Rabu, 27 Juni 2012

Petunjuk Al-Qur’an Tentang Makhluk Berakal di Luar Planet Bumi (PengajianBremen)

Oleh: Bpk. Yudi N. Ihsan (sumber)

Al-Qur’an merupakan mu’jizat terbesar sepanjang masa. Pertamakali dibukukan di jaman Khalifah Abu Bakr, lalu pembukuannya disempurnakan di jaman Khalifah Umar bin Khathab. Sedangkan di jaman Khalifah Utsman mulai ditetapkan bentuk hurufnya serta diperbanyak sehingga dikenal istilah Rosam Utsmani. Ilmu tata bahasa al-Qur’an (nahwu dan sharaf) mulai diperkenalkan di jaman khalifah Ali bin Abi Thalib.

Salah satu keistimewaan al-Qur’an adalah memungkinkan penafsirannya yang terus berkembang dan selalu up to date. Salah satu contohnya adalah yang terdapat di dalam surat Ar-Ra’du (13) ayat 15.
Dan hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) “Man” yang ada di langit dan di Bumi, baik dengan kemauan sendiri (taat), ataupun terpaksa, begitupula bayang-bayangnya (ikut sujud) di pagi dan petang hari (QS 13:15).

Ayat tersebut menjelaskan adanya “Man” di langit dan di Bumi. Lalu siapakah yang dimaksud “Man” di dalam ayat ini?

  1. Di dalam tata bahasa al-Qur’an (arab) “Man” menunjukan makhluk yang diberi akal. Sedangkan makhluk berakal yang diciptakan Allah swt ada 4, yaitu: Malaikat, Iblis, Jin, dan Manusia. Oleh sebab itu makhluk-makhluk lain seperti binatang, tumbuhan, atau benda mati tidak bisa disebut “Man” tetapi disebut “Maa”. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka “Man” bermakna “Siapa” dan “Maa” bermakna “Apa”
  2. Ciri-ciri “Man” yang dimaksud di dalam ayat di atas adalah:
    a) Sujud dengan taat kepada Allah;
    b) Sujud dengan terpaksa kepada Allah; dan
    c) Memiliki bayang-bayang.
    Ayat tersebut berbunyi: Walillahi yasjudu Man fi ssamaawaati wal ardhi, jika diterjemahkan menjadi: Dan kepada Allah “Man” di langit dan di Bumi bersujud/beribadah. Itu bunyi paraghraf pertama dari ayat tersebut. Paraghraf ini menjelaskan adanya “Man” di langit dan di Bumi yang bersujud/beribadah kepada Allah. Lalu dilanjutkan dengan kalimat: Thou’an wa karhan wa dzilaluhum…., jika diterjemahkan menjadi: Taat, dan terpaksa, dan bayang-bayang mereka…… Paraghraf ini menjelaskan cirri-ciri “Man” yang dimaksud pada paraghraf pertama. Bahwa sujud/ibadahnya si “Man” yang dimaksud di atas kadang kala taat, kadang terpaksa, dan mereka memiliki bayang-bayang
  3. Perlu diketahui lagi bahwa kata As-samaawaati pada ayat tersebut berbentuk jamak. Sehingga menjadi petunjuk bahwa “Man” yang berada di luar planet Bumi akan tersebar di banyak planet lain
  4. Jika melihat ciri-ciri tersebut diatas maka tidak mungkin yang dimaksud “Man” di dalam ayat tersebut adalah Malaikat, karena Malaikat selalu patuh kepada Allah, tidak pernah terpaksa, dan tidak memiliki bayang-bayang
  5. Juga tidak mungkin yang maksud “Man” di dalam ayat tersebut adalah Iblis, karena Iblis tidak pernah taat kepada Allah serta tidak memiliki bayang-bayang
  6. Dan tidak mungkin pula yang dimaksud “Man” di dalam ayat tersebut adalah Jin. Walaupun ada Jin yang taat dan terpaksa, tetapi Jin tidak memiliki bayang-bayang
  7. Maka yang dimaksud dengan “Man” pada ayat tersebut adalah makhluk seperti manusia. Yaitu mahkluk yang kadang kala taat, atau terpaksa serta memiliki bayang-bayang. Oleh sebab itu, ayat tersebut menjadi petunjuk adanya makhluk berakal seperti manusia di luar planet Bumi.
Disamping “Man”, di luar planet Bumi pun Allah swt pun menciptakan “Maa” dari kelompok binatang melata. Sebagaimana firman Allah swt di dalam surat An-Nahl (16) ayat 49.

Dan hanya kepada Allah-lah sujud “Maa” yang melata yang ada dilangit dan “Maa” yang melata yang ada di Bumi. Dan para Malaikat, dan mereka tidak menyombongkan diri. (QS 16:49).

Ayat tersebut menjelaskan adanya “Maa” dan “Malaikat” di langit dan di Bumi yang selalu sujud kepada Allah serta tidak sombong. Pada ayat ini tidak ada istilah terpaksa, sebagai bukti bahwa Malaikat dan “Maa” selalu sujud dengan taat kepada Allah swt.

Mengakhiri pembahasan tentang makhluk di luar Bumi maka silahkan simak firman Allah swt di dalam surat Asy-Syura (42) ayat 29.

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah menciptakan langit dan Bumi dan “Maa” yang melata yang Ia sebarkan pada keduanya. DAN IA MAHA KUASA UNTUK MENGUMPULKAN (MEMPERTEMUKAN) SEMUANYA (MAKHLUK LANGIT DAN BUMI) APABILA IA BERKEHENDAK (QS 42:29).

Ayat tersebut menjadi petunjuk adanya kemungkinan pertemuan (interaksi) antara manusia yang ada di langit dengan manusia yang ada di Bumi bahkan kemungkinan saling berjodoh, tentunya jika Allah swt sudah berkehendak. Wallahu a’lam bishowab.

Sumber: Blog Pengajian Bremen

Senin, 18 Juni 2012

Beberapa Kemungkinan Identitas dan Asal-Usul UFO & Alien dalam Islam

Seiring ketertarikan mengenai kemungkinan terdapatnya informasi mengenai identitas dari UFO & Ufonaut di dalam sumber-sumber literatur Islam, terutama Al-Qur'an dan Hadist, penulis menggagas berdirinya grup Islamic UFO di Facebook untuk mendukung proses pengkajian ini. Sebagai anggota awal ditarik anggota-anggota diskusi dari grup BETA-UFO yang memiliki ketertarikan dalam topik UFO & Islam.

Alhamdulillah, dalam waktu relatif singkat sudah tersusun beberapa hipotesa awal mengenai identitas UFO seperti terurai di bawah ini. Hipotesa-hipotesa ini ini diambil dengan berasumsi bahwa fenomena UFO adalah nyata, UFO bukan buatan Manusia Bumi, dan Ufonaut (pengendara UFO) adalah mahluk cerdas yang berasal dari luar planet Bumi, sehingga sejajar dengan istilah "Aliens" dalam terminologi populer.

Hipotesa Identitas dan Asal-Usul UFO & Alien dalam Islam

01. Bani Adam Hypothesis (BAH)

BAH menduga bahwa Aliens adalah manusia keturunan Adam AS yang pada suatu masa di jaman silam memperoleh teknologi perjalanan luar angkasa, kemudian mengkolonisasi planet lain di luar angkasa dan berevolusi di sana. Dugaan ini sendiri muncul dengan banyaknya ditemui Alien yang memiliki wujud mirip manusia, terutama dari jenis "Nordic".

Hipotesa ini muncul dengan axiom bahwa Adam AS adalah manusia cerdas pertama di alam semesta, bukan hanya di planet Bumi, dikaruniaiNya rahasia teknologi sejak masa awal diciptakan, mahluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna, juga mengartikan status Islam sebagai "rahmat bagi segenap alam" sebagai indikasi bahwa Islam diturunkan di Bumi, namun berlaku universal hingga ke planet-planet lain.

Hipotesa ini menduga bahwa pada suatu masa di masa lampau Manusia Bumi telah menguasai teknologi penjelajahan angkasa, dan sebagian dari mereka sekarang telah menjadi ras yang mampu bepergian antar galaksi.

02. Pre Human Hypothesis (PHH)

PHH menduga bahwa Aliens adalah mahluk mirip manusia yang Allah SWT telah ciptakan sebelum Adam AS, mengacu diantaranya pada QS 02:30 dimana Malaikat terlibat dialog dengan Allah SWT, dengan indikasi seakan-akan pada masa tersebut telah ada stereotyping untuk mahluk dengan desain mirip Manusia yang hendak Allah SWT ciptakan sebagai khalifah di Bumi tersebut.

Hipotesa ini muncul dengan penafsiran bahwa QS 02:30 secara spesifik mengkisahkan penciptaan Manusia sebagai manusia pertama di planet Bumi, namun bukan di alam semesta, dan menyempitkan arti dari "Manusia" dalam kosmologi Islam sebagai Homo Sapiens (manusia modern). Adapun pemahaman dari hipotesa ini mengenai kesempurnaan manusia adalah lebih terkait kepada desain dan proses penciptaan, namun diluar dari itu manusia sangat bergantung pada ikhtiar untuk mencapai kemajuan, termasuk dalam hal penguasaan teknologi.

Hipotesa ini beranggapan adanya jejak penguasaan teknologi tingkat rendah oleh ras-ras manusia selain Homo Sapiens (Cro Magnon, Homo Neandethal, dll.) sebagai indikasi bahwa Adam AS bukanlah Manusia cerdas (bisa berpikir) pertama di Bumi sekalipun, namun suatu ras manusia baru yang disempurnakan, yang didaulatNya untuk menjadi khalifah (pemimpin, pengelola) dari planet Bumi.

03. Dabbah Hypothesis (DH)

DH menduga Aliens adalah salahsatu jenis "dabbah" yang Allah SWT sebutkan beberapa kali di dalam Al-Qur'an, namun tidak dijelaskan lebih spesifik karakteristiknya, serta termasuk dalam jenis ciptaan Allah SWT yang kita hanya diberikanNya sedikit saja informasi mengenai keberadaannya.

04. Man Hypothesis (MH)

MH menduga Aliens adalah "man" dalam bahasa Al-Qur'an sebagaimana tercantum salahsatunya dalam QS 13:15. Walaupun "Man" kemungkinan besar termasuk "dabbah", namun ia memiliki pengertian yang lebih spesifik, yaitu mahluk cerdas yang diberikan Allah SWT akal pikiran, tuntunan Dien (Agama), kewajiban beribadah, serta kemampuan untuk memilih.

05. Jin Hypothesis (JH)

JH menduga Aliens adalah kalangan Jin yang memiliki teknologi tinggi, sebagaimana tersirat dalam tafsir dari ayat-ayat Al-Qur'an mengenai kemampuan kaum ini dalam menuntaskan beragam pekerjaan canggih pada masa kerajaan Nabi Sulaiman AS.

06. Permanent Ghaib Hypothesis (PGH)

PGH menduga kalau fenomena UFO & Alien adalah satu dari apa yang Allah SWT firmankan bahwa Allah menciptakan apa yang manusia ketahui, dan tidak ketahui; dan dalam hal ini akan tetap tidak manusia ketahui, hingga akhir masa nanti.

07. Satanic Trick Hypothesis (STH)

STH menduga fenomena Alien & UFO itu sebenarnya tidak nyata, dan keseluruhan fenomena UFO adalah sekedar tipu-daya Iblis dan Setan.

Hipotesa ini muncul karena tidak adanya ayat-ayat Al-Qur'an yang secara spesifik menyatakan adanya mahluk cerdas lain selain manusia di luar angkasa sana.

Hipotesa ini juga dipengaruhi kuat oleh karya-karya penulis Islam yang banyak mengkaitkan fenomena UFO dengan Jin, Segitiga Bermuda, dan bahwa kerajaan Iblis terletak di Segitiga Bermuda, sehingga muncul anggapan bahwa keseluruhan fenomena UFO tak lain adalah tipuan Iblis dengan kaki-tangannya para Setan, untuk menyesatkan ummat manusia dengan beragam informasi tak benar yang terkait dengan fenomena ini.

Penutup


Secara umum BAH, PHH, DH, MH, JH, mengartikan "samaa" dan "samawaat" bukan sebagai "langit (surga)" dan "bumi (dunia)", namun lebih kepada "langit (atmosfer)" dan "planit berpenghuni", sedangkan PGH dan STH keduanya bersifat pro-status-quo yang mendukung tidak perlunya fenomena UFO ini dipelajari.

Adapun keseluruhan hipotesa ini masih merupakan "Work in Progress (WIP)", alias pekerjaan yang masih dalam proses, dan belum merupakan hasil akhir. Sebagaimana fitrahnya pengembangan suatu hipotesa dalam suatu penelitian ilmiah, maka sebagian dari hipotesa ini akan gugur, sedangkan sebagian lainnya mungkin akan bisa dikembangkan menjadi suatu teori, atau postulat; atau semuanya salah total. (byms)

Sumber tulisan: https://www.facebook.com/groups/islamicufo/326654534062682/

Rabu, 25 April 2012

Keaslian foto UFO di Kebumen Selatan, 26 February 1932

Sudah beberapa waktu ini beredar gambar diantara situs-situs yang memuat artikel mengenai pemunculan UFO di Indonesia, yang konon berasal dari Kebumen Selatan, 26 February 1932 sebagai berikut:



Adapun saya, selama aktif di BETA-UFO merasa tidak pernah menemukan foto serupa dari penampakan-penampakan UFO di Indonesia yang lebih tua dari penampakan UFO di Gunung Agung, Bali, 17 Agustus 1973, tergerak untuk mencari tahu mengenai keabsahan dari foto tersebut.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, ketahuanlah bahwa ternyata foto tersebut bukan berasal dari Kebumen Selatan, 16 February 1932, melainkan dari Trindade Island, Brazil, 16 January 1958 (sumber).

Kerancuan yang muncul sendiri, rupanya terjadi karena banyaknya situs-situs blog yang menulis mengenai sejarah penampakan UFO di Indonesia, namun seringkali hanya saling copy satu sama lain tanpa ada upaya untuk melakukan verifikasi lebih lanjut, atau sekedar pilih acak foto UFO yang tidak terkait, namun dianggap sebagai foto dari salahsatu penampakan UFO di Indonesia oleh penyalin konten berikutnya.

Jika anda tertarik untuk mengetahui foto-foto penampakan UFO terkini dari Indonesia, silakan kunjungi bagian gallery dari situs web BETA-UFO di alamat berikut ini: http://www.beta-ufo.org/foto-ufo. (byms)
Enhanced by Zemanta

Jumat, 23 Maret 2012

Berburu UFO: Malam Sebelum Nyepi 1934 Saka

Seperti yang sudah pernah saya posting sebelumnya, Hari Raya Nyepi di Bali menawarkan suatu kondisi yang sangat ideal bagi para pemburu UFO untuk meningkatkan kemungkinan mereka mendapatkan penampakan UFO. Hal ini terkait dengan nol-nya gangguan cahaya dari oermukaan Bumi pada saat malam hari, sehingga jika langit sedang cerah maka segala macam penampakan benda angkasa bisa dengan jelas teramati, tanpa harus jauh-jauh mengasingkan diri menyingkir dari peradaban.

Di ajang Hari Raya Nyepi tahun 2012 ini sebenarnya kami rencanakan untuk menginap di lokasi yang berdekatan dengan gunung atau tepi pantai dengan harapan memperoleh pandangan yang luas ke langit terbuka, sekaligus malam yang cerah. Namun karena keterbatasan sarana transportasi maka niatan ini terpaksa kami urungkan. 

Adapun untuk menginap di hotel di dalam kota Denpasar sendiri tidak menawarkan kelebihan khusus, selain dari kebebasan berkeliaran di dalam kompleks hotel, plus fasilitas yang bisa dinikmati; tidak berbeda jauh dengan menyepi di kediaman kami sendiri. Beberapa hotel dengan akses roof-top sempat menjadi incaran kami, namun karena tidak menemukan paket yang sesuai harapan maka rencana inipun kami batalkan. Rencana berburu UFO pun kembali dilakukan dari pekarangan kediaman kami sendiri saja.

Malam sebelum Nyepi, saat masyarakat Bali sebagian masih asik berkumpul di jalan-jalan protokol untuk menyaksikan ajang langka setahun sekali; pawai Ogoh-Ogoh, saya dan isteri justru meluangkan waktu untuk mengamati langit, mencari-cari penampakan yang diharapkan.

Dan benar saja... pada sekitar pukul 8 malam WITA, di ketinggian langit malam yang malam itu luar biasa cerah, kembali kami saksikan obyek cahaya tunggal mirip bintang putih kemerahan bersinar redup dan berkelana dengan karakteristik penampakan, jalur, maupun kecepatan yang tidak seperti pesawat terbang komersial yang sering melintas di langit Denpasar.

Obyek teramati pada posisi langit tegak di atas kepala, bergerak dengan kecepatan sedang ke arah utara, dengan agak berkelok. Pada posisi sekitar 1/4 dari puncak langit, obyek meredup dan menghilang, namun kembali tampak dengan kecerahan semula pada posisi agak ke timur, kemudian teramati berkelana kembali ke arah selatan, ke arah pertama kalinya ia teramati. 

Sayangnya setelah kami masuk ke dalam rumah untuk mengambil pena laser, untuk mencoba memancing reaksi dari bintang berjalan tersebut, obyek sudah tidak teramati lagi di langit. Upaya kami untuk mencari obyek sama di jam-jam berikutnya pun tidak membuahkan hasil.

Sasaran waktu berikutnya adalah menjelang dan sesaat setelah matahari terbenam di malam Nyepi hari ini (peralihan terang ke gelap), mencoba mengulang keberhasilan malam Nyepi 2010 lalu saat kami mendapati setidaknya tiga penampakan obyek asing di angkasa. 

Selamat Hari Raya Nyepi, Tahun Baru Saka 1934. (byms)
Enhanced by Zemanta

Senin, 19 Maret 2012

Lingkaran merah biru memutar teramati di Karanganyar, Jawa Tengah, Oktober 2011

No. 1110xx-01-u-karanganyar-jateng
Timestamp:  11/2/2011 22:53:22 (mm/dd/yy)
Nama Pelapor: Rahasia
Profesi: Rahasia
Deskripsi penampakan:  Lingkaran berwarna biru merah dengan merah memutar, sering terlihat tiap subuh. kadang bergerak dari timur jauh ke barat terus belok ke utara dan bergerak jauh. dan  pernah menemui hanya muter2 di atas langit saja. berada di langit agak tinggi. cahaya dari jauh birunya sangat terang. tp masih ragu apa itu layang2 atau bukan, soalnya bergerak dari timur jauh ke barat terus belok ke utara dan jauh.
Bentuk UFO:  Piringan, Lingkaran
Lokasi penampakan:  Palur, Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah
Waktu penampakan: 04:00 Pagi (subuh)
Lama penampakan: cepat (bergerak) & lama (muter2)
Tanggal penampakan: Minggu2 akhir bulan oktober 2011
Saksi Mata: Dua
Pengalaman pertama: Ya
Data pendukung:
Informasi lainnya:  Anehnya di langit tinggi dan muncul tiap subuh, ada perkiraan ada 2 benda.. yg pertama dan bergerak dari timur dan belok saya aneh, cz seperti pesawat bergerak tp bentuk lingkaran. sedangkan yang muter2 kyk layang2.. 2 penampakan itu berada dihari yang berbeda tp seringnya yang bergerak