Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 September 2012

Kemungkinan adanya mahluk cerdas serupa manusia sebelum Nabi Adam AS menurut tafsir Quraish Shihab

Earth from Space
Earth from Space (Photo credit: Wikipedia)
Adakah mahluk cerdas di dunia ini sebelum Adam AS diciptakan? Tentu saja, karena sebelum menciptakan Adam AS yang kita percayai sebagai manusia pertama, Allah SWT telah terlebih dahulu menciptakan Malaikat, dan Jin, yang keduanya memiliki kemampuan berpikir, dan tingkat intelegensia tinggi. Adapun pertanyaan yang sulit terjawab adalah, adakah mahluk cerdas serupa manusia yang pernah Allah SWT ciptakan sebelum Adam AS?

Pertanyaan ini muncul kala kita meninjau surat Al Baqarah ayat 30 (QS 02:30) dimana di dalamnya termuat kisah mengenai dialog antara malaikat dan Allah SWT, yang menyiratkan kekhawatiran malaikat akan sifat manusia terkait penugasannya sebagai khalifah di muka Bumi.
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS 02:30)
Adapun ungkapan yang terlontar dari malaikat tersebut menyiratkan seolah malaikat bisa menebak bagaimana sifat-sifat dari mahluk yang akan Allah ciptakan dan jadikan khalifah ini, sementara saat dialog berlangsung pengukuhan status khalifah dari manusia ini sudah dicanangkan, tapi belum dilaksanakan. Adapun manusianya sendiri (Adam AS) belum (atau baru saja) Allah ciptakan, sehingga cukup membingungkan bagaimana malaikat bisa dan berani menebak sifat dari mahluk baru ciptaan Allah ini. Apakah malaikat memiliki kemampuan meramal, atau mereka sekedar melakukan stereotyping?

Dalam menjawab pertanyaan ini, maka tafsir Al Misbah tulisan Quraish Shihab bisa memberikan petunjuk yang menarik, khususnya dalam penafsiran surat Al Baqarah ayat 30 (QS 02:30) tersebut, sebagai berikut:
"Sesungguhnya Aku akan menciptakan khalifah di dunia" demikian penyampaian Allah SWT.  Penyampaian ini bisa jadi setelah proses penciptaan alam raya dan kesiapannya untuk dihuni manusia pertama (Adam) dengan nyaman. Mendengar rencana tersebut, para Malaikat bertanya tentang makna penciptaan tersebut. Mereka menduga bahwa kahlifah ini akan merusak dan menumpahkan darah. Dugaan itu mungkin berdasarkan pengalaman mereka sebelum terciptanya manusia, dimana ada mahluk yang berlaku demikian, atau bisa juga berdasar asumsi bahwa karena yang akan ditugaskan menjadi khalifah bukan malaikat, pasti mahluk itu berbeda dengan mereka yang selalu bertasbih menyucikan Allah SWT. 
Namun demikian Quraish Shihab juga mengutarakan bahwa mungkin saja malaikat berlaku demikian berdasar poses penalaran sebagai berikut:
Pertanyaan mereka itu juga bisa lahir dari penamaan Allah terhadap mahluk yang akan dicipta itu dengan "khalifah". Kata ini mengesankan makna pelerai perselisihan dan penegak hukum sehingga dengan demikian pasti ada diantara mereka yang berselisih dan menumpahkan darah. Bisa jadi demikian dugaan malaikat sehingga muncul pertanyaan mereka.
Adapun kemungkinan telah adanya mahluk cerdas di Bumi sebelum Adam AS, disiratkan dari pemberian istilah "khalifah" itu sendiri:
Perlu dicatat bahwa kata "khalifah" pada mulanya berarti "yang menggantikan" atau "yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya". Atas dasar ini, ada yang memahami kata khalifah di sini dalam arti yang menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan2-Nya, tetapi bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan, namun karena Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan. Ada lagi yang memahaminya dalam arti yang menggantikan mahluk lain dalam menghuni bumi ini.
Jadi jika mengacu pada tafsir dari Quraish Shihab tersebut, maka surat Al Baqarah ayat 30 ini bisa jadi memang menyiratkan kemungkinan pernah adanya mahluk ciptaan Allah yang malaikat ketahui memiliki kebiasaan menumpahkan darah dan membuat kerusakan; dengan wujud yang mirip Adam AS sehingga memungkinkan malaikat untuk langsung melakukan asosiasi dan stereotyping; dan dengan tanggung-jawab yang setara (khalifah), di tempat dan waktu lain, sehingga malaikat merasa wajar untuk menyandingkannya dengan Adam AS.

Berdasarkan penelaahan akar kata "khalifah" itu sendiri tersirat makna bahwa mahluk mirip Adam AS ini memiliki kapasitas untuk memimpin, melerai perselisihan dan menegakkan hukum; yang semuanya adalah karakter dari mahluk cerdas.

Kemudian berangkat dari asal kata "khalifah" sebagai pengganti dari mahluk lain yang menghuni Bumi, menyiratkan arti bahwa sebelum Adam AS turun ke Bumi, Bumi telah memiliki penghuni, namun apakah penghuninya ini mahluk cerdas, atau mahluk serupa manusia tidak dijelaskan di ayat ini.

Adapun mengenai pendapat bahwa kemungkinan Malaikat berujar demikian karena mereka memiliki kemampuan melihat ke masa depan, dan memiliki akses ke kitab Lauh Mahfuzh, tidak disinggung sama sekali dalam tafsir ini, sehingga muncul suatu indikasi bahwa memang Malaikat tidak memiliki kemampuan sedemikian.

Jadi apakah betul ada mahluk cerdas serupa manusia, sebelum Adam AS diciptakan? Menurut penafsiran Quraish Shihab atas ayat ini kemungkinan besar iya. (byms)

Referensi:
01. M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah, Buku 1, hal 172-173

Enhanced by Zemanta

Senin, 30 Juli 2012

Apakah Uwais Al Qarni Anunnaki Alien?

Dalam sebuah artikel tulisan Kanzun Qalam "Misteri ANUNNAKI (ALIEN), di masa kehidupan RASULULLAH?" diungkapkan suatu hipotesa mengejutkan bahwa di jaman Rasulullah SAW hidup, teridentifikasi kemungkinan adanya Alien, atau mahluk luar angkasa yang hidup diantara manusia. Lebih lanjut lagi Alien ini diduga sebagai bagian dari Anunnaki: dewa yang dipercayai dan disembah oleh masyarakat dalam mitologi Sumeria kuno. Benarkah demikian? 

Anunnaki = Alien?

Dalam pandangan penulis walaupun hipotesanya menarik (dan akhirnya dipatahkan sendiri oleh penulisnya), ada beberapa ketidaksesuaian faktual disana yang agak rancu, misalnya mengenai penyamarataan istilah Alien sebagai Anunnaki, padahal "Anunnaki" bukanlah kata ganti untuk "Alien" secara umum, namun secara spesifik mengacu suatu entitas yang spesifik: entitas super yang menurut penafsiran Zecharia Sitchin dalam seri buku "Earth Chronicles", adalah ras Alien super yang berasal dari planet Nibiru, dan pencipta manusia Bumi; suatu paham yang bertentangan dengan kepercayaan Islam bahwa Allah SWT lah yang menciptakan manusia Bumi.



Jikapun bukan dari ras Anunnaki, betulkah Uwais Al Qarni itu sendiri seorang Alien? Pertanyaan ini muncul berdasarkan hadist yang dikutip di artikel tersebut sebagai berikut:
Rasulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qorni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau, memandang kepada Ali bin Abi Thalib r.a. dan Umar bin Khattab r.a. lalu bersabda : “Suatu saat apabila kalian bertemu dengan dia mintalah do’a dan istighfarnya, karena dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi
Untuk menjawab pertanyaan ini, maka dari beberapa artikel referensi dijelaskan bahwa Uwais tidak berasal dari planet lain di luar angkasa, bukan juga Alien, namun ia seorang manusia biasa yang berasal dari Yaman, dengan silsilah yang jelas keturunan siapa2nya. Uwais juga bukanlah orang asing di tengah-tengah kaumnya, dan diketahui betul kapan lahirnya dan seperti apa hidupnya.

Yang membedakan dari sisi duniawi, adalah Uwais itu sangat miskin sehingga seringkali tidak terlalu dianggap oleh kaumnya sendiri, namun demikian ada sesuatu yang spesial mengenai Uwais sehingga Rasulullah SAW memandang tinggi derajat beliau.

Adapun terkait hadist yang menyatakan Uwais adalah "penduduk langit" sehingga dianggap sebagai kemungkinan statusnya sebagai Alien, dalam tafsir internasional kita dapati tafsir yang cukup berbeda:
"He wears a woolen garment and is known to the people of the heavens" (bagian dari hadist Qudsi diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.)
Jika kita lihat bagian kata "...and is known to the people of the heavens" maka terjemahan yang lebih tepat adalah "dikenal baik oleh para penduduk Surga", bukan "Uwais adalah manusia dari langit (luar angkasa)." Adapun cerita yang kemudian mengiringi hadist tersebut menceritakan keistimewaan Uwais ini lebih dalam konteks karena keimanan, kemuliaan akhlaknya, termasuk pengabdiannya yang nyaris sempurna kepada ibunya.

Islam mengukur derajat berdasar amal-amalan

Hal yang juga membuat condong kepada alasan status "penduduk langit" nya Uwais berdasarkan keimanan, bukan karena ia Alien ataupun Anunnaki adalah Islam tidak mengutamakan derajat seseorang berdasarkan rupa, ras, pangkat, ataupun dari planet mana ia berasal, melainkan berdasarkan amal-amalannya.
"Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." ~QS Al-an’aam: 132.
Diriwayatkan dalam hadist pula, kala Uwais ini pada saat Hari Akhir nanti akan diberikan Allah SWT hak untuk syafaat, yang diilustrasikan juga adalah syafaat sebanyak jumlah kaum Rabi'a dan Mudhar: dua suku Uwais di Yaman; bukan suatu ras tak dikenal dari planet di luar Bumi, ataupun Anunnaki.
Adapun "tanda putih" pada telapak tangan yang dikutip di situs-situs Indonesia, dalam artikel luar dijelaskan bukan sebagai tanda khusus semisal tanda kenabian, namun sebagai bekas penyakit kulit serupa kusta, berwarna putih sebesar uang dirham, dan adanya di bawah bahu sebelah kiri. Silakan baca cuplikan hadist-hadist di bawah ini untuk bahan bacaan lebih lanjut. (byms)

Hadist-hadist terkait Uwais Al Qarni:

'Umar b. Khattab reported: I heard Allah's Messenger (may peace be upon him) as saying: Worthy amongst the successors would be a person who would be called Uwais. He would have his mother (living with him) and he would have (a small) sign of leprosy. Ask him to beg pardon for you (from Allah). ~Muslim :: Book 31 : Hadith 6171

Usair b. Jabir reported that a delegation from Kufa came to 'Umar and there was a person amongst them who jeered at Uwais. Thereupon Umar said: Is there amongst us one from Qaran? That person came and Umar said: Verily Allah's Messenger (may peace be upon him) has said: There would come to you a person from Yemen who would be called Uwais and he would leave none in Yemen (behind him) except his mother, and he would have the whiteness (due to leprosy) and he supplicated Allah and it was cured except for the size of a dinar or dirham. He who amongst you meets him should ask him to supplicate for forgiveness (from Allah) for you. ~Muslim :: Book 31 : Hadith 6170

Another narration is: `Umar said: "I heard Messenger of Allah saying, `The best one of the next generation (At-Tabi`un) is a man called Owais, he will have a mother and he will be suffering from leucoderma. Go to him and ask him to pray for forgiveness for you". ~Muslim.

In a Hadith Qudsi recorded by the Companion Abu Hurayra, may Allah be pleased with him, the Prophet Muhammad, upon whom be peace and blessings, said speaking on behalf of his Lord:

"Allah, Exalted and Mighty is He, loves of His creation the God-fearing, the pure in the heart, those who are hidden, and those who are innocent, whose face is dusty, whose hair is unkempt, whose stomach is empty, and who, if he asks permission to enter to the rulers, is not granted it, and if he were to ask for a gentle lady in marriage, he would be refused, and when he leaves the world it does not miss him, and if he goes out, his going out is not noticed, and if he falls sick, he is not attended to, and if he dies, he is not accompanied to his grave."

They asked him, "O Messenger of Allah, how can we find someone like that?" He, upon whom be peace and blessings, said, "Uwais al-Qarani is such a one."

Concerning the hadith of the Prophet, upon whom be peace and blessings, "More people shall enter Paradise through the intercession of a certain man from my Community than there are people in the tribes of Rabi`a and Mudar,"[1] al-Hasan al-Basri said: "That is Uwais al-Qarni."

Jumat, 16 Maret 2012

Benarkah Bulan pernah terbelah dua?

Dalam sebuah thread diskusi di FB group BETA-UFO, pertanyaan benarkah Bulan pernah terbelah dua ini sempat terlontar. Setelah ditelaah lebih lanjut, ternyata pertanyaan ini termasuk pertanyaan populer di Internet, dan telah beredar selama beberapa waktu.

Pertanyaan ini sendiri muncul akibat adanya desas-desus yang menginformasikan telah ditemukannya bukti ilmiah oleh tim ekspedisi Apollo bahwa Bulan pernah terbelah hingga ke perutnya, yang mana berarti mengkonfirmasi kebenaran dari salahsatu mujizat Nabi Muhammad SAW, yaitu terbelahnya Bulan menjadi dua:
"Bulan terbelah menjadi dua pada masa Rasulullah SAW, lalu Rasulullah SAW bersabda: Saksikanlah oleh kalian". ~ HR Abdullah bin Masud ra, Shahih Muslim No.5010.
Peristiwa terbelahnya Bulan ini disinggung pula dalam Al-Qur'an surah Al-Qamar ayat 1:
 اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
“Telah dekat (datangnya) Kiamat dan telah terbelah bulan.” (QS. Al Qamar: 1)
Polemik muncul ketika apa yang dianggap sebagai bukti ilmiah yang membuktikan mujizat Rasulullah SAW ini benar pernah terjadi, dan bahwa Kiamat telah dekat, dianggap oleh sebagian pihak sebagai hoax, atau tipuan yang disengaja untuk memberikan persepsi yang salah.

Untuk mencegah disinformasi, dan malah berbalik merugikan ummat muslim, maka ada baiknya kita telaah kebenaran dari klaim ini dengan menjustifikasi kebenaran dari klaim yang dibuat tersebut.

Asal-muasal isyu: Artikel mengenai cerita Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, atas kesaksian Daud Musa Pitkhok

Dari beragam artikel di internet yang bisa dilacak via Google, semuanya merujuk pada suatu kisah yang diceritakan oleh Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, atas cerita Al-Hizb Al-Islamy atau Daud Musa Pitkhok, mengenai suatu acara perbincangan di TV BBC Inggris yang diikuti oleh pewawancara, beserta tiga narasumber ahli Astronomi dari Amerika Serikat. Salahsatu dari tiga ahli Astronomi AS ini kemudian konon menyatakan bahwa dana luar biasa yang mereka (AS) keluarkan untuk misi ke Bulan menghasilkan temuan berharga yaitu adanya bukti ilmiah mengenai terbelahnya Bulan.

Berikut ini cuplikannya:

Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan?”
Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: "Dipersilahkan dengan senang hati.”
Daud Musa Pitkhok berkata, “Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur’an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya: Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah....
Maka aku pun bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasan hamba-Nya dalam pencarian kebenaran. Maka suatu hari aku duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi di antara presenter, seorang Inggris, dengan 3 orang pakar ruang angkasa AS.
Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal pada saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan. Presenter pun berkata, Andai dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak berguna”.
Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, “Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik segi kedokteran, industri, dan pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia-sia, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia."
Di antara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakinya di bulan, di mana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dolar.
Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata, ”Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?”
Mereka pun menjawab, “Tidak! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dolar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun."
Maka presenter itu pun bertanya, “Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya?"
Mereka menjawab, “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali!"
Presenter pun bertanya, “Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?”
Mereka menjawab, “Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah, terpotong, di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, 'Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali'."
Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, “Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dolar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin!" [1]

Walaupun seperti cukup meyakinkan dan menggugah semangat keimanan, sayangnya klaim ini muncul dan kemudian dipercaya kaum muslim secara luas hanya berdasarkan good faith dan husnudzon atau sifat berbaik sangka, namun menyisakan pertanyaan-pertanyaan berikut:
  1. Tidak jelas siapa ahli Astronomi AS yang dimaksud
  2. Tidak jelas apa bukti yang dimaksud
  3. Tidak jelas data apa yang dianalisa
  4. Tidak jelas alat pendeteksi apa yang dipakai (untuk mendeteksi adanya bekas patahan di Bulan)
  5. Tidak jelas metode analisa yang dipakai
Jadi kalau digambarkan melalui skema, runutannya adalah sebagai berikut:

Adapun bukti yang dikatakan ilmiah ini, sayangnya tidak dinyatakan secara eksplisit berupa apakah ia, juga tidak ada keterangan yang jelas. Padahal untuk bisa dinyatakan sebagai bukti ilmiah maka identitasnya harus jelas, teruji bebas dari kesalahan penafsiran dan asumsi, serta dapa di cross-check oleh peneliti lainnya.

Tulisan yang di copy-paste ratusan kali di Internet itu sendiri ternyata bersumber hanya dari sebuah blog luar negeri tanpa kredibilitas yang jelas: http://www.aulia-e-hind.com/Prophet.htm, dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh seseorang bernama Sukmayana, di blog nya http://sukmayana.blog.com/Moon/, yang kini sudah tutup [2].

Jadi betulkah terdapat bukti ilmiah telah terbelahnya Bulan? Bagaimana dengan foto-foto yang banyak beredar di Internet yang menggambarkan Bulan dengan apa yang nampak seperti bekas patahan?

Bukti foto terbelahnya Bulan

Pada beberapa artikel mengenai topik yang sama, memang ada ditampilkan gambar permukaan Bulan yang sepertinya terbelah, namun demikian foto yang dimaksud sebenarnya adalah gambar dari sebuah fitur geografis Bulan yang dikenal sebagai Rilles [3], namun tidak ada pernyataan spesifik juga bahwa bukti inilah yang dimaksud.

Adapun Rilles, sejauh yang para peneliti ketahui, bukanlah suatu fenomena yang membuktikan terbelahnya Bulan, atau terdapat hanya khusus di Bulan saja:
Rille (German for 'groove') is typically used to describe any of the long, narrow depressions in the lunar surface that resemble channels. Typically a rille can be up to several kilometers wide and hundreds of kilometers in length. However, the term has also been used loosely to describe similar structures on a number of planets in the Solar System, including Mars, Venus, and on a number of moons. All bear a structural resemblance to each other. [3]

 Ariadaeus Rille dipotret pada misi Apollo X [y]

Jikapun betul Rilles yang dimaksud sebagai "bukti ilmiah", maka klaim ini adalah bukti Bulan pernah terbelah otomatis gugur, karena berdasarkan pengamatan dan penelitian diketahui bahwa rata-rata Rilles hanya memiliki kedalaman yang relatif dangkal, tidak sampai jauh ke kedalaman Bulan seperti yang di-klaim oleh ilmuwan misterius dalam acara talkshow BBC UK tersebut.

Penekanan bahwa Rilles bukanlah bekas terbelahnya Bulan, juga dijelaskan juga oleh T. Djamaluddin, yang pada tahun 2007 menjabat sebagai Peneliti Utama Astronomi dan Astrofisika, LAPAN Bandung, dalam blog nya sebagai berikut:
Gambar itu hanyalah salah satu kanal sempit (disebut rille) yang dinamakan Ariadaeus Rille. Kanal seperti itu banyak terdapat di permukaan bulan dan bentuknya bermacam-macam, ada yang hampir lurus (seperti Ariadaeus Rille tersebut), ada juga yang berkelok-kelok (seperti Hadle Rille). Panjangnya bisa ratusan km, lebarnya beberapa kilometer, dan dalamnya bisa ratusan meter. Pembentukannya dari proses aktivitas geologis permukaan bulan, bukan karena celah bekas bulan terbelah. Jadi, anggapan bahwa kanal itu adalah bukti bahwa bulan pernah terbelah sangat mengada-ada. [2]
Adapun T. Djamaluddin sendiri semenjak bulan Mei 2011 menjabat sebagai Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan LAPAN.

Jika foto Rilles tersebut bukanlah bukti yang dimaksud, maka adakah bukti lain yang bisa mendukung klaim telah ditemukannya bukti ilmiah telah terbelahnya Bulan ini?

Hal ini bisa kita telusuri dengan mengidentifikasi teknik dan instrumen apa sajakah yang para astronot Apollo gunakan kala mereka menjelajah dan meneliti Bulan? Dan apakah instrumen ini bisa melakukan penginderaan patahan hingga jauh ke kedalaman Bulan?

Eksperimen Thumper

Sayangnya selain dari dugaan bahwa Rilles lah yang dimaksud, tidak ada bukti lain yang dianggap cukup kuat untuk mendukung klaim pernyataan ilmuwan tersebut. Adapun jenis eksperimen yang para astronot dari misi Apollo lakukan di permukaan Bulan adalah eksperimen seismik buatan yang diberi nama "Thumper" [5] . Eksperimen ini melibatkan peledakan terkendali bahan peledak kekuatan kecil, dalam skala kecil, di permukaan Bulan, dimana data seismiknya kemudian direkam untuk dipelajari.

Berikut ini skema dari perlengkapan yang dipakai dalam eksperimen Thumper ini:

Sumber: Wikipedia [6] .

Berdasarkan keterangan NASA, hasil dari Thumper ini pun tidak mendukung klaim spektakuler seperti yang diutarakan ilmuwan tersebut, karena eksperimen Thumper ini hanya dapat mengindera hingga kedalaman ~460 meter saja, sehingga sangatlah tidak mungkin bisa digunakan untuk mendeteksi adanya bekas patahan Bulan hingga ke intinya. [7]

Berdasarkan kondisi ini pulalah maka sepertinya "bukti ilmiah" yang dimaksud dalam desas-desus mengenai kebenaran Bulan pernah terbelah, tidak pernah ada.

Berarti Bulan tidak pernah terbelah dua?

Kalau berpegang pada keimanan terhadap Al-Qur'an dan Hadist mengenai salahsatu mujizat Rasulullah SAW ini, maka jawabannya adalah Bulan betul pernah terbelah. Hanya saja bukti ilmiah yang diklaim ada pada kasus ini, ternyata tidak jelas keberadaannya, dan belum tentu pula akan ditemukan. (byms)

Referensi:
[1] http://www.tnol.co.id/id/spiritual-psychology/5947-ketika-bulan-terbelah-dua.html
[2] http://tdjamaluddin2.wordpress.com/2007/06/
[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Rille
[4] http://apod.nasa.gov/apod/ap021029.html
[5] http://www.hq.nasa.gov/alsj/a16/a16.thumper.html
[6] http://en.wikipedia.org/wiki/Apollo_Lunar_Surface_Experiments_Package
[7] http://ares.jsc.nasa.gov/humanexplore/exploration/exlibrary/docs/apollocat/part1/ASE.htm
[8] http://mutoha.blogspot.com/2007/07/bulan-pernah-terbelah.html 

Jumat, 17 Juni 2011

Isra’ Mi'raj, Kitab Mulia dan Kripto

ISRA’ MI'RAJ, KITAB MULIA DAN KRIPTO. by Arifin Mufti on Saturday, July 10, 2010 at 2:00pm di account Facebooknya.

“ Diakui beragam pemahaman tentang kisah Isra’ dan Mi'raj . Namun jika kita cermati pola bahasa Kitab Mulia dengan berbagai ‘isyaratnya’, maka kita akan dapat menyimpulkan – pada dasarnya kisah tersebut adalah Perjalanan Dimensi Ruang dan Waktu Antar Bintang - dari kawasan yang dekat (Tata Surya) ke kawasan Bintang yang ‘terjauh’, Sidratil Muntaha melewati Bintang Sirius (Asy Syi’ra). Kisah ini direkam pada penggalan sejumlah ayat pada Surat Bintang pula, sangat spesifik”.

Sabtu, 10 Juli 2010.

Klasifikasi: Sangat Rumit.

Saya diminta oleh sejumlah teman untuk menulis tentang kisah Isra’ Mi'raj yang diberitakan baik oleh Kitab Mulia dan Hadist (perkataan dan perbuatan Nabi) yang diriwayatkan para sahabatnya. Pada awalnya, enggan – karena sangat rumit dan penjelasannya cukup panjang. Tidak mudah dicerna.

Namun demikian, akhirnya penulis putuskan untuk mencobanya dengan merobah bahasanya menjadi lebih umum.

Baik kita akan mulai dengan pendekatan yang berbeda, dan belum tentu pembaca setuju semua. Karena memang tidak sederhana, bisa beragam penafsiran.

Dalam tradisi Yahudi. kisah seorang Nabi berwisata “naik kelangit”, bukan hanya dialami oleh nabi Muhammad saja. Tapi jauh sebelum itu, bahkan jauh sebelum Nuh as (Noah) 4500 tahun yang lalu. Nabi Idris as (Enoch atau Anuch) ditemani oleh seorang malaikat berkunjung ke langit (dmaknai langit-4), dimensi ruang dan waktu (DRW) lebih tinggi dari DRW kita, kemudian ke "Surga" serta melihat dan mencoba nikmatnya “di tempat yang tinggi” yang dimaknai Surga. Ini dicatat dalam berbagai catatan Kisah para Nabi dari Kaum Yahudi. Juga diisyaratkan dalam Kitab Mulia, walaupun sangat sumir, dalam pengertian hakiki (Maryam, 56-57).

Kisah dimulai dari kaum Quraish Makkah Saudi Arabia yang selalu tidak percaya informasi dari Nabi, dan menginginkan bukti-bukti yang aneh-aneh. Setelah dibuktikan, dianggap sihir.


Bagian dari Alam Semesta
Tahun 614 M, kaum Quraish menginginkan Bulan dibelah, dan itu dilayani oleh Nabi (Bulan, 01) dan sejumlah Hadist shahih (Bukhari, Ibnu Mas'ud, dan Anas). Mereka bertanya tentang perjalanan Dzulkarnain (Kisah Pendiri Imperium Persia Cirus The Great) serta kisah pemuda Nasrani dalam Gua, direspon oleh Nabi dengan baik. Tahun 618-620, mereka minta beberapa hal yang mustahil (Yang diperjalankan malam hari/ al Isra’, 90-93)

1. Memancarkan mata air dari bumi.
2. Meminta sebuah kebun kurma dan anggur, dengan air mengalir di bawahnya.
3. Meminta menghadirkan Allah beserta malaikat-malaikatnya..
4. Meminta sebuah rumah dari emas.
5. Yang terakhir, mereka meminta Nabi untuk "naik ke langit".

Permintaan terakhir dikabulkan oleh Allah swt, tahun 620/621 M, Nabi Muhammad naik kelangit – menjelajah ruang angkasa dari satu dimensi (KRW: Kontinum Ruang dan Waktu) ke dimensi lain, hingga dimensi tertinggi, langit ke-7. Dari kawasan Bintang terdekat (Matahari) ke kawasan Bintang Terjauh (Sidratil Muntaha), boleh jadi melewati Bintang Sirius – karena direkam dalam surat yang sama – surat Bintang – dan memiliki kombinasi kode (kripto) yang sama. Dalam waktu relatif singkat, waktu standar Bumi, relativitas waktu.

Perjalanan ini adalah perjalanan nyata, baik badan dan rohnya, karena ditegaskan dengan melihat kawasan Sidratil Muntaha (Tepi/Tempat Terjauh di Alam Semesta) dan Jibril as dalam wujud sebenarnya, dengan kata “ ra-aahu” (Bintang, 13-16). “ Ra’aahu” dan “yaara” bermakna melihat dengan indra mata lahir, fisik – bukan meta fisik, dan “yaraa” secara khusus (Bintang, 12) (Al Mishbah, Dr Quraish Shihab). Pengalaman fisik, bukan mimpi atau hanya roh. Penglihatannya tidak berpaling kemana-mana, karena terpesona melihat bukti kekuasaan Tuhan (Bintang, 17). Sebagaimana kita jika ditempat paling tinggi, puncak gunung misalnya, melihat panorama dibawahnya. Banyak hal yang mampu dilihat - apa lagi pada dimensi tertinggi.

Kata "bi 'abdihii" yang berarti "hamba-Nya" juga bermakna wujud nyata, fisik - bukan semata-mata roh. Lengkapnya, " Maha Suci Tuhan yang telah memperjalankan hamba-Nya (bi 'abdihii) pada suatu malam...." (Al Israa', 01).

“Apakah kamu membantahnya atas apa yang dilihatnya (yaraa)” (Bintang, 12).

Secara ringkas perjalanan Isra' Mi'raj dibagi dalam dua tahap :

1. Tahap satu disebut al Isra’ atau “Yang diperjalankan pada malam hari”, dari Makkah ke Yerusalem di Israel sekarang. Diceritakan dengan mengendarai “Buraq”, atau artinya “ cepat sekali, seperti cahaya kilat”. Hadist shahih, tidak menjelaskan spesifik hewan, apa lagi “kuda bersayap dengan kepala seorang wanita”. Tetapi adalah “binatang tunggangan atau alat transport dalam bahasa kini” yang ukurannya lebih kecil dari kuda dan lebih besar dari keledai”. Itu saja, tidak ada penjelasan lain. Kisah Isra' sendiri dicatat dalam Kitab Mulia berupa penggalan ayat pada surat Al Isra'.

2. Tahap kedua dari Bumi (kawasan Bintang Matahari) ke Sidratil Muntaha (kawasan Bintang terjauh di Alam Semesta) – didekatnya ada “Surga Tempat Hunian Yang Indah dan Nyaman” atau “jannatul ma-waa” (Bintang, 15). Salah satu lokasi terbaik pada Surga Tingkat Paling Atas. Perjalanan ini tidak menggunakan Buraq, tetapi dengan “Miraj” atau artinya “Alat dan Tempat untuk naik”. Suatu “alat”, entah apa detilnya, yang membantu perjalanan Nabi agar Perjalanan Yang Jauh ini berlangsung dengan cepat, singkat, selamat dan nyaman.

“M'iraj” adalah bentuk singular, dalam bentuk plural disebut “al Ma’arij”, atau “Alat-alat/Tempat-tempat untuk naik kelangit”. Merupakan judul surat tersendiri dalam Kitab Mulia. Para Malaikat dan Jibril as terbiasa menggunakan alat ini ketika pergi ke Sidratil Muntaha – karena merujuk penjelasan Dr Quraish Shihab – perjalanan kesana sangat jauh dan membuat lelah. Jibril as tidak menggunakan “sayapnya”, karena melelahkan dan “payah”, tetapi dengan “al Ma’arij”. Kecepatannya dalam bahasa teks Kitab Mulia adalah sama dengan “ Satu hari setara dengan 50.000 ribu tahun" (Qs, 70:04).

Lengkapnya, " Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun" (Qs, 70:04).

Namun ini belum bermakna apa-apa. Harus dikombinasikan dengan keterangan lain, dimana “1 hari sama dengan 1000 tahun perhitungan waktu Bumi”. (Haji, 47)

Nah, disini rumitnya. Kedua informasi tadi harus dikonversikan kedalam bahasa astronomi, supaya dapat dipahami dengan lebih baik.


Tata Surya
Singkat kata, dengan merujuk penjelasan ahli Fisika dari Mesir Professor Elnaby (A New Astronomical Qur’anic Method For The Determination Of The Greatest Speed , C”), Paul Dirac dan Paul Davies, menggunakan sistem kalendar Bulan atau Side Real – kecepatan jelajah “Mi'raj” adalah “1 hari sama dengan 16,392 miliar tahun cahaya”. Lebih mudah dipahami, dikonversikan ke jam, kecepatannya adalah 683 juta tahun cahaya per jam. Ini adalah gambaran yang diberikan Kitab Mulia, kecepatan "alat untuk naik" , yang biasa digunakan oleh para malaikat dan Nabi ke Sidratil Muntaha. Kita tahu, satu detik cahaya setara dengan 300.000 km.

Sebagai perbandingan, dari Bumi ke Matahari adalah 8 menit dengan kecepatan cahaya. Bintang terdekat, Alpha Centauri, sekitar 4,2 tahun cahaya. Dengan kecepatan 683 tahun cahaya per jam, menjadi tidak berarti apa-apa perjalanan yang jauh ini. Dengan kecepatan relatif mendekati cahaya saja, waktu sudah tidak sama lagi. Disuatu tempat, obyek yang bergerak, di alam semesta waktu terasa lama, tetapi mungkin di Bumi hanya singkat saja, atau sebaliknya. Di Bumi waktu sangat lama, tapi di suatu tempat hanya beberapa detik saja. (Paul Davies, About Time).

Tiap "langit" atau "as sama' " memiliki sejumlah KRW (Kontinuum Ruang dan Waktu), dimana hukumnya berbeda dengan apa yang kita kenal sekarang ini. Alam Semesta didefinisikan 11 Dimensi (Hyperspace - Michio Kaku), oleh sejumlah ilmuwan - kita masuk pada Dimensi ke-4 (3 ruang: panjang, lebar dan tinggi serta satu satuan waktu). Diatasnya ada 7 Dimensi Ruang yang berbeda, detilnya seperti apa - pengetahuan kita belum sampai kesana.
Dalam bahasa lebih sederhana, Kitab Mulia memberi isyarat, bahwa langit terbagi dua: (1) Langit dekat (Dunya) dihiasi dengan Bintang, gugusan Bintang dan "Musobiha", atau fenomena alam berupa Bintang yang sangat masif, sekarat dan meledak (Hypernova). (2) Langit jauh dan lama (Akhirat), terbagi menjadi tujuh langit atau Tujuh Dimensi Ruang. Sukar dipahami.

Inilah yang digambarkan oleh Kitab Mulia, melengkapi kisah Isra’ dan Miraj Nabi.


Bahasa Kripto Isra' Mi'raj Nabi.

Kitab Mulia selalu melengkapi isi dan makna sebuah ayat atau surat dengan bahasa kripto atau sandi, untuk meneguhkan bahwa itu benar, yang tentu saja hanya dapat dipahami oleh pembaca yang memang khusus mempelajari hal tersebut. Tujuan akhirnya adalah, “memberi keyakinan kepada pembaca yang beriman supaya menjadi lebih beriman” dan melengkapi keterangan bahasa teks.

Dibawah ini kita ambil contoh bahasa kripto yang sederhana:

1. Ketika firman Illahi menjelaskan “langit” (Dimensi Ruang) diatas kita ada 7. Angka 7, memang benar 7. Kitab Mulia mencatatnya 7 kali dalam 7 surat, 7 ayat. Angka bilangan Prima.
Yaitu: (Qs, 02:29), (Qs, 17:44), (Qs, 23: 86) (Qs, 41:12), (Qs, 65:12), (Qs, 67:03), dan (Qs, 71:15).

Contohnya: “Langit yang tujuh, Bumi dan semua bertasbih kepada Allah….” (Qs, 17:44).

Susunan surat dan nomor ayat ini memiliki kode utama 19, angka bilangan prima, yang menunjukkan posisi surat dan nomor ayat yang sangat sistematis.

Perhatikan nomor surat, susunannya: 2 1 7 2 3 4 1 6 5 6 7 7 1, bilangan ini merupakan bilangan kelipatan 19, karena 2172341656771 adalah 19 x 114333771409.

Nomor ayatnyapun demikian, susunannya: 2 9 4 4 8 6 1 2 1 2 3 1 5. Bilangan ini juga kelipatan 19, karena 2944861212315 adalah 19 x 154992695385.

Ingat, kode shalatpun merupakan bilangan kelipatan 19!

Kodenya 5 digit, yaitu 2 4 4 3 4, atau 19 x 1 2 8 6. Dimana angka 2 adalah jumlah rakaat shat subuh, angka 4 adalah jumlah rakaat shalat dzuhur, dan seterusnya.
Luar biasa bukan?.

2. Ketika berbicara al Isra’, maka judul surat ini ditempatkan pada nomor surat 17, karena berhubungan dengan banyaknya rakaat shalat dalam Islam, 17 rakaat. Perintahnya turun pada saat Is'ra dan Mi'raj. Bilangan Prima juga.

3. Ketika berbicara Mi'iraj dan perjalanan antar Bintang, Kitab Mulia juga menggunakan bilangan prima sebagai kodenya, yaitu angka 17. Perhatikan, posisi surat Bintang (53), kesurat Al Ma’arij (70), dan para Malaikat menghadap Al A’laa (Yang Maha Tinggi) ke Sidratil Muntaha, posisi surat (87). Semuanya berbeda 17 surat. Kita mengetahui, bahwa angka 17 adalah banyaknya jumlah rakaat shalat bagi Muslim yang beriman yang diperintahkan melalui Muhammad ketika di Sidratil Muntaha. Angka 5 dan 17 adalah bilangan prima dalam matematika.

Posisi suratnyapun demikian, tidak ada makna apa-apa. Tetapi jika ditambahkan dengan angka 17, maka terbentuklah kode angka 7 berupa 8 digit: 5 3 7 0 8 7 1 7. Disbut kode, karena bilangan tersebut merupakan kelipatan 7, atau 5 3 7 0 8 7 1 7 = 7 x 1 2 5 2 9 3 3 9.

4. Semua yang bermakna Bintang, dikombinasikan dengan posisi surat, dan nomor ayat pada surat Bintang memiliki kode utama 7. Karena bilangan tersebut habis dibagi oleh 7, ingat 7 langit. Dalam 14 digit yang rumit.

Perhatikan:


Bintang Sirius, terdapat pada surat Bintang.
Surat Bintang posisi surat nomor 53, yang bermakna Bintang ada 4 ayat, nomor 1,9,14, dan 49, yaitu, dengan demikian kode 14 digit adalah 5 3 1 5 3 9 5 3 1 4 5 3 4 9. Disebut kode, karena bilangan tersebut merupakan bilangan khusus kelipatan 7, atau sama dengan
7 x 7 5 9 3 4 2 1 8 7 7 9 0 7.

Kita tahu, bahwa kode PIN ATM atau kartu kredit kita hanya 6 digit saja, dan sangat sederhana. sedangkan digit diatas jauh lebih rumit, karena menggambarkan makna, posisi surat dan nomor ayat.


Angka 5 3 adalah nomor surat, angka 1 adalah nomor ayat – bintang tersembunyi atau terbenam, maksudnya Sirius. Angka 9, adalah nomor ayat yang menjelaskan bentuk orbit Sirius, Bintang Ganda, berupa dua busur panah. Angka 49, adalah Bintang Sirius dan angka 14 adalah nomor ayat “kawasan Bintang Sidratil Muntaha di langit-ke7.

Tuhan mengajari kita bahasa matematika.

Melihat rumitnya kisah Isra’ dan Miraj, maka kita dapat memahami – mengapa respon Muslim terhadap kisah ini memiliki tafsir yang beragam. Bagaimanapun juga, dasar utamanya adalah perjalanan spiritual, pembuktian kekuasaan Tuhan untuk menjalankan seorang Nabi “naik kelangit”, akidah, ibadah dan pelajaran bagi pembaca adanya isyarat tentang sains modern, yang tidak terbayangkan. Relativitas waktu Eisntein dan perjalanan antar dimensi.

Dalam beberapa tahun kedepan, pemahaman seperti ini, akan lebih mudah diterima pembaca Muslim.

Semoga bermanfaat.

Salam
Arifin Mufti, Bandung, West Java.
Indonesia.

Buku dan artikel Terkait:

1. Pemerintahan Tuhan, Arifin Mufti
2. Surat Bintang, artikel Arifin Mufti di Notes.
3. Berbagi artikel Kripto Al Qur’an, Arifin Mufti
4. About Time, Paul Davies
5. (A New Astronomical Qur’anic Method For The Determination Of The Greatest Speed , C”), Profesor Fisika Elnaby , Mesir
6. Hyperspace, Michio Kaku
7. Tafsir Al Mishbah, Dr Quraish Shihab dan Tafsir-tafsir Maududi (Ulama Pakistan).


Senin, 13 September 2010

UFO: Manusia dari Bumi lain?

Cukup tercenung dengan salahsatu kutipan pak Bambang Pranggono di account FB nya mengenai ucapan Ibnu Abbas: "There are many earths, and there are ka'aba in each of them".  
Screen capture dari nota yang dimaksud
Kalau ini adalah kutipan hadist Rasulullah SAW, maka sebenarnya ini bisa jadi jembatan yang menarik dalam mempelajari Ufologi. Alih-alih menduga banyak hal mengenai siapakah Ufonaut dan darimanakah para Ufonaut itu berasal, kutipan tersebut bisa memberikan suatu gambaran yang lebih jelas, bahwa Ufonaut adalah "manusia" namun dari bumi (planet) yang lain.


Setara juga dengan ayat dalam surat Al-Fatihah "Alhamdulillahirabbil alamin"; yang banyak ditafsirkan sebagai  "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam", padahal bisa juga diterjemahkan menjadi "... Tuhan semua alam dalam kaitannya sebagai "dunia", atau "God of all Universes". Jadi jika dalam pandangan yang lebih konservatif "alam" disini mencakup alam fana, alam ruh, alam akhir, dan lain-lain yang berada dalam satu garis perjalanan, sedangkan dalam paham yang lebih saintis, "alam" disini lebih ditujukan kepada "bumi", alias beragam bumi yang ada di alam semesta ini.


Kenapa manusia? Karena masih terkait dengan sumber tulisan ini diatas, maka jika ditinjau dari sudut pandang Islam, mereka yang diciptakan dengan akal pikiran serta diwajibkan untuk menyembahNya hanyalah jin, dan manusia. Dan dengan adanya Ka'bah di tiap bumi mereka, menunjukkan kalau penghuni bumi tersebut memiliki kiblat untuk sholat, yang berarti bahwa syiar Islam juga telah mencapai mereka. Walaupun ini tidak jaminan bahwa mereka semua muslim yah, karena kasusnya pasti sama bagi mereka yang diberi kemampuan berpikir; memiliki juga kemampuan memilih.

Kalau apakah Ufonaut itu malaikat saya agak ragu, terutama karena banyak kisah UFO bisa ditembak jatuh dan penghuninya sama lemahnya dengan manusia dalam hal fisik. Walaupun mungkin saja ada sebagian malaikat yang memiliki kendaraan yang masuk dalam kategori UFO, kita belum tahu.

Adapun "manusia" yang dimaksud, bukanlah manusia yang dalam terminologi biologisnya dikenal sebagai homo sapiens sapiens, melainkan "manusia" dalam terminologi bahwa mereka adalah mahluk humanoid yang sama-sama ciptaanNya, sama-sama cerdas dan sama-sama memiliki kemampuan untuk menciptakan teknologi canggih. Hanya saja dalam hal ini Bumi kelihatannya ada dalam posisi "anak bawang"; tapi bukannya tidak mungkin suatu saat akan tiba masanya kita yang jadi Ufonaut dan menjelajah bumiNya yang lain yang masih primitif.

Wallahualam. Tulisan ini hanyalah baru sekedar "guesstimate", dan harus ditindaklanjuti dengan riset yang lebih mendalam jika ingin menghasilkan kesimpulan yang lebih membulat. Ada yang mau berkomentar? (bay)

Jumat, 07 Agustus 2009

Teknologi Teleportasi di Jaman Nabi Sulaiman

Pengantar:
Tulisan ini dibuat oleh rekan Elfarid dari "Sanggar Mewah" (Mewah = Mepet Sawah), mengenai petunjuk adanya teknologi teleportasi di masa silam pada ayat-ayat Al Qur'an. Menarik untuk ditelaah lebih lanjut (bay)

Tulisan ini masih berkaitan dengan tulisan tentang Nabi Sulaiman sebelumnya. Kisah nabi Sulaiman memindahkan singgasana Ratu Balqis dari negeri Saba’ ke negeri Palestina yang berjarak 2.000 km dalam hitungan detik memancing pemikiran kta untuk mengetahui bagaimana teknik pemindahan singgasana tersebut.

Seperti tercantum dalam Al Qur’an Surat An Naml:

38. Berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri."

39. Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya."

40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[1097]: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia."

Keterangan

[1097]. Al Kitab di sini maksudnya: ialah Kitab yang diturunkan sebelum Nabi Sulaiman ialah Taurat dan Zabur.

Dari pembesar-pembesar anak buah Nabi Sulaiman baik dari kalangan jin dan manusia diberi tantangan untuk memindahkan singgasana Ratu Balqis. Jin Ifrit menyanggupi memindahkan dengan waktu sebelum Nabi Sulaiman berdiri. Tetapi kemampuan jin Ifrit itu dipatahkan oleh seorang yang berilmu (ilmuwan) bernama Asif bin Barkhiya dengan menyanggupi memindahkan singgasana yang letaknya 2.000 km dari Palestina sebelum mata berkedip!

Sekali mata manusia berkedip dalam hitungan detik sedang Asif bin Barkhiya menyanggupi sebelum mata berkedip atau kurang dari satu detik! Kecepatan itu hanya mampu ditandingi oleh kecepatan cahaya. Ini adalah petunjuk penting bahwa pemindahan singgasana ratu Balqis menggunakan teknologi yang sangat maju disebut teleportasi. Teknologi pemindahan materi jarak jauh.

Dari kecepatannya dapat dipastikan teknologi tersebut lebih cepat dari jin Ifrit. Satu-satunya yang mungkin yaitu teknologi dengan memanfaatkan cahaya atau sinar sebagai media untuk teleportasi tersebut. Bisa saja teleportasi dengan sinar laser sudah ada di jaman tersebut sehingga urusan memindahkan singgasana dalam hitungan detik pun hal yang mudah.

Kalau ada yang membantah dan mengatakan itu adalah sihir maka di dalam Al Qur’an pun sudah dibantah. Lihat Surat Al Baqarah ayat 102:

102. Dan mereka mengikuti apa[76] yang dibaca oleh syaitan-syaitan[77] pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat[78] di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya[79]. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

Keterangan:

[77]. Syaitan-syaitan itu menyebarkan berita-berita bohong, bahwa Nabi Sulaiman menyimpan lembaran-lembaran sihir (Ibnu Katsir).

[78]. Para mufassirin berlainan pendapat tentang yang dimaksud dengan 2 orang malaikat itu. Ada yang berpendapat, mereka betul-betul Malaikat dan ada pula yang berpendapat orang yang dipandang saleh seperti Malaikat dan ada pula yang berpendapat dua orang jahat yang pura-pura saleh seperti Malaikat.

[79]. Berbacam-macam sihir yang dikerjakan orang Yahudi, sampai kepada sihir untuk mencerai-beraikan masyarakat seperti mencerai-beraikan suami isteri.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum Yahudi berkata: "Lihatlah Muhammad yang mencampur-baurkan antara haq dengan bathil, yaitu menerangkan Sulaiman (Nabi) digolongkan pada kelompok nabi-nabi, padahal ia seorang ahli sihir yang mengendarai angin." Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (S. 2: 102) yang menegaskan bahwa kaum Yahudi lebih mempercayai syaitan daripada iman kepada Allah SWT. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Syahr bin Hausyab.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Yahudi bertanya kepada Nabi SAW beberapa kali tentang beberapa hal dalam Taurat. Semua pertanyaan mengenai isi Taurat, dijawab oleh Allah dengan menurunkan ayat. Ketika itu mereka menganggap bahwa ayat tersebut dirasakan sebagai bantahan terhadap mereka. Mereka berkata dengan sesamanya: "Orang ini lebih mengetahui daripada kita tentang apa yang diturunkan kepada kita." Di antara masalah yang ditanyakan kepada Nabi SAW ialah tentang sihir. Dan mereka berbantah-bantahanlah dengan Rasulullah tentang hal itu. Maka Allah menurunkan ayat ini (S. 2: 102) berkenaan dengan peristiwa tersebut. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abil-'Aliah.)

Asif bin Barkhiya merupakan ilmuwan yang menguasai teknologi teleportasi, bukan ilmu sihir karena sihir selalu menggunakan jin. Sedangkan jin Ifrit yang merupakan jin cerdik pun tidak bisa mengalahkan teknologi itu. Teknologi tinggi bagi orang yang tidak menguasai pun laksana sihir. Seperti di jaman sekarang pun teknologi masih sangat menakjubkan bagi orang awam yang tidak tahu cara kerjanya. Kesimpulannya yaitu teknologi teleportasi sudah dikuasai ilmuwan di jaman Nabi Sulaiman. Tantangan bagi manusia jaman kini untuk kembali menguasasi teknologi itu.

Wallahu ’alam bishawab.

Sragen, 27 September 2007

elfarid

Source: http://elfarid.multiply.com/journal/item/243