Tampilkan postingan dengan label penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penelitian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Maret 2012

Benarkah Bulan pernah terbelah dua?

Dalam sebuah thread diskusi di FB group BETA-UFO, pertanyaan benarkah Bulan pernah terbelah dua ini sempat terlontar. Setelah ditelaah lebih lanjut, ternyata pertanyaan ini termasuk pertanyaan populer di Internet, dan telah beredar selama beberapa waktu.

Pertanyaan ini sendiri muncul akibat adanya desas-desus yang menginformasikan telah ditemukannya bukti ilmiah oleh tim ekspedisi Apollo bahwa Bulan pernah terbelah hingga ke perutnya, yang mana berarti mengkonfirmasi kebenaran dari salahsatu mujizat Nabi Muhammad SAW, yaitu terbelahnya Bulan menjadi dua:
"Bulan terbelah menjadi dua pada masa Rasulullah SAW, lalu Rasulullah SAW bersabda: Saksikanlah oleh kalian". ~ HR Abdullah bin Masud ra, Shahih Muslim No.5010.
Peristiwa terbelahnya Bulan ini disinggung pula dalam Al-Qur'an surah Al-Qamar ayat 1:
 اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
“Telah dekat (datangnya) Kiamat dan telah terbelah bulan.” (QS. Al Qamar: 1)
Polemik muncul ketika apa yang dianggap sebagai bukti ilmiah yang membuktikan mujizat Rasulullah SAW ini benar pernah terjadi, dan bahwa Kiamat telah dekat, dianggap oleh sebagian pihak sebagai hoax, atau tipuan yang disengaja untuk memberikan persepsi yang salah.

Untuk mencegah disinformasi, dan malah berbalik merugikan ummat muslim, maka ada baiknya kita telaah kebenaran dari klaim ini dengan menjustifikasi kebenaran dari klaim yang dibuat tersebut.

Asal-muasal isyu: Artikel mengenai cerita Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, atas kesaksian Daud Musa Pitkhok

Dari beragam artikel di internet yang bisa dilacak via Google, semuanya merujuk pada suatu kisah yang diceritakan oleh Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, atas cerita Al-Hizb Al-Islamy atau Daud Musa Pitkhok, mengenai suatu acara perbincangan di TV BBC Inggris yang diikuti oleh pewawancara, beserta tiga narasumber ahli Astronomi dari Amerika Serikat. Salahsatu dari tiga ahli Astronomi AS ini kemudian konon menyatakan bahwa dana luar biasa yang mereka (AS) keluarkan untuk misi ke Bulan menghasilkan temuan berharga yaitu adanya bukti ilmiah mengenai terbelahnya Bulan.

Berikut ini cuplikannya:

Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan?”
Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: "Dipersilahkan dengan senang hati.”
Daud Musa Pitkhok berkata, “Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur’an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya: Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah....
Maka aku pun bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasan hamba-Nya dalam pencarian kebenaran. Maka suatu hari aku duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi di antara presenter, seorang Inggris, dengan 3 orang pakar ruang angkasa AS.
Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal pada saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan. Presenter pun berkata, Andai dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak berguna”.
Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, “Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik segi kedokteran, industri, dan pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia-sia, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia."
Di antara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakinya di bulan, di mana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dolar.
Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata, ”Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?”
Mereka pun menjawab, “Tidak! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dolar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun."
Maka presenter itu pun bertanya, “Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya?"
Mereka menjawab, “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali!"
Presenter pun bertanya, “Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?”
Mereka menjawab, “Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah, terpotong, di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, 'Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali'."
Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, “Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dolar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin!" [1]

Walaupun seperti cukup meyakinkan dan menggugah semangat keimanan, sayangnya klaim ini muncul dan kemudian dipercaya kaum muslim secara luas hanya berdasarkan good faith dan husnudzon atau sifat berbaik sangka, namun menyisakan pertanyaan-pertanyaan berikut:
  1. Tidak jelas siapa ahli Astronomi AS yang dimaksud
  2. Tidak jelas apa bukti yang dimaksud
  3. Tidak jelas data apa yang dianalisa
  4. Tidak jelas alat pendeteksi apa yang dipakai (untuk mendeteksi adanya bekas patahan di Bulan)
  5. Tidak jelas metode analisa yang dipakai
Jadi kalau digambarkan melalui skema, runutannya adalah sebagai berikut:

Adapun bukti yang dikatakan ilmiah ini, sayangnya tidak dinyatakan secara eksplisit berupa apakah ia, juga tidak ada keterangan yang jelas. Padahal untuk bisa dinyatakan sebagai bukti ilmiah maka identitasnya harus jelas, teruji bebas dari kesalahan penafsiran dan asumsi, serta dapa di cross-check oleh peneliti lainnya.

Tulisan yang di copy-paste ratusan kali di Internet itu sendiri ternyata bersumber hanya dari sebuah blog luar negeri tanpa kredibilitas yang jelas: http://www.aulia-e-hind.com/Prophet.htm, dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh seseorang bernama Sukmayana, di blog nya http://sukmayana.blog.com/Moon/, yang kini sudah tutup [2].

Jadi betulkah terdapat bukti ilmiah telah terbelahnya Bulan? Bagaimana dengan foto-foto yang banyak beredar di Internet yang menggambarkan Bulan dengan apa yang nampak seperti bekas patahan?

Bukti foto terbelahnya Bulan

Pada beberapa artikel mengenai topik yang sama, memang ada ditampilkan gambar permukaan Bulan yang sepertinya terbelah, namun demikian foto yang dimaksud sebenarnya adalah gambar dari sebuah fitur geografis Bulan yang dikenal sebagai Rilles [3], namun tidak ada pernyataan spesifik juga bahwa bukti inilah yang dimaksud.

Adapun Rilles, sejauh yang para peneliti ketahui, bukanlah suatu fenomena yang membuktikan terbelahnya Bulan, atau terdapat hanya khusus di Bulan saja:
Rille (German for 'groove') is typically used to describe any of the long, narrow depressions in the lunar surface that resemble channels. Typically a rille can be up to several kilometers wide and hundreds of kilometers in length. However, the term has also been used loosely to describe similar structures on a number of planets in the Solar System, including Mars, Venus, and on a number of moons. All bear a structural resemblance to each other. [3]

 Ariadaeus Rille dipotret pada misi Apollo X [y]

Jikapun betul Rilles yang dimaksud sebagai "bukti ilmiah", maka klaim ini adalah bukti Bulan pernah terbelah otomatis gugur, karena berdasarkan pengamatan dan penelitian diketahui bahwa rata-rata Rilles hanya memiliki kedalaman yang relatif dangkal, tidak sampai jauh ke kedalaman Bulan seperti yang di-klaim oleh ilmuwan misterius dalam acara talkshow BBC UK tersebut.

Penekanan bahwa Rilles bukanlah bekas terbelahnya Bulan, juga dijelaskan juga oleh T. Djamaluddin, yang pada tahun 2007 menjabat sebagai Peneliti Utama Astronomi dan Astrofisika, LAPAN Bandung, dalam blog nya sebagai berikut:
Gambar itu hanyalah salah satu kanal sempit (disebut rille) yang dinamakan Ariadaeus Rille. Kanal seperti itu banyak terdapat di permukaan bulan dan bentuknya bermacam-macam, ada yang hampir lurus (seperti Ariadaeus Rille tersebut), ada juga yang berkelok-kelok (seperti Hadle Rille). Panjangnya bisa ratusan km, lebarnya beberapa kilometer, dan dalamnya bisa ratusan meter. Pembentukannya dari proses aktivitas geologis permukaan bulan, bukan karena celah bekas bulan terbelah. Jadi, anggapan bahwa kanal itu adalah bukti bahwa bulan pernah terbelah sangat mengada-ada. [2]
Adapun T. Djamaluddin sendiri semenjak bulan Mei 2011 menjabat sebagai Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan LAPAN.

Jika foto Rilles tersebut bukanlah bukti yang dimaksud, maka adakah bukti lain yang bisa mendukung klaim telah ditemukannya bukti ilmiah telah terbelahnya Bulan ini?

Hal ini bisa kita telusuri dengan mengidentifikasi teknik dan instrumen apa sajakah yang para astronot Apollo gunakan kala mereka menjelajah dan meneliti Bulan? Dan apakah instrumen ini bisa melakukan penginderaan patahan hingga jauh ke kedalaman Bulan?

Eksperimen Thumper

Sayangnya selain dari dugaan bahwa Rilles lah yang dimaksud, tidak ada bukti lain yang dianggap cukup kuat untuk mendukung klaim pernyataan ilmuwan tersebut. Adapun jenis eksperimen yang para astronot dari misi Apollo lakukan di permukaan Bulan adalah eksperimen seismik buatan yang diberi nama "Thumper" [5] . Eksperimen ini melibatkan peledakan terkendali bahan peledak kekuatan kecil, dalam skala kecil, di permukaan Bulan, dimana data seismiknya kemudian direkam untuk dipelajari.

Berikut ini skema dari perlengkapan yang dipakai dalam eksperimen Thumper ini:

Sumber: Wikipedia [6] .

Berdasarkan keterangan NASA, hasil dari Thumper ini pun tidak mendukung klaim spektakuler seperti yang diutarakan ilmuwan tersebut, karena eksperimen Thumper ini hanya dapat mengindera hingga kedalaman ~460 meter saja, sehingga sangatlah tidak mungkin bisa digunakan untuk mendeteksi adanya bekas patahan Bulan hingga ke intinya. [7]

Berdasarkan kondisi ini pulalah maka sepertinya "bukti ilmiah" yang dimaksud dalam desas-desus mengenai kebenaran Bulan pernah terbelah, tidak pernah ada.

Berarti Bulan tidak pernah terbelah dua?

Kalau berpegang pada keimanan terhadap Al-Qur'an dan Hadist mengenai salahsatu mujizat Rasulullah SAW ini, maka jawabannya adalah Bulan betul pernah terbelah. Hanya saja bukti ilmiah yang diklaim ada pada kasus ini, ternyata tidak jelas keberadaannya, dan belum tentu pula akan ditemukan. (byms)

Referensi:
[1] http://www.tnol.co.id/id/spiritual-psychology/5947-ketika-bulan-terbelah-dua.html
[2] http://tdjamaluddin2.wordpress.com/2007/06/
[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Rille
[4] http://apod.nasa.gov/apod/ap021029.html
[5] http://www.hq.nasa.gov/alsj/a16/a16.thumper.html
[6] http://en.wikipedia.org/wiki/Apollo_Lunar_Surface_Experiments_Package
[7] http://ares.jsc.nasa.gov/humanexplore/exploration/exlibrary/docs/apollocat/part1/ASE.htm
[8] http://mutoha.blogspot.com/2007/07/bulan-pernah-terbelah.html 

Jumat, 19 Maret 2010

UFO di Indonesia

Banyak diantara kita menyangka, UFO hanya muncul di belahan dunia Barat saja, atau tepatnya di Amerika Serikat. Betulkah ini yang terjadi? Pada kenyataannya UFO bisa muncul dimana saja; dimanapun ada orang tertarik mengenai UFO, dan ia mencari tahu ke sekitarnya, maka akan ada satu atau dua orang yang mengaku pernah melihat sesuatu yang asing di langit, walaupun di Indonesia, pemahaman mereka akan peristiwa tersebut mungkin lebih terkait kepada hal mistis atau spiritual, bukan teknologi asing.


Menurut organisasi tertua pengamat UFO di AS, MUFON (Mutual UFO Network), eksklusivitas kemunculan UFO di Amerika Serikat adalah salahsatu pertanyaan yang paling sering diajukan masyarakat kepada mereka.

Dan faktanya dari hasil banyak penelitian, UFO telah teramati dimanapun disana ada manusia. Setiap benua memiliki sumbangsihnya masing-masing, sebagaimana terjadi di seluruh negara, walaupun ketertarikan warga setempat turut berperan kepada kejelasan akurat mengenai aktivitas UFO di daerah tersebut. Dimanapun ada seseorang yang tertarik untuk menyelidiki laporan penampakan UFO, maka mereka akan menemukannya; walaupun tidak otomatis berarti si peneliti tersebut hidup di daerah pusat aktivitas UFO.

Beberapa dari laporan pertama penampakan UFO datang dari Eropa dan Pasifik. Sejak saat itu, penampakan UFO telah dilaporkan dari semua benua dan bisa jadi semua negara. Dari catatan sejarah, telah terjadi gelombang besar penampakan tidak hanya di AS, melainkan juga di Inggris, Perancis, Belgia, Rusia, dan negara-negara lainnya. Organisasi resmi dan pribadi telah didirikan di banyak negara untuk mempelajari penampakan mereka, dan hasilnya adalah terdapat kemiripan antara penampakan UFO di suatu negara dengan negara lainnya. Jenis dan variasi yang sama dari UFO telah dilihat di banyak tempat, dan ini telah berubah sedikit saja selama bertahun-tahun.

Penampakan UFO di Jerman

Pada akhir 1944, menyusul meningkatnya aktifitas Perang Dunia II, laporan penampakan "Foo Fighters" meningkat tajam. Pilot dari persawat pembom AS dan UK dan peterbang malam di daerah pendudukan Perancis dan Jerman menggambarkan munculnya bola-bola bercahaya yang terbang dalam formasi bersama mereka dalam kurun waktu lama, untuk kemudian sekedar terbang menjauh dan menghilang. Penjelasan pertama atas fenomena ini adalah mereka ini pastinya sejenis senjata anti pesawat terbang buatan Jerman, yang sedang di-tes sebelum diterjunkan untuk beraksi; namun perang berakhir tanpa satupun "foo-fighter" yang menunjukkan aktivitas tidak bersahabat.

Para peneliti lalu mencoba untuk menyalahkan pesawat tempur jet dan roket Jerman yang beroperasi di malam hari. Namun kemudian diketahui bahwa selama masa penampakan "Foo Fighters" berlangsung, bisa jadi hanya ada satu penerbangan malam oleh pesawat tempur jet Jerman, dan tidak ada penerbangan pesawat tempur bertenaga roket.

Penampakan UFO di Indonesia


Pada waktu yang kurang lebih sama di Teater perang Pasifik, pesawat pembom AS seringkali diikuti selama berjam-jam oleh cahaya terang yang kemudian berbalik arah dan menjauh. Seperti diulas dalam tulisan "UFO - Senjata Rahasia Perang", pada masa ini Indonesia pun telah menjadi salahsatu tempat penampakan UFO, seperti terekam dalam catatan pihak Sekutu sebagai berikut:

Dalam suatu misi pengeboman Palembang tanggal 10 Agustus 1944, pilot pembom B-29 Sekutu Kapten Alvah M. Reida yang berpangkalan di Kharagaphur, India, dikejutkan oleh munculnya piringan metalik bercahaya oranye di samping kanan sayap ketika pesawat telah meninggalkan sasaran [8]. Pilot lalu mencoba melakukan manuver menghindar namun ternyata bisa diikuti piringan asing begaris tengah 1,5 - 2 meter tersebut dengan mudah. Setelah delapan menit mengikuti, benda asing tersebut tiba-tiba berbelok tajam dan menghilang dalam waktu sangat cepat.

Para petinggi militer menyatakan mereka adalah pesawat bunuh diri Jepang, dan inilah keterangan yang muncul di laporan-laporan resmi. Namun pesawat jenis tersebut tidak pernah terbang di waktu malam, dan mereka tidak pernah membuntuti pesawat pembom dalam waktu lama tanpa melakukan apapun. Perang berakhir dengan ratusan laporan penampakan yang masih tidak bisa dijelaskan hingga kini. (bay)

Minggu, 31 Januari 2010

UFO - Pendatang Luar Angkasa

Catatan: Tulisan ini merupakan bagian dari kumpulan teori mengenai Asal-Usul UFO, dan merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya disini: http://teknologi.kompasiana.com/2009/12/15/asal-usul-ufo/

Kenneth Arnold bersama salahsatu ilustrasi UFO yang dilihatnya
Kenneth Arnold bersama salahsatu ilustrasi UFO yang dilihatnya

Salahsatu encounter bersejarah, dan dianggap sebagai titik awal dari penyelikan UFO di era modern, terjadi sewaktu Kenneth Arnold melihat formasi sembilan UFO terbang diatas Gunung Rainier pada 24 Juni 1947. Arnold, yang saat itu sedang dalam misi pencarian pesawat terbang yang jatuh, tertarik oleh karakter yang aneh dari sembilan pesawat terbang yang ia lihat melintas di kejauhan. Walaupun hanya melihat mereka selama sekitar tiga menit saja, Arnold menduga pesawat-pesawat misterius tersebut terbang dengan perkiraan kecepatan sekitar 1.800 - 1.900 km/jam, dengan menghitung waktu tempuh terhadap jarak antara dua puncak gunung. Ia menggambarkan pesawat-pesawat tersebut memiliki bentuk pipih, tanpa ekor vertikal, dan dengan tampilan sangat reflektif seakan badan pesawat terbuat dari chrome. Gerak laju pesawat-pesawat asing ini digambarkan mirip piringan yang meloncat-loncat jika dilemparkan dipermukaan air.

Atas karakteristik tersebut, pers lalu menamai benda-benda asing itu sebagai "Flying Saucer" atau "Piring Terbang". Istilah yang sebenarnya keliru, karena Kenneth Arnold tidak pernah menyebutkan kalau UFO yang ia lihat berbentuk piringan, namun “bergerak mirip piring yang dilemparkan di permukaan air”. Namun walaupun salah kaprah, istilah ini ternyata bertahan untuk waktu yang sangat lama, bahkan hingga saat kini.

Perkiraan kecepatan yang dilakukan Kenneth Arnold sendiri menimbulkan banyak reaksi tak percaya dari masyarakat dunia penerbangan; mereka tidak percaya ada pesawat yang mampu terbang secepat itu di dunia. Keterkejutan ini cukup beralasan, karena pesawat pancar gas tercepat buatan manusia pada saat itu, pesawat experimental Bell X-1, baru bisa menembus batas kecepatan suara (1.078 km/jam) ketika dipiloti Chuck Yager pada 14 Oktober 1947.

Walaupun Kenneth Arnold telah dianggap pilot berpengalaman sehingga bisa mengenali fenomena alam, atau menebak jenis pesawat terbang dengan cukup tepat, hasil penyelidikan menyatakan ia hanyalah berhalusinasi.

Namun terlepas dari interpretasi pihak otoritas atas kejadian tersebut, seiring berjalannya waktu, dengan semakin banyaknya UFO sighting terjadi dan diamati oleh beragam kalangan masyarakat, fenomena UFO ini mulai dianggap sebagai hal nyata dan bukan sekedar isapan jempol. Terlebih setelah terjadinya suatu tonggak sejarah lainnya; jatuhnya UFO di Roswell

Insiden Roswell 1947

Salahsatu tonggak peristiwa penting dan bersejarah dalam dunia Ufologi terjadi ketika AU AS mengumumkan di surat kabar bahwa mereka telah menemukan reruntuhan piring terbang yang jatuh di Roswell, New Mexico pada 8 Juli 1947.

Berita koran tentang Piring Terbang jatuh di Roswell
Berita koran tentang Piring Terbang jatuh di Roswell

Hanya 14 hari setelah peristiwa encounter Kenneth Arnold dengan “Piring Terbang”, Jesse Marcel dari kantor pers Roswell Army Air Force Base (RAAF) di New Mexico, mengumumkan bahwa sebuah “piring terbang” telah jatuh di sebuah pertaian tidak jauh dari pangkalan, dan reruntuhannya telah mereka temukan. Roswell AAFB pada saat itu berfungsi sebagai rumah dari satu-satunya skuadron tempur nuklir di dunia – pesawat terbang yang melakukan pemboman Hiroshima and Nagasaki dua tahun sebelumnya diterbangkan dari sini – dan pada saat itu adalah, tentunya, instalasi militer paling tinggi tingkat keamanannya di AS, bahkan mungkin di seluruh dunia.

a
Berita ralat di koran yang sama

Walaupun berita fenomenal tersebut lalu diralat pada hari berikutnya, dan kantor pers menyatakan bahwa puing yang ditemukan adalah sisa-sisa balon udara, namun masyarakat telah terlanjur percaya kalau peristiwa tersebut benar terjadi. Apalagi ditambah adanya desas-desus dari beberapa saksi yang sebenarnya dilarang untuk berbicara, atau berani muncul namun dengan identitas disamarkan. Mereka berbicara mengenai lahan luas yang terbakar, dengan torehan cekungan memanjang mirip parit yang sebelumnya tidak ada, penemuan puing-puing dan lembaran-lembaran tipis bahan logam tak dikenal, balok-balok logam dengan tulisan aneh, serta beberapa saksi yang melihat pihak militer mengangkut tubuh manusia kerdil dari lokasi kejadian. Benarkah sebuah pesawat UFO telah jatuh di Roswell?

Pihak militer membantah dengan keras dugaan ini, dan mengatakan bahwa seluruh puing yang berserakan tersebut adalah sisa-sisa reruntuhan balon udara eksperimental rahasia dari “Project Mogul”, yang sekiranya akan dipergunakan untuk keperluan intelijen AU AS dalam masa Perang Dingin dengan negara front Timur. Sedangkan mahluk humanoid kerdil yang mereka angkut dari lokasi, adalah dummy (boneka) yang dipakai pada eksperimen yang gagal tersebut.

Jesse Marcel dan serpihan balon udara Mogul
Jesse Marcel dan serpihan balon udara Mogul

Dalam foto yang kemudian dipublikasikan AU AS, Jesse Marcel terlihat sedang berfoto sambil menghadapi serpihan aluminium foil dan kain yang terlihat mirip bekas balon udara. Tapi menurut salahsatu wawancara lama setelah kejadian tersebut, ketika dikonfrontir bahwa sisa-sisa yang terlihat di foto memang nampak seperti serpihan bekas balon udara, Jesse hanya berkomentar "That's not what I found"[1]

Apakah pihak militer AS telah berbohong? Apakah puing-puing logam tersebut memang berasal dari balon udara? Ataukah dari suatu pesawat asing yang berusaha disembunyikan identitasnya dari pengamatan publik?

Beberapa cerita versi komersil menceritakan kalau apa yang jatuh di Roswell sebenarnya adalah pesawat UFO yang ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara rahasia AS. Sedangkan jika dikaitkan dengan faktor alamiah, mungkinkah insiden Roswell ini terkait dengan badai hebat yang terjadi di wilayah itu pada di malam sebelum penemuan puing-puing?

Apapun yang sebenarnya terjadi, insiden Roswell ini telah menjadi tonggak awal bermunculannya penelitian UFO kontemporer di AS, baik yang dilakukan oleh pihak militer maupun ilmuwan dan masyarakat umum secara independent.

Jika pendapat UFO berasal dari peradaban asing di luar angkasa itu benar, pernahkah terjadi kontak antara manusia Bumi dengan peradaban asing tersebut? Bagaimanakah keterlibatan pemerintah negara Adikuasa dalam hal ini?

Project Moondust

Adalah Clifford Stone, pensiunan AD AS yang kemudian muncul menjadi whistleblower, pembuka rahasia kegiatan pemerintah AS selama ini dalam menangani kasus-kasus terkait UFO. Dalam masa pensiunnya, Stone memilih untuk mengungkapkan kepada publik apa yang telah ia lakukan selama 22 tahun bertugas di AD AS; mengamankan sisa-sisa UFO yang jatuh di Bumi. Satuan tugas yang bertanggung jawab untuk tugas ini diberi nama Project Moondust. Lebih jauh lagi, Stone menyatakan kalau dirinya adalah seorang contactee dari total delapan orang yang bertugas di satgas tersebut. Sebagai contactee, tugas utamanya adalah mencoba untuk berkomunikasi secara telepatik dengan para Ufonaut yang ditemukan, suatu kemampuan yang menurutnya merupakan bakat alamiah dan tidak bisa didapat dengan dipelajari. Dari hasil pengalamannya selama bertugas, Stone mengungkapkan bahwa UFO yang mereka temukan memang benar berasal dari luar angkasa, dan kita memang tidak sendirian di alam semesta ini.

Ketika pensiun pada tahun 1989, Stone menyatakan kalau Project Moondust telah mendata adanya 57 spesies berbeda para pengembara antar bintang ini. Jenis "Grey" yang banyak dijadikan icon pop culture atas Alien ini, terdiri dari setidaknya tiga spesies berbeda; beberapa bahkan memiliki tinggi lebih dari manusia. Namun yang paling mengherankan dan menjadi penelitian para ilmuwan Moondust adalah, bahwa sebagian besar dari tamu luar angkasa ini memiliki penampilan yang seperti manusia. Jika berada dalam suatu kumpulan, orang-orang lalu lalang di jalanan misalnya, maka banyak dari para pendatang ini tidak akan bisa dibedakan dari manusia Bumi. Padahal menurut asumsi para ilmuwan Moondust, latar belakang dan lingkungan yang berbeda dari para pendatang ini harusnya mengakibatkan evolusi pertumbuhan fisik yang kontras.

Stone juga menginformasikan bahwa banyak dari UFO yang mereka evakuasi dan amankan masih memiliki bentuk utuh, dan banyak yang kemudian dijadikan subyek retro-engineering untuk dipelajari dan diterapkan teknologinya untuk keperluan militer. Dalam kondisi baik, sebuah pesawat ruang angkasa bangsa-bangsa Alien ini bisa menempuh jarak tahunan cahaya dalam waktu singkat, dan mengatasi berbagai hambatan fisika yang masih menjadi kendala bagi ilmuwan Bumi.

Stone juga menungkapkan kalau banyak dari para pendatang luar angkasa ini kini hidup berasama-sama manusia, dengan profesi manusia, namun tidak ada yang menempati posisi politis karena bertentangan dengan tujuan mereka ada disini. Selama ini mereka memang memilih dengan selektif negara-negara mana saja yang mereka tuju untuk ditinggali, untuk meminimalisir kemungkinan penerimaan yang tidak bersahabat, atau menciptakan histeria massa. Namun Stone juga selalu diperingatkan, bahwa tidak semua misi evakuasi yang ia lakukan akan ditanggapi dengan baik oleh para Alien yang pesawatnya jatuh tersebut.

Poster film "Men in Black II"
Poster film "Men in Black II"

Konsep Alien yang berbentuk manusia, bersikap ramah dan berasimilasi baik dengan penduduk Bumi, sudah diangkat ke layar televisi sejak lama, dalam serial TV Mork & Mindy yang dibintangi bintang terkenal Robin Williams; dan tentunya, Star Trek. Namun adaptasi layar lebar terkini yang juga mengangkat mengenai informasi Stone mentenai adanya badan rahasia pemerintah yang khusus menangani dan mengatur kunjungan para tamu luar angkasa ini, adalah film Men in Black (MIB).

Kini Stone termasuk salahsatu peneliti UFO yang gigih menuntut pemerintah AS untuk mengeluarkan dokumen-dokumen terkait penelitian UFO dibawah payung Freedom Of Information Act atau FOIA[3]. FOIA memungkinkan masyarakat AS untuk menuntut dibukanya informasi baik total maupun sebagian, atas dokumen-dokumen yang sebelumnya berada dibawah kendali pemerintah AS.

Selain Stone, peneliti yang juga aktif mempraktikkan FOIA kepada departemen-departemen pemerintah AS, adalah John Greenewald, Jr., dengan situsnya The Black Vault. Situsnya itu kini memiliki lebih dari 550.000 dokumen hasil FOIA terkait keterlibatan pemerintah AS dalam proyek-proyek rahasia mengenai UFO, Kloning, Senjata Biologis, Mind Control, Parapsychology, hingga ke komplain mengenai acara TV. Sumber terbesar di dunia untuk dokumen FOIA, selain dari pemerintah AS sendiri.

Stone sendiri percaya, walaupun tidak bisa mendukung dengan bukti data, bahwa masa pengungkapan identitas tamu luar angkasa ini semakin dekat. Ia juga menduga kuat, banyak pihak yang terlibat dalam Project Moondust merasa sudah waktunya informasi mengenai para tamu luar angkasa ini dibukakan ke publik.

Jika Stone adalah seorang contactee yang beruntung bisa terlibat dalam satu satuan tugas khusus, sehingga mendapatkan banyak bantuan tenaga dan data, maka bayak contactee lainnya tidak memiliki fasilitas yang sama. Namun tidak kurang tidak lebih, mereka justru dipilih oleh para pendatang luar angkasa ini untuk menjadi rekan korespondensi, sekaligus juru bicara mereka di Bumi. Dalam hal ini, biasanya para contactee hanya dipilih oleh salahsatu spesies Alien saja, dan mengalami masa kontak yang lama, dimulai sejak mereka masih kecil. Beberapa dari mereka kemudian berani tampil ke muka umum dan menyatakan status spesial mereka tersebut. Banyak yang kemudian menjadi subyek penelitian para skeptis dan debunker selama bertahun-tahun.

Utusan dari luar angkasa

Para contactee, alias mereka yang mengaku bisa berkomunikasi dengan para Ufonaut, menyatakan bahwa UFO adalah kendaraan ruang angkasa dari ras-ras maju di luar angkasa sana. Para tamu misterius ini dikabarkan berasal dari peradaban yang lebih maju daripada Bumi, dan berasal dari gugus bintang yang jauh dari Bumi. Diantara lokasi yang dikabarkan menjadi rumah para pendatang luar angkasa ini, adalah Sirius, Beta Draconis, Pleiades, dan Antares. Salahseorang yang cukup terkenal diantara para saksi ini ialah Billy Meier, yang mengaku mengenal Ufonaut dari ras “Pleiadians” atau “Plejaren” (pleh-yar-en) dari gugus bintang Pleiades.

Billy Meier mengaku telah mendapatkan kunjungan rutin dari ras Plejaren semenjak tahun 1942 saat ia berusia 5 tahun. Ras ini berasal dari tata surya “Tayget” dengan sepuluh planet, dimana empat diantaranya berpenghuni. Tata surya ini menurut mereka berada di suatu tempat berjarak 80 tahun cahaya dibelakang gugus bintang Pleiades, dalam tatanan ruang dan waktu yang berbeda . Pleiades selama ini dikenal sebagai suatu gugus tujuh bintang di rasi Taurus yang berjarak 420 tahun cahaya dari Bumi, dan diperkirakan tidak memiliki planet berpenghuni karena kondisinya tata-suryanya yang masih primordial, tidak memiliki kondisi yang laik huni. Plejaren ini memiliki bentuk tubuh humanoid, atau memiliki karakter yang mirip dengan manusia. Secara fisik, mereka terlihat seperti manusia yang tinggi, berkulit putih, dengan rambut pirang.

Selama kurun waktu kontaknya, ia berhadapan dengan beberapa individu berbeda dalam situasi yang cenderung rahasia. Sedangkan rangkaian kontak "resmi" dimana ia diminta untuk mengabarkan mengenai keberadaan ras Plejaren ini, terjadi semenjak 28 Januari 1975, ketika ia berhubungan dengan duta sekaligus kontak terakhir Billy dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, dengan nama Semjase [4].

Ilustrasi artis atas Semjase
Ilustrasi artis atas sosok Semjase

Meier berkomunikasi dengan mereka dalam banyak kesempatan. Ia bahkan mendapat kesempatan untuk memotret jenis-jenis pesawat antariksa yang mengunjunginya, yang ia sebut sebagai "Beam Ships", mendapat beberapa sampel logam, merekam suara pesawat tersebut, serta mempelajari beragam hal termasuk masalah ramalan. Dalam website http://www.theyfly.com ia mengaku telah mendapat petunjuk mengenai bencana Tsunami Aceh akhir 2003 semenjak tahun 1976, melalui wawancaranya dengan Semjase, salahsatu Ufonaut dari bangsa Plejaren ini. Menurut Semjase, kegiatan manusia dalam mengeruk bahan tambang dan memberi beban berlebihan pada permukaan bumi (membangun kota-kota) akan mengakibatkan berubahnya keseimbangan putaran bumi dan berujung pada bencana geologis yang dahsyat.

Terlepas dari penentangan kaum skeptis dan ilmuwan orthodox, Billy Meier berhasil mendapatkan pengikut yang tersebar di beberapa negara, dan kemudian menganggap dirinya sebagai Messiah. Dari tahun ke tahun tak jarang para pengikut dan penentang mencoba untuk membuktikan kebenaran atau kebohongan Billy dengan berbagai cara, diantaranya dengan menganalisis rekaman suara pesawat antariska Plejaren, dan hal-hal lain yang menurut Billy ia dapatkan dari tamu antar bintang ini.

George Adamski
George Adamski

Salahseorang contactee lain yang juga terkenal adalah George Adamski, yang mengaku berkomunikasi dengan para Alien dari ras Nordic. Perjumpaan pertamanya dengan Orthon[5], perwakilan ras tersebut, diawali pada 20 Nov 1952 dimana terdapat 12 orang saksi yang mengaku melihat UFO berbentuk kapal selam melayang di udara, ketika sedang bersama-sama Adamski di padang pasir Colorado Desert. Adamski kemudian mengaku dibawa berkeliling ke planet-planet Tata Surya, termasuk Venus tempat Orthon berasal.

Bukunya "Flying Saucers Have Landed" bisa diunduh gratis di sini, sedangkan untuk informasi lain dari Adamski bisa diperoleh dari websitenya disini.

Ras-ras luar angkasa ini dikabarkan datang dengan beragam tujuan, diantaranya untuk mengeluarkan masyarakat Bumi dari kondisi tak menentu ditengah-tengah perebutan kekuasaan oleh negara-negara adi daya, atau mengingatkan penduduk Bumi akan bencana global yang akan terjadi. Ada yang kelihatannya memiliki maksud sinis, namun menurut Stone terkait Project Moondust, sebagian besar hanya memperhatikan Bumi sebagai pihak yang netral; rutin mengawasi, mempelajari, namun tidak mau terlibat dalam kancah perebutan kekuasaan.

Penyelidikan Militer dan Ilmuwan

Project Blue Book

Langkah berarti yang dilakukan pemerintah AS pasca Perang Dunia II, adalah dengan membentuk beberapa komisi untuk menyelidiki laporan UFO sighting yang banyak bermunculan. Penelitian ini diawali dengan dibentuknya "Project Sign" pada 1947-1949, dilanjutkan dengan "Project Grudge" (1 dan 2) pada 1949 - 1952, dan diakhiri dengan "Project Blue Book" pada 1952 - 1969.

Hal yang membuat Project Blue Book diakhiri, ialah terbitnya "Condon Report" atau "Scientific Study of Unidentified Flying Objects" dari Universitas Colorado di tahun 1968, yang melakukan riset atas perintah AU AS.

Condon Report dibuat oleh tim peneliti University of Colorado yang dikepalai oleh Dr. Edward U. Condon atas perintah AU AS dengan tujuan untuk menyelidiki mengenai perlu atau tidaknya militer AS melakukan penelitian lebih lanjut atas fenomena UFO.

Laporan ini berhasil meyakinkan AU AS bahwa penelitian UFO tidaklah penting dan tidak perlu dilakukan karena tidak memberikan kontribusi apapun pada dunia ilmu pengetahuan, seperti tercermin dalam penelitian selama 21 tahun terakhir (semenjak insiden Roswell).

Laporan lengkap Condon Report ini bisa dibaca disini.

Namun walaupun rata-rata panel penyelidik dari ketiga proyek tadi menyimpulkan bahwa sekitar 90% hingga 95% laporan sighting adalah kesalahan identifikasi, fenomena alam, atau tipuan yang sengaja dibuat, 5% sisanya tetap menjadi misteri yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan modern walaupun data yang dikumpulkan cukup lengkap. Sedangkan dari dunia penelitian, beberapa ilmuwan berani untuk memiliki pendapat yang berbeda menanggapi Condon Report ini, diantaranya adalah James E. McDonald, seorang meteorologis di University of Arizona, dan J. Allen Hynek, astronomer sekaligus professior di Northwestern University, yang berani menyatakan secara publik ketidaksetujuan mereka atas kesimpulan panel. Mereka berpendapat bahwa sebagian kecil laporan sighting UFO yang tidak berhasil panel penyelidik pecahkan (5 - 10%) sudah cukup untuk dijadikan bukti bahwa Bumi telah dikunjungi pendatang dari peradaban asing dari luar angkasa.

Extraterrestrial Hypothesis (ETH)

J. Allen Hynek
J. Allen Hynek

Hynek sendiri adalah salahsatu ilmuwan penasehat pada ketiga proyek penelitian AU AS akan fenomena UFO, yang terlibat sejak mulainya Project Sign (1947), hingga berakhirnya Project Blue Book (1969). Awalnya, Hynek adalah seorang skeptis yang menganggap UFO hanyalah kasus kesalahan identifikasi fenomena alam atau obyek terbang biasa, yang dilaporkan oleh saksi-saksi yang tidak terpercaya. Dalam tahun-tahun pertamanya ia malah berfungsi sebagai seorang debunker, yang bertugas memberikan alasan-alasan logis dan ilmiah bahwa kasus penampakan UFO tidak pernah terjadi.

Namun pendapat ini kemudian berubah setelah Hynek mempelajari ratusan kasus penampakan UFO selama rentang belasan tahun, dimana ia mendapatkan banyak kesaksian yang dibuat oleh anggota masyarakat terpercaya semisal astronomer, pilot, polisi, dan tentara. Ia berpendapat bahwa dari sekian banyaknya penampakan UFO yang terjadi, beberapa diantaranya kemungkinan besar memang asli, dan mungkin saja berasal dari peradaban maju di luar angkasa sana. Pendapat mengenai identitas UFO sebagai kendaraan luar angkasa inilah yang menjadi inti dari teori Extraterrestrial Hypothesis (ETH).

Ditambah dengan pendapatnya bahwa AU AS sama sekali tidak serius dalam mempelajari UFO, dan sekedar berusaha untuk melabel semua kasus penampakan UFO sebagai kesalahan identifikasi atau hoax, setelah Project Blue Book berakhir Hynek kemudian mendirikan CUFOS (Center for UFO Studies), dan melakukan penelitian UFO secara independent hingga akhir hayatnya.

"As a scientist I must be mindful of the past; all too often it has happened that matters of great value to science were overlooked because the new phenomenon did not fit the accepted scientific outlook of the time." ~ J. Allen Hynek

Salahsatu karya Hynek yang terkenal, adalah klasifikasi jenis perjumpaan dengan UFO, yang kemudian menjadi landasan dari judul film Stephen Spielberg; “The Close Encounters of the Third Kind” (1977). Hynek sendiri secara luas dianggap sebagai Bapak konsep Scientific Analysis atas studi tentang UFO, baik terkait laporan maupun jejak yang ditinggalkan penampakan UFO.

Sistem Klasifikasi Hynek:

  • NL (Nocturnal Light) Point or extended luminous source observed at night.
  • DD (Daylight Disc) Metallic or whitish object seen in the day.
  • RV (Radar / Visual) Observation supplemented with radar.
  • CE-I (Close Encounter I) Observation of an object in close proximity to the witness (i.e. within 500’)
  • CE-II (Close Encounter II) Observation of an object in close proximity to the witness, where physical traces (impression, burn, medical effect, etc.) are left or (electrical effect, heat) are felt
  • CE-III (Close Encounter III) Close observation with animate beings associated with the object.
  • CE-IV (Close Encounter IV) Abduction of the witness or other direct contact

Sistem klasifikasi lain yang biasa dipakai adalah Sistem Klasifikasi Vallee, seorang Ufolog berkebangsaan Perancis, dianggap memiliki sistem klasifikasi yang lebih lengkap dibanding Hynek, namun kurang ilmiah.

ETH dan Sains

Menyikapi teori ETH, ilmuwan-ilmuwan yang skeptis cenderung memilih untuk tidak mempercayai teori mengenai UFO sebagai tamu antar planet, terutama karena tidak adanya bukti ilmiah yang cukup kuat untuk mendukung teori tersebut. Adanya laporan saksi mata, bekas-bekas fisik dan kadar radioaktif yang meninggi pada lokasi pendaratan, ataupun foto-foto yang diambil, dianggap masih kurang kuat untuk menjadi landasan bagi suatu kesimpulan ilmiah, apalagi berdasarkan hukum Fisika yang dikenal, perjalanan menembus kecepatan cahaya adalah hal yang tidak mungkin.

Namun walaupun demikian, beberapa dari ilmuwan skeptis ini tidak menutup mata sama sekali akan kemungkinan ini, seperti yang Sir Martin Reese, Carl Sagan dan William Newman percayai, "Absence of evidence doesn't mean evidence of absence" (ketiadaan bukti tidak berarti bukti dari ketiadaan).

The "Wow" Sign yang ditemukan Ohio State University

Namun diluar dari pertentangan antara Ufolog dan UFO-Skeptis, dalam aplikasi yang berbeda, teori mengenai adanya peradaban maju diluar angkasa ini mendapat dukungan paling besar dari kaum ilmuwan dan pemerintah negara-negara maju. Hal ini terbukti dengan didirikannya beragam fasilitas penelitian untuk meneliti kemungkinan adanya mahluk cerdas diluar angkasa sana, misalnya proyek SETI (Search for Extra Terrestrial Intelligence) yang memanfaatkan rangkaian teleskop-teleskop radio di padang Arecibo, Arizona.

Semenjak beroperasi, proyek SETI telah beberapa kali menangkap kode sinyal yang diduga berasal dari peradaban maju diluar angkasa, namun belum satupun yang berhasil dipecahkan. Salahsatunya adalah yang dikenal sebagai "Wow" Signal yang ditemukan oleh tim Ohio State University pada 15 Agustus 1977 yang hingga kini masih tidak terpecahkan. Data yang didapatkan sendiri bukanlah pesan rahasia berbunyi "Wow", namun lebih kepada adanya anomali terdeteksi pada suatu penginderaan, yang bisa jadi menunjukkan tanda sinyal tersebut berasal dai sumber artifisial.

Interpretasi lebih mendalam mengenai "Wow" Signal ini bisa dibaca disini.

Keraguan atas ETH

Walaupun merupakan salahsatu penggagas, J. Allen Hynek sendiri kemudian muncul sebagai Ufolog yang meragukan teori ETH ini, dan mengajukan suatu ide bahwa mungkin saja UFO ini datang tidak dari bintang yang jauh melainkan dari tempat yang dekat, namun berbeda dimensi. Hal ini menurutnya merupakan penjelasan yang lebih logis terhadap terjadinya ribuan penampakan UFO tiap tahunnya, karena dengan sedemikian banyaknya sighting selama bertahun-tahun, maka UFO tidaklah mungkin berasal dari tempat yang jauh.

Namun sebagian Ufolog tetap bertahan dengan teori ini, diantaranya seperti yang dilakukan oleh James E. Mc Donald, Ufolog sekaligus Doktor di bidang Meteorologi. Menurutnya, ETH bukanlah suatu teori tak terbantahkan namun adalah suatu "working model" yang tidak bisa diabaikan. Pada 7 Juni 1967, melalui kedekatannya dengan U Thant (Maha Thray Sithu U Thant), Sekjen PBB pada masa itu, ia diberikan kesempatan untuk berbicara di hadapan Outer Space Affairs Group PBB.

Pandangan Mc Donald mengenai UFO bisa diunduh dalam tulisan berjudul "Statement on Unidentified Flying Objects" dari sini (PDF).

Adapun Edward J. Ruppelt, mantan pemimpin Project Blue Book, sekaligus individu yang terkenal sebagai penggagas istilah "UFO" menggantikan istilah "Flying Saucers", setelah pensiun dari Project Blue Book kemudian menuliskan sendiri pengalaman dan sudut pandangnya mengenai UFO dalam suatu buku berjudul "The Report on Unidentified Flying Objects". Sebagai kesimpulannya, setelah berhasil membuktikan sebagian besar laporan penampakan UFO sebagai kesalahan idetifikasi, ia tetap mendapati adanya sebagian laporan yang tidak bisa dijelaskan, dan melibatkan adanya peranan teknologi tinggi yang jauh melebihi kemampuan manusia. Iapun menutup bukunya tersebut dengan suatu pernyataan:

"Maybe the earth is being visited by interplanetary spaceships. Only time will tell."

Buku Ruppelt ini bisa dibaca online disini, atau diunduh dari laman Project Guttenberg disini.

Pertanyaan besarnya adalah, dengan munculnya tulisan-tulisan yang menyatakan isi pemikiran para dedengkot dari Project Blue Book, apakah ini menunjukkan bahwa serangkaian penelitian yang dilakukan AU AS telah berhasil membuktikan bahwa UFO hanyalah kesalahan identifikasi? Ataukah justru sebaliknya?

Apakah betul UFO merupakan bukti adanya peradaban maju tak dikenal diluar angkasa sana? Apakah saksi-saksi yang mengaku dapat berkomunikasi dengan Ufonaut mengatakan hal yang sebenarnya? Apakah benar pada saat ini ada ras mahluk asing yang sedang mendatangi Bumi? Ataukah justru sebenarnya mereka telah memantau dan berinteraksi dengan kita (manusia) sejak masa yang sangat lampau?

(Bersambung ke bagian selanjutnya...)

(bay)

Referensi:

[1] http://kevinrandle.blogspot.com/2009/10/roswell-ufo-and-jesse-marcel.html

[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Freedom_of_Information_Act_%28United_States%29

[4] http://www.steelmarkonline.com/semjase.htm

Senin, 25 Januari 2010

Ufologi dan Telepati

Menurut Clifford Stone, Ufolog yang pernah terlibat dalam Project Moondust untuk mengevakuasi UFO yang jatuh, mayoritas para Ufonauts berkomunikasi secara telepati. Telepati itu seperti berbicara pada suara-suara di kepala anda; perlu latihan untuk bisa menyaring mana yang self-thought dan mana yang berasal bukan dari diri kita sendiri. Stone sendiri berujar bahwa kemampuan telepati tidak bisa diajarkan, jadi kalau nggak punya, ya nggak bisa. Maka dari itu mereka yang memiliki kemampuan telepati biasanya memiliki kemungkinan yang besar untuk dijadikan contactee atau penghubung dari ras-ras Ufonaut, dan jika seseorang telah ditunjuk untuk menjadi contactee untuk suatu ras Ufonaut, biasanya ia hanya akan berkomunikasi dengan ras tersebut dan mengalami encounter dengan UFO maupun perwakilan ras-ras ini jauh sejak masih berusia sangat muda.

Telepati sendiri, bekerja dalam suatu sistem yang masih sangat asing bagi dunia ilmu pengetahuan, namun satu hal yang pasti, ia ada. Jika apa yang Stone katakan benar adanya; dan yang rekan-rekan Metafisikawan benar kabarkan, bahwa para Ufonaut ini banyak yang bersifat energi daripada fisik; berarti para Ufolog mau tidak mau harus mempertimbangkan ESP (Extra Sensory Perception) sebagai salahsatu bidang studinya, sehingga pendekatan penelitiannya harus tidak dibatasi semata-mata para tools yang terkait teknologi.

Namun hal ini tentunya tidak tanpa resiko. Penerimaan Ufologi akan materi metafisika di sisi lain akan membuat penyematan status Ufologi sebagai pseudo science semakin menebal di mata para ilmuwan konvensional.

Namun kalau kita mau turut mempertanyakan, betulkah hal-hal terkait supranatural, parapsychology, psychic phenomena, metafisika, semuanya adalah sekedar mistik dan tidak memiliki landasan ilmiah? Mungkin belum, tapi nyatanya ada, berarti ilmu pengetahuanlah yang belum bisa mencapainya. Sudahkah ilmu pengetahuan mampu menjelaskan akal-pikiran (mind), kesadaran (consciousness), dan nyawa (soul)?

Sanggupkah kita menutup mata bahwa manusia itu lebih dari sekedar sistem biologi maupun fisika? Bahwa ada atribut-atribut lain dan dimensi-dimensi lain dari manusia yang lebih dari sekedar logika dan rasionalitas pikiran? Bahwa manusia adalah sekedar bentuk fisik dari suatu energi yang kita kenal sebagai nyawa?

Jadi dengan resiko Ufolog akan semakin dianggap "weirdo", maka kalau studi tentang ESP ini bisa meningkatkan pemahaman atas fenomena UFO, dan manfaatnya lebih besar daripada mudharatnya, kenapa nggak?

ESP - Apa yang harus dipelajari

Dari sekian banyak skill yang terdeteksi berada dalam ranah ESP, maka kelihatannya Telepati adalah yang paling penting untuk dikembangkan. Telekinetik is cool, tapi aplikasi dalam Ufologinya relatif kecil; sedangkan Clairvoyance atau Precognition membantu memperkuat firasat tapi tidak terkait secara spesifik kepada Ufologi. Dan walaupun menurut Stone kemampuan telepati itu is either we born with or without, tapi banyak pelatihan di dunia ini yang bisa membantu kita untuk meningkatkan kesadaran dalam level pikiran yang berbeda, termasuk kemampuan telepati ini. Jadi mungkin walaupun kemampuan telepatik anda tidak akan pernah bisa sekuat para chosen contactee, anda tetap bisa mengasahnya ke tingkat yang maksimal berdasarkan modal yang anda miliki. Jangan lupa, latihan dan pembentukan yang rutin adalah lebih berharga daripada bahan baku bagus yang tidak diolah. (bay)

n.b: Ada satu freeware menarik terkait pelatihan Telepati disini. Ada yang sudah pernah mempraktikkan? Silakan di-share disini.

Jumat, 07 Agustus 2009

Teknologi Teleportasi di Jaman Nabi Sulaiman

Pengantar:
Tulisan ini dibuat oleh rekan Elfarid dari "Sanggar Mewah" (Mewah = Mepet Sawah), mengenai petunjuk adanya teknologi teleportasi di masa silam pada ayat-ayat Al Qur'an. Menarik untuk ditelaah lebih lanjut (bay)

Tulisan ini masih berkaitan dengan tulisan tentang Nabi Sulaiman sebelumnya. Kisah nabi Sulaiman memindahkan singgasana Ratu Balqis dari negeri Saba’ ke negeri Palestina yang berjarak 2.000 km dalam hitungan detik memancing pemikiran kta untuk mengetahui bagaimana teknik pemindahan singgasana tersebut.

Seperti tercantum dalam Al Qur’an Surat An Naml:

38. Berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri."

39. Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya."

40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[1097]: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia."

Keterangan

[1097]. Al Kitab di sini maksudnya: ialah Kitab yang diturunkan sebelum Nabi Sulaiman ialah Taurat dan Zabur.

Dari pembesar-pembesar anak buah Nabi Sulaiman baik dari kalangan jin dan manusia diberi tantangan untuk memindahkan singgasana Ratu Balqis. Jin Ifrit menyanggupi memindahkan dengan waktu sebelum Nabi Sulaiman berdiri. Tetapi kemampuan jin Ifrit itu dipatahkan oleh seorang yang berilmu (ilmuwan) bernama Asif bin Barkhiya dengan menyanggupi memindahkan singgasana yang letaknya 2.000 km dari Palestina sebelum mata berkedip!

Sekali mata manusia berkedip dalam hitungan detik sedang Asif bin Barkhiya menyanggupi sebelum mata berkedip atau kurang dari satu detik! Kecepatan itu hanya mampu ditandingi oleh kecepatan cahaya. Ini adalah petunjuk penting bahwa pemindahan singgasana ratu Balqis menggunakan teknologi yang sangat maju disebut teleportasi. Teknologi pemindahan materi jarak jauh.

Dari kecepatannya dapat dipastikan teknologi tersebut lebih cepat dari jin Ifrit. Satu-satunya yang mungkin yaitu teknologi dengan memanfaatkan cahaya atau sinar sebagai media untuk teleportasi tersebut. Bisa saja teleportasi dengan sinar laser sudah ada di jaman tersebut sehingga urusan memindahkan singgasana dalam hitungan detik pun hal yang mudah.

Kalau ada yang membantah dan mengatakan itu adalah sihir maka di dalam Al Qur’an pun sudah dibantah. Lihat Surat Al Baqarah ayat 102:

102. Dan mereka mengikuti apa[76] yang dibaca oleh syaitan-syaitan[77] pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat[78] di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya[79]. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

Keterangan:

[77]. Syaitan-syaitan itu menyebarkan berita-berita bohong, bahwa Nabi Sulaiman menyimpan lembaran-lembaran sihir (Ibnu Katsir).

[78]. Para mufassirin berlainan pendapat tentang yang dimaksud dengan 2 orang malaikat itu. Ada yang berpendapat, mereka betul-betul Malaikat dan ada pula yang berpendapat orang yang dipandang saleh seperti Malaikat dan ada pula yang berpendapat dua orang jahat yang pura-pura saleh seperti Malaikat.

[79]. Berbacam-macam sihir yang dikerjakan orang Yahudi, sampai kepada sihir untuk mencerai-beraikan masyarakat seperti mencerai-beraikan suami isteri.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum Yahudi berkata: "Lihatlah Muhammad yang mencampur-baurkan antara haq dengan bathil, yaitu menerangkan Sulaiman (Nabi) digolongkan pada kelompok nabi-nabi, padahal ia seorang ahli sihir yang mengendarai angin." Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (S. 2: 102) yang menegaskan bahwa kaum Yahudi lebih mempercayai syaitan daripada iman kepada Allah SWT. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Syahr bin Hausyab.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Yahudi bertanya kepada Nabi SAW beberapa kali tentang beberapa hal dalam Taurat. Semua pertanyaan mengenai isi Taurat, dijawab oleh Allah dengan menurunkan ayat. Ketika itu mereka menganggap bahwa ayat tersebut dirasakan sebagai bantahan terhadap mereka. Mereka berkata dengan sesamanya: "Orang ini lebih mengetahui daripada kita tentang apa yang diturunkan kepada kita." Di antara masalah yang ditanyakan kepada Nabi SAW ialah tentang sihir. Dan mereka berbantah-bantahanlah dengan Rasulullah tentang hal itu. Maka Allah menurunkan ayat ini (S. 2: 102) berkenaan dengan peristiwa tersebut. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abil-'Aliah.)

Asif bin Barkhiya merupakan ilmuwan yang menguasai teknologi teleportasi, bukan ilmu sihir karena sihir selalu menggunakan jin. Sedangkan jin Ifrit yang merupakan jin cerdik pun tidak bisa mengalahkan teknologi itu. Teknologi tinggi bagi orang yang tidak menguasai pun laksana sihir. Seperti di jaman sekarang pun teknologi masih sangat menakjubkan bagi orang awam yang tidak tahu cara kerjanya. Kesimpulannya yaitu teknologi teleportasi sudah dikuasai ilmuwan di jaman Nabi Sulaiman. Tantangan bagi manusia jaman kini untuk kembali menguasasi teknologi itu.

Wallahu ’alam bishawab.

Sragen, 27 September 2007

elfarid

Source: http://elfarid.multiply.com/journal/item/243

Minggu, 19 Juli 2009

UFO dan Bingkai Persepsi

Masalah yang muncul dari ketidaklengkapan data adalah terbukanya ruang untuk interpretasi. Dan interpretasi akan memiliki beragam bentuk sesuai dengan sudut pandang si pemberi penafsiran. Inilah sebabnya mengapa dalam banyak kasus UFO sighting, kesimpulan antara para believers dan debunkers akan suatu event sighting bisa berbeda 180 derajat, tergantung interpretasi masing-masing pihak.

Kedua sisi tentunya mengutamakan pengetahuan dan familiarity-nya atas kejadian tersebut, mana yang dirasa lebih familiar dan bisa diterima oleh disiplin pemikirannya, maka itulah yang diterima. Bagi mereka yang skeptics, atau malah mendedikasikan diri untuk menjadi UFO debunkers, maka ketika data terkumpul masih bisa dikaitkan dengan kejadian-kejadian alami / buatan manusia / kesalahan identifikasi / hoax, tanpa perlu pikir panjang label kesalahan identifikasi pun disematkan, dan misi "menguak kebenaran" pun dianggap tercapai, terpuaskan. Masalahnya, pengambilan kesimpulan melalui cara seperti ini biasanya selalu berhasil menemukan kaitan rasional dan konvensional terhadap kejadian se-luar biasa apapun.

Misalnya mengenai Rods, kala rekaman foto memperlihatkan adanya benda terbang mirip silinder yang terlihat kabur (standar penampakan Rods), maka para debunker bisa dengan mudah menganggap foto tersebut sebagai rekaman gambar serangga biasa yang terbang cepat, dimana distorsi cahaya dan lensa telah membuatnya terlihat seperti mahluk lain yang tidak dikenal. Padahal iapun hanya menelaah dan berinterpretasi terhadap data yang ada, bukan karena ia melihat sendiri serangganya.

Atau dengan mengatakan bahwa saksi mata sighting sedang mengalami halusinasi ketika melihat piring terbang di angkasa. Atau menyatakan bahwa suatu video rekaman sighting adalah hasil rekayasa komputer. Pengerucutan kesimpulannya mungkin sudah melalui prosedur yang benar, namun dengan persepsi yang condong kearah neutralizing atau negatifism, maka ketika tiba waktunya untuk menginterpretasikan data yang ada, yang akhirnya terjadi adalah hilangnya data berharga karena pelabelan yang tidak tepat.

Di sisi lain, dengan beragamnya referensi soal UFO yang diketahui, baik yang bersifat fakta, legenda, maupun dongeng, maka seorang Ufolog bisa juga terlalu cepat melompat kepada kesimpulan prematur. Dan bagi seorang UFO fanatics, malah tak jarang informasi yang masuk kemudian diolah seadanya, kemudian jika terlihat ada kaitannya dengan karakteristik UFO, walaupun hanya sedikit, maka kesimpulan akhirnyapun adalah justifikasi mengenai keberadaan UFO.

Jadi jika skeptics / debunkers cenderung mengabaikan kesimpulan kearah kejadian luar biasa, jika data yang dikumpulkan masih bisa dikaitkan dengan kejadian kejadian biasa, maka UFO fanatics kebalikannya; cenderung mengabaikan kesimpulan kearah kejadian biasa, jika masih bisa dikaitkan dengan kejadian luar biasa. Dua-duanya berada di sisi yang ekstrim.

Siapa yang benar? Tidak bisa dipukul rata, tapi yang pasti extrimisme cenderung membutakan, baik yang pro maupun kontra.

Sayangnya, masalah utama dalam banyak kasus UFO sighting adalah sangat sedikitnya data ilmiah yang bisa dikumpulkan, sehingga baik pihak pro maupun kontra sama-sama menitikberatkan pendapatnya pada interpretasi.

---------

Sampai saat ini, posisi mereka yang mengaitkan diri dengan status "ilmiah", sebagian besar masih berada di sisi berseberangan dengan para Ufolog. Ufologi masih dianggap masuk kepada ranah "pseudo-science" karena banyaknya data-data yang didapatkan tidak bersifat solid, dan metode penelitiannya tidak bisa mengikuti metode baku dunia ilmu pengetahuan. Maka dari itu pula, banyak sajian informasi terkait UFO yang dibuat oleh produser-produser yang merasa dirinya scientifically intellect, rata-rata hanya berusaha meyakinkan para pemirsanya bahwa tidak ada apapun diluar sana, selain dari yang sudah pernah dipetakan dan dokumentasikan para kolega peneliti dan ilmuwan, kedalam suatu sistim pengetahuan yang sudah baku. Diluar itu semua, kalau tidak bisa dibakukan dalam suatu tatanan keilmuan standar, maka dianggap tidak ada.

Namun ini mirip seperti kasus dulu ketika kaum agamis menghakimi Nicolaus Copernicus sebagai sesat, karena berani menentang doktrin mengenai kemuliaan planet Bumi, dengan mengatakan bahwa Matahari adalah pusat Tata Surya, dan planet Bumi bukanlah pusat alam semesta.

Sialnya, jika alam semesta itu ramah dan tidak pelit berbagi informasi (dan penciptanya memang bermaksud untuk menjadikannya sebagai monumen kebesaran-Nya yang bisa dipelajari), sehingga klaim Copernicus lambat laun bisa dibuktikan bersama-sama, maka dalam dunia Ufologi kita berhadapan dengan obyek penelitian yang:

1. Mode operasi standarnya adalah menghindari liputan manusia
2. Sulit dicari sample nya, ataupun direkam outputnya untuk dipelajari
3. Tingkat teknologinya relatif lebih tinggi daripada si pengamat, sehingga terdapat jenjang perbedaan kemampuan penginderaaan yang cukup besar
4. Para penciptanya juga diduga memiliki tingkat intelegensi yang juga lebih tinggi daripada si pengamat sehingga juga terdapat jenjang perbedaan pola pikir yang cukup besar
5. Banyak unsur militer di berbagai negara menganggap topik ini sebagai Above Top Secret terkait keamanan negara sehingga keberadaannya cenderung ditutup-tutupi
6. Banyak pihak yang dianggap memiliki kemampuan untuk mendapatkan data lebih akurat dan melakukan penelitian lebih serius, tidak mau membagi hasil temuannya kepada masyarakat
7. Adanya usaha aktif dari kalangan oposisi, untuk melakukan netralisasi dan negatifisme terhadap keberadaan obyek tersebut, sehingga menambah keengganan para saksi untuk muncul dan mengungkapkan kesaksiannya

Hal ini secara langsung dan tidak langsung, telah membuat puluhan tahun penelitian terhadap topik UFO, tidak berhasil membuahkan satu gebrakan pun yang dianggap berarti, jika dipandang dari sudut pandang ilmiah. Alasan yang sama dipakai pemerintah AS ketika akhirnya menutup Project Blue Book.

Tapi mengutip ucapan Sir Martin Reese, astronomer kenamaan berkebangsaan Inggris, "absence of evidence does not mean evidence of absence" (ketiadaan bukti tidak berarti bukti ketiadaan), maka justru yang seharusnya dilakukan dalam menghadapi topik Ufologi adalah, suatu penerimaan bahwa topik ini tidak bisa diteliti dengan prosedur baku penelitian ilmiah yang sudah ada, yang sudah mapan.

Yang kita perlukan justru bukan memaksa supaya gambar cocok dengan bingkai, alias pemaksaan penggunaan metode standar dan baku penelitian ilmiah karena cuma itu tools penelitian yang ada, tapi pencarian metode penelitian alternatif yang mampu menelaah dengan baik topik ini.

Karena keberadaan UFO sebenarnya bisa dideteksi dan diukur, hanya saja kita belum menemukan teknologi yang tepat. (bay)

Minggu, 04 November 2007

Sejarah Singkat Penampakan UFO

Penyelidikan UFO mendetail pertama di dunia, bisa dibilang terjadi diawal abad ke-13, tepatnya pada 1235 ketika pasukan Jendral Jepang Yoritsume's mengamati fenomena cahaya yang tak dapat dijelaskan di angkasa. Jendral lantas menugaskan sekelompok penyelidik untuk mempelajadi kasus ini, dan akhirnya menawarkan kesimpulan bahwa yang mereka lihat saat itu adalah sekedar bintang, yang bergoyang-goyang karena angin.

Di dunia modern, penelitian serius mengenai fenomena penampakan UFO telah dimulai pada sekitar tahun 1933 terhadap fenomena “Ghost Plane” di Skandinavia dan negara-negara lain di daratan Eropa . Di Australia sendiri, penelitian ini telah dimulai lebih awal lagi yaitu pada tahun 1920, ketika kapal laut SS Amelia J. menghilang di Selat Bass. Hilangnya kapal laut ini, ternyata terjadi bersamaan dengan banyaknya laporan mengenai munculnya sinar-sinar misterius di selat tersebut . Di Amerika Serikat, penelitian dimulai pada tahun 1947 atas kasus perjumpaan UFO yang dilaporkan Kenneth Arnold dalam penerbangannya di Gunung Rainier, AS. Sedangkan di Indonesia, semenjak J.Salatun semenjak J.Salatun menerbitkan buku  “Menjingkap Rahasia piring terbang” pada tahun 1960.

Namun walaupun telah puluhan (bahkan ratusan) tahun berlalu, tetap tidak ada penjelasan memuaskan yang dapat diberikan dari rangkaian penelitian atas fenomena UFO. Dan ternyata, dengan semakin canggihnya teknologi saja, fenomena UFO ini masih tetap menyimpan banyak misteri.

Pada masa abad pertengahan, fenomena penampakan UFO seringkali dikaitkan dengan hal religius, atau superstitius. Tak jarang penampakan UFO di langit dianggap sebagai pertanda dari Tuhan atau dewa-dewa atas musibah yang akan datang, atau menyertai suatu kejadian khusus. Terrmasuk dalam hal ini misalnya beberapa lukisan abad pertengahan yang menggambarkan Yesus atau figur Kristen sakral lainnya, dengan latar belakang benda terbang misterius dilangit.

1561: One of most famous early UFO case, where the citizens of the Nürnberg got into abashed witnesses of strange phenomena above the city. Strangeness of this phenomenon meant lot of cross and saucer like flying objects. Case had noticed by the local media and artist.

Sedangkan pada masa yang lebih kuno, yaitu pada masa prasejarah, penampakan UFO ini seringkali memang dipercayai sebagai peristiwa kedatangan dewa yang mereka sembah, dewa yang pada jaman dahulu mengajarkan kebudayaan dan teknologi pada cikal bakal manusia modern.

Di Amerika Selatan, terdapat beberapa patung kuno peninggalan suku Indian yang menggambarkan dewa mereka yang turun dari langit. Uniknya, dewa yang mereka rupakan ini jika dilihat dengan sudut pandang modern ternyata sangat mirip dengan gambaran seseorang astronot! Astronot yang digambarkan berpakaian antariksa, komplet dengan helm bulatnya, sedang menunggangi roket dengan menghadapi serangkaian panel pengendali!

Pendapat mengenai penampakan dan identitas UFO ini kemudian berkembang seiring dengan mundur dan majunya peradaban-peradaban besar dunia, perkembangan teknologi, dan terutama dengan timbulnya kemampuan manusia untuk melakukan hal yang sama; terbang.

Ketika manusia memiliki kemampuan untuk menjelajah langit, tingkat pertemuan antara manusia dengan UFO pun makin meningkat. Keberhasilan Wright bersaudara untuk menunggangi angin dan membuat pesawat terbang, membuktikan bahwa terbang bukanlah hak eksklusif bangsa burung dan unggas. Dari pencapaian prestasi ini manusiapun lalu melihat fenomena UFO sebagai suatu hal yang lebih terukur dan lebih "membumi", bukan sebagai dewa yang turun dari langit, namun sebagai hasil teknologi maju dari mahluk yang mungkin mirip seperti manusia.

Dari serangkaian penelitian yang kemudian dilakukan terhadap fenomena penampakan UFO, baik oleh pihak militer maupun sipil, maka dapat diambil beberapa anggapan umum mengenai asal-usul dari UFO serta teknologi dan peradaban yang berada dibelakangnya. Adapun pendapat yang berkembang saat ini mencakup asal-usul dan keberadaan UFO sebagai:
  1. Senjata Rahasia Perang
  2. Peradaban Asing Luar Angkasa
  3. Kendaraan Para Dewa
  4. Sisa Peradaban Kuno Canggih
  5. Produk Peradaban Tersembunyi
  6. Eksperimen Militer Negara Adikuasa
  7. Hasil Peradaban Evolusi Alternatif
  8. Penjelajah Waktu Dari Masa Depan
  9. Penjelajah Dari Dunia Paralel
  10. Spesies Biologis Aerial
  11. Jin
(bay)

Penelitian UFO di Indonesia

Indonesia sebagai negara berkembang sebenarnya telah memiliki pencapaian yang cukup berarti dalam penelitian UFO dengan munculnya Marsekal Muda (purn.) J.Salatun, seorang pengamat UFO yang telah diakui dunia internasional. Selama bertugas di militer, Salatun mendapat dukungan dari AURI untuk melakukan penyelidikan atas fenomena UFO lokal dan global. Komandan AU yang menjabat saat itu, Roesmin Nurjadin, 1967 menganggap fenomena UFO sebagai suatu hal nyata dan terjadi pula di Indonesia

"UFOs sighted in Indonesia are identical with those sighted in other countries. Sometimes they pose a problem for our air defense and once we were obliged to open fire on them."

J.salatun sendiri berpendapat penelitian akan fenomena penampakan UFO sebagai suatu hal yang penting terkait masalah keamanan nasional dan dunia.

"The study of UFOs is a necessity for the sake of world security in the event we have to prepare for the worst in the space age, irrespective of whether we become Columbus or the Indians."

Salatun yang sempat menjabat sebagai Ketua LAPAN, hingga saat inipun masih terlibat dalam kegiatan penelitian UFO diantaranya dalam "Sign Historical Group", sebuah workshop internasional yang bertujuan mengumpulkan ahli-ahli Ufologi terkemuka untuk menyusun daftar kejadian dalam sejarah penelitian UFO dunia. Salatun juga merupakan orang yang memiliki ide untuk memberikan istilah dalam bahasa Indonesia yang khas untuk UFO yaitu, "BETA" (Benda Terbang yang Aneh), dan kemudian dikoreksi menjadi "Beterbedi" (Benda Terbang Belum Dikenal). Namun sayangnya, kurangnya perhatian dari pihak pemerintah dalam masa-masa setelahnya, telah membuat penelitian di bidang ini terhenti, dan Indonesia kembali bergabung dengan negara-negara lain dalam ke tak-peduliannya (dan ketidaktahuannya) atas fenomena UFO.

Namun kondisi ini lambat-laun berubah, kala penyebaran informasi terjadi dengan lebih cepat, dan warga Indonesia banyak yang bepergian ke negara lain. Dari buku-buku dan majalah terbitan luar, para peneliti UFO lokal secara tertatih-tatih berusaha mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia Internasional.

Lalu berkaitan dengan imbas dari serial “The X-Files”, setelah disiarkannya film seri ini di salahsatu stasiun TV nasional, serta semakin mudahnya untuk mendapatkan akses internet, animo masyarakat akan fenomena UFO pun kembali meningkat pesat.

Atas dasar kondisi ini, di Indonesia pun kemudian bermunculan kelompok pengamat UFO independen. Salahsatunya, “BETA-UFO”. BETA-UFO didirikan untuk menyelidiki dan mendata fenomena UFO di Indonesia, atas prakarsa beberapa pengamat UFO amatir dari beragam kota di Indonesia.

Pemakaian istilah “BETA” disini merupakan penghormatan kepada istilah yang dimunculkan oleh J.Salatun, untuk menunjukkan identitas kelompok yang berasal dari Indonesia. (bay)

Penelitian Fenomena UFO

Fenomena penampakan UFO dan teori yang berkembang dibaliknya merupakan topik yang misterius. Walaupun setelah berpuluh tahun fenomena ini dipelajari, tidak banyak kesimpulan yang bisa diambil. Hal ini terjadi karena miskinnya data penampakan atau perjumpaan dengan UFO yang bisa dijadikan acuan, serta kecenderungan reaksi negatif dari pihak yang berwajib, masyarakat ilmiah, maupun masyarakat umum.

Jangankan berbicara soal melihat penampakan UFO, kepercayaan bahwa UFO itu sendiri ada, seringkali sudah cukup untuk dijadikan bahan olok-olokan. Pihak berwajibpun tak jarang mendiskreditkan saksi yang melaporkan telah melihat UFO, dengan menganggap mereka hanyalah mengalami halusinasi, memiliki masalah penglihatan, salah mengidentifikasikan hal sederhana (burung terbang, planet Mars, dll.), atau alasan-alasan lainnya yang terkesan dipaksakan (gas rawa, lumba-lumba melompat tinggi, dll.). Hal-hal seperti ini tak jarang membuat ciut nyali saksi mata perjumpaan UFO untuk menceritakan pengalaman mereka, hingga memilih untuk bungkam atau pura-pura tak peduli. Kondisi ini tentu saja menyulitkan peneliti dalam mendapatkan laporan berharga dari kasus-kasus perjumpaan yang benar-benar terjadi.

Kondisi yang buruk ini seringkali ditambah runyam lagi dengan reaksi dari beragam UFO-believer yang kadang melakukan hal-hal ganjil atas nama UFO. Di negara AS misalnya, pada tahun 28 Maret 1997 muncul kegemparan atas aksi bunuh diri yang dilakukan 39 orang pengikut sekte “Heaven’s Gate”, yang mengaku telah mendapat wangsit dari tuhan. Mereka percaya jiwa mereka akan dibawa meninggalkan dunia menuju surga dalam sebuah pesawat ruang angkasa pada waktu yang ditetapkan. Kejadian semacam ini telah menimbulkan reaksi negatif dari masyarakat umum dan khususnya pihak berwajib. Secara otomatis hal semacam ini juga telah membuat suasana penelitian serius di bidang Ufologi semakin mengeruh.

Bagaimana situasinya di Indonesia? (bay)