jenis UFO yang lebih canggih? Ataukah justru sebenarnya “Pesawat Terbang Hantu” adalah UFO yang menyamar dalam bentuk yang lebih tak mencurigakan?

Foo Fighter

Pada tahun 1942 – 1945 dunia kembali diguncang dengan perang berskala global. Perang Dunia II berkecamuk antara negara-negara “Sekutu”; Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Belgia, Russia, Polandia, dll., yang berusaha menghambat gerak invasi negara-negara “Poros”; Jerman, Jepang, Italia. Pada masa ini pilot pesawat tempur dan pesawat pembom dari kedua kubu yang bertentangan seringkali dibuat bingung dengan fenomena munculnya benda-benda terbang aneh mengiringi misi yang mereka jalankan.

Bola-bola terbang bercahaya berukuran sekitar 30 – 60 cm digambarkan sering muncul disekitar pesawat terbang dalam misi militer, dan melakukan gerakan-gerakan manuver lincah yang menunjukkan adanya semacam kecerdasan buatan. Umumnya benda-benda ini memancarkan sinar oranye kemerahan ketika dalam kecepatan rendah, dan berwarna putih terang jika sedang terbang cepat.

Pada masa itu, pilot-pilot menamai benda-benda asing tersebut sebagai "Foo Fighter". Istilah ini mulai marak dipakai pada sekitar tahun 1945 di kubu AU AS sewaktu mengusung misi pemboman Jerman[7]. Awalnya mereka mengira benda-benda asing ini sebagai eksperimen rahasia negara Jerman, dugaan ini didukung dengan berhentinya pemunculan Foo Fighters ketika Sekutu berhasil merebut pangkalan-pangkalan udara eksperimental Jerman di sebelah Timur sungai Rhine. Adapun pemakaian kata “Foo” sendiri tidak memiliki sejarah yang jelas. Ada dugaan ia diambil dari istilah "where there's foo, there's fire" dari Smokey Stover; sebuah komik strip yang ngetop di AS pada sekitar tahun 30an. Namun sebagian ada juga yang menduga kata "Foo" ini diambil dari kata “Feu” yang berarti “Api” dalam bahasa Perancis, mewakili penampakan Foo Fighter yang mirip bola api.

Menurut laporan intelijen, kedua kubu yang berperang sama-sama menganggap kalau fenomena tersebut adalah senjata rahasia dari pihak lawan, walaupun dari sekian banyak kasus perjumpaan yang dilaporkan, tidak ada indikasi benda-benda ini bertindak agresif, ataupun memiliki fungsi tempur.

Foo Fighters di Langit Indonesia

Di wilayah Indonesia sendiri pada era yang sama, sempat dilaporkan juga kemunculan benda terbang misterius serupa Foo Fighter. Kejadian ini dialami oleh pilot Sekutu dalam upayanya memerangi pendudukan Jepang di Indonesia. Dalam suatu misi pengeboman Palembang tanggal 10 Agustus 1944, pilot pembom B-29 Sekutu Kapten Alvah M. Reida yang berpangkalan di Kharagaphur, India, dikejutkan oleh munculnya piringan metalik bercahaya oranye di samping kanan sayap ketika pesawat telah meninggalkan sasaran [8]. Pilot lalu mencoba melakukan manuver menghindar namun ternyata bisa diikuti piringan asing begaris tengah 1,5 - 2 meter tersebut dengan mudah. Setelah delapan menit mengikuti, benda asing tersebut tiba-tiba berbelok tajam dan menghilang dalam waktu sangat cepat.

Wayne Thomas, Jr, seorang mantan petugas intelijen bagi grup B-29 yang ditempatkan di Tinian juga mengkonfirmasikan bahwa laporan semacam ini adalah hal yang sering terjadi di area Peperangan Asia. Mereka digambarkan biasanya mengikuti pesawat pembom selama beberapa menit sebelum akhirnya memisahkan diri.

Melihat karakternya yang gemar mengikuti pesawat tempur dari jarak dekat, apakah Foo Fighters ini sebenarnya merupakan semacam probe, atau robot pengindera yang memindai dan mengumpulkan data teknis pesawat terbang secara wireless? Betulkah Jerman pada masa itu telah menguasai teknologi secanggih itu?

NAZI UFO

Didukung dengan kesaksian beberapa ilmuwan yang mengaku mengetahui keberadaan eksperimen-eksperimen rahasia Jerman di masa itu, termasuk diantaranya pengembangan model Hauneburg-Geräte atau disingkat "Haunebu", muncul suatu dugaan kalau fenomena Foo Fighter memang didalangi oleh Jerman, dan banyak UFO yang terlihat pada masa itu sebenarnya adalah senjata rahasia dari Jerman dalam tahap pengembangannya. Teknologi ini konon diambil Jerman dengan cara retro-engineering dari sebuah UFO yang jatuh pada sekitar tahun 1930an.

Salahsatu kesaksian misalnya, dilakukan oleh Giuseppe Belluzzo, seorang professor dan Italian Minister of National Economy pada masa rezim Mussolini. Pada awal tahun 1950an ia sempat menulis sebuah artikel di harian "Il Giornale d'Italia" dengan kutipan sebagai berikut:

"types of flying discs were designed and studied in Germany and Italy as early as 1942"

Beberapa ilmuwan dan engineers, juga kemudian muncul dan mengakui mengetahui atau bahkan pernah terlibat dalam proyek pembuatan piring terbang di masa NAZI berkuasa di Jerman. Pada masa akhir perang, teknologi piring terbang ini kemudian dialihkan ke Chekoslovakia untuk diproduksi lebih lanjut, sedangkan prototype yang selamat dari perang diungsikan ke pangkalan rahasia Jerman di Antartika, Kutub Selatan. Disana para ilmuwan Nazi dan petinggi SS yang tersisa kemudian melanjutkan eksperimen mereka dan menyempurnakan teknologi piring terbang tersebut.

Namun karena lemahnya bukti yang bisa mereka ajukan, tidak adanya data-data mendetail yang bisa dipelajari, maka pendapat mengenai UFO sebagai senjata rahasia NAZI ini hanya sedikit saja yang menganggap serius. Walaupun NAZI semasa berkuasanya mungkin telah berhasil menciptakan mesin perang yang canggih, seperti misalnya roket V2, namun NAZI pasca perang dianggap sudah musnah, atau tidak memiliki lagi kemampuan untuk membangun peralatan tempur canggih, apalagi semisal piring terbang.

Fenomena Foo Fighters kemudian sempat mengalami masa surut setelah Perang Dunia II berakhir, namun kembali marak di sekitar tahun 50an, termasuk diantaranya dalam era Perang Korea[9]. Hal ini bagi sebagian Ufolog dianggap menggugurkan dugaan mengenai identitasnya sebagai pesawat eksperimen Jerman, dan mulai menimbulkan dugaan lain atas asal-usul fenomena ini; jika bukan Jerman atau Negara Poros lainnya, lantas siapakah sebenarnya dalang dibalik kemunculan fenomena UFO ini?

Kemudian seiring dengan tetap terjadinya UFO sighting, ditambah dengan terjadinya beberapa UFO encounters yang cukup informatif untuk diteliti, lambat-laun para pengamat pun dapat memperhatikan dengan lebih detail mengenai fenomena penampakan UFO. Hal yang mulai diperhatikan dan diteliti mencakup kinerja; perkiraan kecepatan, kemampuan manuver, dll., dan atribut fisiknya; bentuk fisik, cahaya, semburan gas, materi yang dipakai, dll. Ketika semakin diyakini kalau teknologi yang UFO miliki ternyata masih berada jauh diatas kemampuan yang dimiliki negara Adidaya manapun, maka mulailah muncul dugaan kalau UFO mungkin saja tidak berasal dari Bumi.

Mungkinkah ada suatu peradaban luar angkasa tak dikenal dengan teknologi sangat maju, sedang memiliki ketertarikan terhadap kehidupan manusia di Bumi? Dan mereka mengirimkan pasukan pengintainya untuk melakukan survey; meneliti mengenai perkembangan teknologi yang kita kuasai untuk mengetahui tingkat ancaman yang mungkin diberikan manusia Bumi?

(Bersambung ke bagian selanjutnya...)

(bay)

Referensi:

[1] Good, Timothy: "Beyond Top Secret", London - PanBooks, 1997.

[2] “Gabo Island Shipwreck”, http://oceans1.customer.netspace.net.au/gabo-wrecks.html, Feb 2005

[3] "STRANGE LIGHTS AND VANISHINGS", http://www.project1947.com/bcausenc.htm, 1997

[4] http://www.ufoevidence.org/cases/case24.htm

[5] http://www.timeanddate.com/worldclock/distanceresult.html?p1=248&p2=396

[6] "A Quick Reference Timeline", http://www.alienjigsaw.com/pom1.html

[7] http://en.wikipedia.org/wiki/Foo_fighter

[8] "Historical Sightings; 1942 - 1946", http://www.bibleufo.com/ufos902.htm

[9] "Extraterrestrial Psychology", 1988, Richard Hall, http://www.nicap.org/ncp/ncp-hall2.htm

[10] "Ghost Rockets", http://www.bibliotecapleyades.net/ciencia/ufo_briefingdocument/1946.htm

Senin, 29 Desember 2008

Historical Sightings 1942 - 1946 - The Bible UFO Connection

Historical Sightings
1942 - 1946

1942
  • Japan: An Imperial Japanese Sally bomber aircraft, on a mission over the Sea of Japan, was approached by a small dark spherical object which flew around and between the aircraft in the formation. An alert gun-cameraman snapped one photograph.
  • Solomon Islands: While in the Solomon Islands US Marine Corp Sgt. Stephen J. Brickner sighted a staggering number of UFOs, laid out in virtually an enormous rectangle. They were in rows of 15 objects long by ten objects deep. The formation was 15 craft long and 10 deep. Formation sightings have been reported before but the rectangle shape is unique.
  • Timor Sea: The cruiser Tromp was approached by a large aluminum disc that flew at tremendous speed. It then circled the Dutch vessel for about three to four hours. Finally, it flew off at an estimated speed of 3,000-3,500 mph.
  • USA, California, Los Angeles: A gigantic black-out, covering the area from Bakersfield south to San Diego and eastward to Boulder City and Las Vegas, Nev., went into effect shortly after 8 o’clock last night on orders from the Army Fourth Interceptor Command. It continued until 11:03 p.m. As Los Angeles went dark amongst considerable confusion and uncertainty, The Interceptor Command announced, “this is not a practice black-out.” A yellow signal, indicating the approach of enemy air raiders, was flashed on the state-wide teletype at 7:35p.m.. Police said the signal indicated the presence of unidentified airplanes approaching Los Angeles from the sea but did not necessarily mean they were enemy. Anti-aircraft and machine gunners scrambled to their weapons at Ft. Mac Arthur, which was promptly placed on alert basis. Reports that the sound of gunfire could be heard could not be verified from listening posts at the beach or at the harbor. Definite indication that the Interceptor Command meant business by calling for the black-out was contained in a statement from a spokesman who said: “There are planes over the south of Los Angeles that are unidentified. The area will be blacked out until we can identify them.” When asked if Army planes had been sent aloft to contact these aircraft the spokesman said: “You can assume there have been.” Thousands of Angelinos, listening for straining ears for sounds of aircraft, were unable to distinguish sounds of motors, however. A few minutes after the black-out was ordered, the flashing of what appeared to be Army searchlights was visible in the higher portions of Los Angeles, 25 miles from the water front. Headquarters of the Fourth Interceptor Command, calling the blackout a success, said they had a report that unidentified planes were in the vicinity of Los Angeles.
1943
  • Burma: US bomber pilots flying missions from Burma to China reported being buzzed and circled by 'glittering' objects. Instruments failed to operate until the objects flew off.
  • China, Qing Xian, Hebet Province: A domed UFO that emitted a white light was seen flying less than 20 feet above the ground.
  • Germany, Schweinfurt: On October 14, 1943, US B-17s of the 348th Bomb Group had started a bombing run over Schweinfurt, Germany, when they ran into a formation of 'scores' of small, silvery disks, about one inch thick and four inches in diameter, flying toward the bombers. Major E.R.T. Holmes reported that one struck the tail of one aircraft, but without effect.
  • Russia, Pushkino: Soldiers saw a disc-shaped object hovering high in the air above aircraft.
1944
  • Austria, Klagenfurt: Major Leet, a bomber pilot, saw a luminous disc follow his plane and its maneuvers.
  • Germany, Hagenau: On December 22, 1944, Lt. David McFalls of the US 415 th night fighter squadron was over Hagenau, Germany. At 6:00 am, he saw two 'hug, bright orange lights' climbing toward the plane. McFalls dived, banked and turned his plane, but the UFOs stuck with him for two minutes, then peeled off and blinked out.
  • India, Kharagapur: On August 10, 1944, Captain Alvah M. Reida was piloting a B-29 bomber based at Kharagapur, India, on a mission over Palembang, Sumatra, when his right gunner and co-pilot noticed a sphere 'probably five or six feet in diameter, of a very bright and intense red or orange in color' that constantly throbbed, about 12,500 ft off the starboard wing. It kept up with the B-29, then flying at 210 mph. Reida tried to shake it off his plane, but it stayed in the same relative position until , after eight minutes, it 'made an abrupt 90 degree turn and accelerated rapidly, disappearing in the overcast.'
  • USA, Washington, DC. On February 22, Franklin D. Roosevelt writes a Top Secret memo on White House stationary for "The special committee on non-terrestrial science and technology." Both the title and the content clearly allude to extraterrestrial life, the former using the word "non-terrestrial" and the latter talks about "coming to grips with the reality that our planet is not the only one harboring intelligent life the universe.
  • World War II pilots on both sides of the conflict reported, "Foo fighters," bright, unidentified flying objects that move in the sky in a strange manner.
1945
  • North Korea, Wonsan: Three Japanese Zeroes engage two daylight discs in a dogfight. One Zero is shot down, and the UFOs flee into space.
  • USA, Alaska, Aleutian Islands: Fourteen men on the USAT Delarof saw a dark spherical object rise out of the water, circle their ship and fly off to the south.
1946
  • Sweden: The well-documented 'Ghost Rocket' invasion of Sweden took place as cigar-shaped objects rained down on land and lake in this area of northern Europe.
  • USA, Florida: Pilot and crew of a C-47 aircraft 30 miles north-east of Tampa, saw a cigar-shaped object with luminous portholes hurtle towards them in horizontal flight at the same altitude of 4,000ft. At 1,000 yards distant it swerved to avoid them. Estimated size of object was twice that of a B-29 bomber.

Source: http://www.bibleufo.com/ufos902.htm

Minggu, 04 November 2007

Penelitian UFO di Indonesia

Indonesia sebagai negara berkembang sebenarnya telah memiliki pencapaian yang cukup berarti dalam penelitian UFO dengan munculnya Marsekal Muda (purn.) J.Salatun, seorang pengamat UFO yang telah diakui dunia internasional. Selama bertugas di militer, Salatun mendapat dukungan dari AURI untuk melakukan penyelidikan atas fenomena UFO lokal dan global. Komandan AU yang menjabat saat itu, Roesmin Nurjadin, 1967 menganggap fenomena UFO sebagai suatu hal nyata dan terjadi pula di Indonesia

"UFOs sighted in Indonesia are identical with those sighted in other countries. Sometimes they pose a problem for our air defense and once we were obliged to open fire on them."

J.salatun sendiri berpendapat penelitian akan fenomena penampakan UFO sebagai suatu hal yang penting terkait masalah keamanan nasional dan dunia.

"The study of UFOs is a necessity for the sake of world security in the event we have to prepare for the worst in the space age, irrespective of whether we become Columbus or the Indians."

Salatun yang sempat menjabat sebagai Ketua LAPAN, hingga saat inipun masih terlibat dalam kegiatan penelitian UFO diantaranya dalam "Sign Historical Group", sebuah workshop internasional yang bertujuan mengumpulkan ahli-ahli Ufologi terkemuka untuk menyusun daftar kejadian dalam sejarah penelitian UFO dunia. Salatun juga merupakan orang yang memiliki ide untuk memberikan istilah dalam bahasa Indonesia yang khas untuk UFO yaitu, "BETA" (Benda Terbang yang Aneh), dan kemudian dikoreksi menjadi "Beterbedi" (Benda Terbang Belum Dikenal). Namun sayangnya, kurangnya perhatian dari pihak pemerintah dalam masa-masa setelahnya, telah membuat penelitian di bidang ini terhenti, dan Indonesia kembali bergabung dengan negara-negara lain dalam ke tak-peduliannya (dan ketidaktahuannya) atas fenomena UFO.

Namun kondisi ini lambat-laun berubah, kala penyebaran informasi terjadi dengan lebih cepat, dan warga Indonesia banyak yang bepergian ke negara lain. Dari buku-buku dan majalah terbitan luar, para peneliti UFO lokal secara tertatih-tatih berusaha mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia Internasional.

Lalu berkaitan dengan imbas dari serial “The X-Files”, setelah disiarkannya film seri ini di salahsatu stasiun TV nasional, serta semakin mudahnya untuk mendapatkan akses internet, animo masyarakat akan fenomena UFO pun kembali meningkat pesat.

Atas dasar kondisi ini, di Indonesia pun kemudian bermunculan kelompok pengamat UFO independen. Salahsatunya, “BETA-UFO”. BETA-UFO didirikan untuk menyelidiki dan mendata fenomena UFO di Indonesia, atas prakarsa beberapa pengamat UFO amatir dari beragam kota di Indonesia.

Pemakaian istilah “BETA” disini merupakan penghormatan kepada istilah yang dimunculkan oleh J.Salatun, untuk menunjukkan identitas kelompok yang berasal dari Indonesia. (bay)

Penelitian Fenomena UFO

Fenomena penampakan UFO dan teori yang berkembang dibaliknya merupakan topik yang misterius. Walaupun setelah berpuluh tahun fenomena ini dipelajari, tidak banyak kesimpulan yang bisa diambil. Hal ini terjadi karena miskinnya data penampakan atau perjumpaan dengan UFO yang bisa dijadikan acuan, serta kecenderungan reaksi negatif dari pihak yang berwajib, masyarakat ilmiah, maupun masyarakat umum.

Jangankan berbicara soal melihat penampakan UFO, kepercayaan bahwa UFO itu sendiri ada, seringkali sudah cukup untuk dijadikan bahan olok-olokan. Pihak berwajibpun tak jarang mendiskreditkan saksi yang melaporkan telah melihat UFO, dengan menganggap mereka hanyalah mengalami halusinasi, memiliki masalah penglihatan, salah mengidentifikasikan hal sederhana (burung terbang, planet Mars, dll.), atau alasan-alasan lainnya yang terkesan dipaksakan (gas rawa, lumba-lumba melompat tinggi, dll.). Hal-hal seperti ini tak jarang membuat ciut nyali saksi mata perjumpaan UFO untuk menceritakan pengalaman mereka, hingga memilih untuk bungkam atau pura-pura tak peduli. Kondisi ini tentu saja menyulitkan peneliti dalam mendapatkan laporan berharga dari kasus-kasus perjumpaan yang benar-benar terjadi.

Kondisi yang buruk ini seringkali ditambah runyam lagi dengan reaksi dari beragam UFO-believer yang kadang melakukan hal-hal ganjil atas nama UFO. Di negara AS misalnya, pada tahun 28 Maret 1997 muncul kegemparan atas aksi bunuh diri yang dilakukan 39 orang pengikut sekte “Heaven’s Gate”, yang mengaku telah mendapat wangsit dari tuhan. Mereka percaya jiwa mereka akan dibawa meninggalkan dunia menuju surga dalam sebuah pesawat ruang angkasa pada waktu yang ditetapkan. Kejadian semacam ini telah menimbulkan reaksi negatif dari masyarakat umum dan khususnya pihak berwajib. Secara otomatis hal semacam ini juga telah membuat suasana penelitian serius di bidang Ufologi semakin mengeruh.

Bagaimana situasinya di Indonesia? (bay)

Fenomena UFO


"UFO" adalah akronim dari "Unidentified flying Object", atau diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia menjadi "Benda Terbang Tak Dikenal". Istilah ini sendiri baru muncul pada tahun 1954, dalam suatu press release resmi oleh Angkatan Udara Amerika Serikat (untuk selanjutnya kita singkat menjadi “AU AS”) di Pentagon atas prakarsa Edward Ruppelt, Direktur pertama “Project Blue Book”. Project Blue Book sendiri adalah proyek pertama penyelidikan UFO yang dibentuk oleh AU AS dalam meneliti fenomena penampakan benda-benda terbang Asing di Amerika Serikat, dan di negara-negara lain. Sebelum press release tersebut keluar, media massa lebih gemar mempergunakan istilah "Flying Saucer" (atau "Piring Terbang"), mengacu pada pengalaman Kenneth Arnold di Gunung Rainier, Amerika Serikat, tujuh tahun sebelumnya.

Istilah “UFO encounter” atau “perjumpaan dengan UFO” sebenarnya mencakup secara luas seluruh peristiwa perjumpaan dengan segala macam benda terbang yang tak dikenal, tanpa harus mengacu semata-mata kepada “Piring Terbang”, atau “kendaraan dari luar angkasa”. Suatu benda terbang tak dikenal sudah sewajarnya mendapat istilah “UFO” sebelum berhasil diidentifikasi.

Namun untuk menghindari kerancuan, maka dalam situs ini penulis akan membahas UFO lebih dalam konteks sebagai “Benda terbang terkendali dengan asal-usul yang misterius”. Definisinya;

"Segala macam benda yang terlihat bisa terbang dengan terkendali (tidak sekedar hanyut terbawa angin), serta tidak diketahui asal-usulnya, atau diduga tidak termasuk dalam jenis benda terbang yang diketahui dibuat oleh manusia". (bay)

Senin, 21 Mei 2007

Status Quo Untuk UFO (arsip berita)


Status Quo Untuk UFO

Sejak diteliti serius mulai tahun 1947, hingga kini misteri kehadiran makhluk asing
(UFO) masih saja tak terpecahkan. Tak pernah ada kesimpulan ilmiah yang
menggembirakan. Sebaliknya, malah cenderung makin membingungkan. Tak
kurang dari penerbang tempur Indonesia pernah menguntitnya!

Setiap kali berbicara tentang UFO (Unidentified Flying Object) atau yang kerap juga disebut sebagai piring terbang berikut makhluk asingnya, pikiran kita memang seolah terbawa pada hal-hal tak pasti karena minimnya saksi. Sedemikian tak pastinya, hingga tak sedikit yang kemudian memandangnya skeptis. Namun hal ini bukan berarti tak ada pihak yang memperhatikan masalah-masalah ajaib ini.

Beberapa waktu lalu, perihal UFO mendapat tempat istimewa dalam sebuah seminar metafisika di Jakarta. Pembawa makalahnya adalah R Jacob Salatun, seorang mantan perwira tinggi TNI AU yang memang dikenal punya perhatian luas dalam hal kedirgantaraan, termasuk UFO.

Ada hal menarik yang kemudian diungkap selain mengetengahkan kasus serta sifat-sifat umum fenomena yang persisten, global, ganjil, imun terhadap pertahanan udara, dan aktivitasnya yang berpola dan bertahap. Itu adalah tentang jawaban dari pertanyaan Salatun kepada Prof Dr Joseph Allen Hynek ketika berkunjung ke Indonesia di akhir tahun 1976. Hynek tak lain adalah pakar astro fisika asal Universitas Northwestern, AS, sekaligus penasihat utama Pusat Intelejen Teknik Angkatan Udara AS yang pernah begitu dipercaya sebagai peneliti utama UFO di Amerika. Dia berkunjung atas undangan Menteri Luar Negeri (ketika itu) Adam Malik.

Sebagai tuan rumah dan counter-part, Salatun yang ketika itu Ketua Lapan bertanya, bagaimana pikiran Hynek pada waktu memulai tugasnya. Jawabannya ternyata diluar dugaan, terutama dilihat dari kemampuannya sebagai ilmuwan terkemuka, yakni bahwa dirinya mengira tugasnya menyelidiki piring terbang akan seperti penelitian ilmiah lainnya yang paling hanya memakan waktu satu-dua
tahun. Perkiraan itu ternyata meleset. Bahkan ketika proyek penelitian UFO ini dihentikan 22 tahun kemudian, pada 1969, jawaban atas teka-tekinya belum juga ditemukan.

"Bahkan sampai hari ini sekalipun, yaitu 52 tahun terhitung sejak 1947 keadaannya masih
status-quo," tandas Salatun.

Mantan Sekretaris Kastaf Gabungan TNI ini juga menambahkan, di dalam pandangan kolumnis fiksi-ilmiah terkenal Erich von Daniken, peninggalan kebudayaan kuno di Amerika Selatan sarat dengan relief maupun artifak lainnya yang menggambarkan kunjungan makhluk-makhluk dari luar bumi. Jika pandangan itu benar, maka fenomena UFO telah berusia puluhan abad!

Global dan ganjil


Dalam makalahnya yang berjudul 'Misteri Maraknya Manusia yang Diculik oleh Makhluk UFO dan Fenomena UFO', RJ Salatun juga memaparkan bahwa UFO telah disaksikan hampir di seluruh wilayah Bumi ini. Mereka berkali-kali nampak di Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, Asia, Afrika, Australia, Oceania, Arktika, dan bahkan Antartika. Menariknya, sejumlah negara besar memiliki kebijakan yang berbeda dalam mempublikasikan penampakannya.

Kejadian lucu misalnya terjadi beberapa tahun lalu ketika delegasi ilmuwan AS berkunjung ke Cina. Ketika perbincangan menyinggung masalah UFO, kedua negara pun saling bertukar cerita. Usut punya usut pemerintah Negeri Tirai Bambu ternyata memiliki kebijakan yang lebih terbuka. Ini nampak dari berita-berita kesaksian terhadap benda-benda terbang tak dikenalnya yang disiarkan secara bebas tanpa sensor.

Saling tukar cerita ini selanjutnya juga meredakan kecurigaan Cina. Pasalnya, pada tahun 50-an negara-negara Blok Timur mencemoohnya sebagai rekayasa negara-negara kapitalis untuk mengalihkan perhatian masyarakatnya dari kesulitan-kesulitan yang dihadapinya.

Di lain negeri, mungkin karena begitu dahsyat keganjilannya, masalah UFO malah cenderung menjadi bahan tertawaan. Salah seorang pakar UFO dari Perancis misalnya, yakni Dr Jacques Vallee, malah menamakannya sebagai "pesta pora kemustahilan-kemustahilan" (festival of absurdities). Itu karena manuver-manuvernya seolah tak terpengaruh gravitasi maupun inertia, bisa berhenti mendadak di udara, berbelik haluan 180 derajad seketika, terbang zig-zag, dan lain-lain.

Kehebatan yang telah menghias majalah dan buku tersebut ternyata juga tak hanya disaksikan penerbang luar negeri. Seorang kolega Angkasa, dia adalah seorang penerbang tempur handal TNI AU, suatu ketika juga pernah memergokinya sekitar tahun 1995 di atas daerah Pameungpeuk Selatan, Jawa Barat.

"Saya tidak melihatnya secara visual namun radar kami menangkap gerakannya yang tak lazim," kata penerbang yang enggan disebut namanya ini. "Senior saya yang terbang bersama juga mengkonfirmasikan hal serupa. Tak ada pesawat tempur secanggih apa pun yang mampu bergerak seperti itu," tambahnya.

Ketika itu, ungkapnya, layar radar pesawatnya menangkap benda bergerak dari jarak sekitar 10 mil-laut. Dengan kecepatan yang begitu tinggi, mendekati kecepatan roket, dia mampu terbang zig-zag. Sebuah sifat wahana terbang yang belum mungkin dikembangkan manusia dengan teknologi paling mutakhir sekali pun.
Nampaknya sang piring terbang sadar jika dirinya tengah dikuntit. Selama beberapa saat hal itu dibiarkan saja. Namun ketika penguntitan ini berlangsung hingga Lampung Selatan, dengan kecepatan yang begitu
tinggi ia bergerak lalu hilang begitu saja dari layar radar.

Selain mampu bermanuver ganjil, UFO juga imun terhadap serangan udara. Diantara sekian pengusiran yang pernah dilakukan komando pertahanan udara sejumlah negara, yang menarik Indonesia termasuk pernah
melakukannya pula. Peristiwanya terjadi pada tahun 1964, yakni semasa Indonesia tengah berkonfrontasi dengan Malaysia. Awal masalahnya adalah karena selama tujuh hari, selepas mahgrib menjelang subuh, Komando Sektor Pertahanan Udara di Surabaya memergoki UFO seakan tengah mengintainya.

Melalui sejumlah pertimbangan, UFO-UFO itu dihardik dengan tembakan meriam penangkis serangan udara. Gerakan mereka senantiasa dipantau radar. Uniknya, nampak di layar radar, bagaimana UFO-UFO itu membumbung tinggi setiap kali tembakan mengenai sasaran. Tidak ada yang jatuh. Kecuali di Surabaya, kasus penembakan UFO oleh artileri anti serangan udara juga terjadi di Kepulauan Kurillen yang dikuasai Soviet sekitar tahun 1950-an. Sama saja hasilnya, mereka seperti punya kekebalan terhadap senjata buatan manusia.

Nasib sial justru dialami penerbang MiG-21 AU Kuba. Merasa sudah memasuki jarak tembak, ia segera membidikkan rudal infra-merah K-13 ke arah sebuah piring terbang. Malang, entah mengapa, rudal tersebut justru meledak di bawah sayap dan meleburkan pesawatnya.

Pola operasi tertentu


Sejauh penelitian yang telah dilakukan, para ahli kemudian mencurigai bahwa kehadiran mereka seperti memperlihatkan sebuah pola atau paling tidak pentahapan tertentu. Seperti dikatakan Dr David R. Saunders, misalnya, UFO muncul bersamaan secara regional yang disebut gelombang UFO terjadi setiap 61 bulan atau 1.853 hari dan bergerak ke arah timur. Dikatakan pula, gelombang dari utara ke selatan bukan dalam garis lurus, tetapi agak miring.

Menurut Dr Hynek, UFO berasal dari suatu titik tertentu di langit. Aktivitasnya memperlihatkan pola operasi tertentu, mulai dari pengintaian umum (general reconnaisance) suatu daerah yang luas. Jika mereka menemukan sasaran-sasaran yang patut untuk diselidiki lebih mendalam, maka menyusullah pengintaian rinci dengan daerah yang kian menyempit selama anehnya genap tujuh hari.

"Dari reaksi UFO terhadap sergapan pesawat, bisa disimpulkan bahwa makhluk UFO mempunyai kemampuan berfikir yang melebihi manusia. Sementara jika melakukan pendaratan, mereka selalu menyempatkan diri memungut contoh-contoh mineral, flora, dan fauna, bagai seseorang yang sedang
mempersiapkan thesisnya untuk meraih gelar Ph.D," ujar Hynek.

Pola operasi UFO, masih menurut makalah yang disusun Salatun, juga menunjukkan skala prioritas tertentu. Prioritas pertama yang menjadi sasaran pengintaiannya, adalah segala hal yang berkaitan dengan tenaga nuklir. Baik itu pembangkit tenaga nuklir, gudang senjata nuklir, pabrik pengolahan dan pembuatannya, laboratorium, tambang-tambang bahan nuklir, hingga kapal selam nuklir.

Jatuhnya piring terbang di Roswell, New Mexico (1947) yang amat terkenal itu juga bukan suatu kebetulan jika didekatnya terdapat pangkalan udara tempat bermarkasnya Grup Pembom ke-508 AU AS yang nota-bene merupakan kesatuan udara pertama di dunia yang dilengkapi bom-bom atom. Sampai kini pun, UFO masih merupakan pengunjung setia pangkalan-pangkalan strategis yang memiliki kaitan dengan nuklir.

Sementara itu, prioritas kedua sasaran mereka adalah pusat-pusat perhubungan darat, laut, udara, dan pusat-pusat telekomunikasi. Dan, prioritas keempat aneh bin ajaib adalah badan air tawar, seperti danau, waduk, sungai, dan sebagainya. Menurut Hynek, kuatnya minat terhadap air tawar telah menjadi petunjuk kuat bahwa UFU bukan berasal dari Bumi. Dalam hal ini perlu kiranya dicatat, bahwa dalam kasus kunjungan UFO ke rumah Guntur Soekarnoputra di Jalan Sriwijaya Raya 24, Kebayoran Baru, Jakarta, yang terjadi pada tahun 1981, sasarannya tak lain adalah menara air yang diatasnya bertengger dua drum air tawar.

Selebihnya, yang merupakan prioritas keempat adalah contoh-contoh mineral, flora, dan fauna. Dalam perkembangannya sendiri, dalam dasawarsa terakhir telah terjadi pergeseran prioritas. Pengumpulan data biologis dan medis terutama dari manusia bumi yang diculik dengan paksa akhir-akhir ini rupanya telah menjadi prioritas pertama.

Berusaha menyikapi itu semua, Salatun kemudian bertanya kepada Hynek, persiapan mental seperti apa yang harus dilakukan guna menghadapi keganjilan-keganjilan fenomena UFO. Jawabnya, "Rajin-rajinlah menonton serial TV 'Star Trek'." (adr)

Source: http://www.angkasa-online.com/10/02/lain/lain3.htm