Rabu, 02 Januari 2013

Buat foto UFO sendiri dengan aplikasi Camera360 di Android





Gimana, cukup meyakinkan?
Lokasi: Salahsatu hotel di Sanur, Bali. (byms)

Kamis, 25 Oktober 2012

Pesawat terbang misterius di langit malam Denpasar, Oktober 2012

Selasa, 23 Oktober 2012, sekitar jam 9 malam.

Awalnya saya ke halaman rumah demi menuruti keinginan Zayan (3.75 tahun) untuk melihat bintang melalui teleskop. Saat peralatan sudah siap pasang, pandangan saya layangkan ke langit ke arah Bulan yang malam itu baru muncul setengah penuh, dengan posisi hampir tegak lurus di atas kepala. Saat itulah saya perhatikan ada sinar terang di langit melintas di samping Bulan. Mulanya saya kira pesawat terbang komersil, namun kemudian ragu karena ada sedikit keanehan:
  1. Sinar berwarna kuning terang hampir putih dan berasal dari satu titik
  2. Selang-seling antara terang, gelap, redup, terang, gelap, redup...
  3. Pada puncak intensitas terangnya kadang seterang lampu blitz
  4. Saat menerang ia tidak langsung memancar dengan intensitas penuh tapi bertahap
  5. Tidak terdengar ada bunyi khas pesawat jet
  6. Tidak ada sinar merah-hijau yang biasa teramati pada lambung pesawat terbang komersil
  7. Kecepatan konstan, setara dengan pesawat terbang biasa, atau sedikit lebih cepat
  8. Ketinggian pun setara dengan pesawat terbang biasa
Pada saat yang bersamaan, di kaki langit ada pesawat terbang rendah. Ditandai kerlip sinar merah-kuningnya, sayapun yakin kalau itu pesawat terbang biasa. Setelah beberapa kali membandingkan antara penampakan di langit tinggi, dan pesawat tersebut, kecurigaan muncul karena pola cahaya dari pesawat yang melintas di atas kepala ini agak tidak lazim.
 
Karena curiga itu bukan pesawat komersil, sayapun bergegas masuk rumah \mengambil pena laser 200 mW dari backpack untuk coba berinteraksi dengan pesawat tersebut. Jika ia UFO maka ada kemungkinan akan bereaksi terhadap sorotan laser. Jika ternyata pesawat terbang komersil biasa, dengan asumsi posisi tepat di atas kepala saya, sinar laser tidak akan masuk kokpit tapi hanya mengenai bagian lambung pesawat sehingga relatif tidak akan mengganggu pilot; jadi kalaupun salah identifikasi tidak berbahaya.

Sayangnya saat kembali ke luar rumah 10 detik berselang dari penampakan terakhir, pesawat tersebut sudah tidak terlihat sama sekali di langit, padahal dari proyeksi kecepatannya, seharusnya ia baru bergeser sedikit jauh saja dari posisi Bulan di malam itu. Kalaupun itu pesawat komersil, mengherankan koq ya menghilang sama sekali? Padahal aturan keselamatan penerbangan mengharuskan pesawat sedemikian untuk menyalakan lampu saat terbang di atas daerah perkotaan. 

Sementara itu pesawat komersil yang teramati di kaki langit masih tetap terlihat jelas... dan suaranya bergemuruh.

Tapi yah, yang tadi itu mungkin memang cuma pesawat terbang biasa, dengan lampu jenis baru. (byms)

Selasa, 04 September 2012

Kemungkinan adanya mahluk cerdas serupa manusia sebelum Nabi Adam AS menurut tafsir Quraish Shihab

Earth from Space
Earth from Space (Photo credit: Wikipedia)
Adakah mahluk cerdas di dunia ini sebelum Adam AS diciptakan? Tentu saja, karena sebelum menciptakan Adam AS yang kita percayai sebagai manusia pertama, Allah SWT telah terlebih dahulu menciptakan Malaikat, dan Jin, yang keduanya memiliki kemampuan berpikir, dan tingkat intelegensia tinggi. Adapun pertanyaan yang sulit terjawab adalah, adakah mahluk cerdas serupa manusia yang pernah Allah SWT ciptakan sebelum Adam AS?

Pertanyaan ini muncul kala kita meninjau surat Al Baqarah ayat 30 (QS 02:30) dimana di dalamnya termuat kisah mengenai dialog antara malaikat dan Allah SWT, yang menyiratkan kekhawatiran malaikat akan sifat manusia terkait penugasannya sebagai khalifah di muka Bumi.
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS 02:30)
Adapun ungkapan yang terlontar dari malaikat tersebut menyiratkan seolah malaikat bisa menebak bagaimana sifat-sifat dari mahluk yang akan Allah ciptakan dan jadikan khalifah ini, sementara saat dialog berlangsung pengukuhan status khalifah dari manusia ini sudah dicanangkan, tapi belum dilaksanakan. Adapun manusianya sendiri (Adam AS) belum (atau baru saja) Allah ciptakan, sehingga cukup membingungkan bagaimana malaikat bisa dan berani menebak sifat dari mahluk baru ciptaan Allah ini. Apakah malaikat memiliki kemampuan meramal, atau mereka sekedar melakukan stereotyping?

Dalam menjawab pertanyaan ini, maka tafsir Al Misbah tulisan Quraish Shihab bisa memberikan petunjuk yang menarik, khususnya dalam penafsiran surat Al Baqarah ayat 30 (QS 02:30) tersebut, sebagai berikut:
"Sesungguhnya Aku akan menciptakan khalifah di dunia" demikian penyampaian Allah SWT.  Penyampaian ini bisa jadi setelah proses penciptaan alam raya dan kesiapannya untuk dihuni manusia pertama (Adam) dengan nyaman. Mendengar rencana tersebut, para Malaikat bertanya tentang makna penciptaan tersebut. Mereka menduga bahwa kahlifah ini akan merusak dan menumpahkan darah. Dugaan itu mungkin berdasarkan pengalaman mereka sebelum terciptanya manusia, dimana ada mahluk yang berlaku demikian, atau bisa juga berdasar asumsi bahwa karena yang akan ditugaskan menjadi khalifah bukan malaikat, pasti mahluk itu berbeda dengan mereka yang selalu bertasbih menyucikan Allah SWT. 
Namun demikian Quraish Shihab juga mengutarakan bahwa mungkin saja malaikat berlaku demikian berdasar poses penalaran sebagai berikut:
Pertanyaan mereka itu juga bisa lahir dari penamaan Allah terhadap mahluk yang akan dicipta itu dengan "khalifah". Kata ini mengesankan makna pelerai perselisihan dan penegak hukum sehingga dengan demikian pasti ada diantara mereka yang berselisih dan menumpahkan darah. Bisa jadi demikian dugaan malaikat sehingga muncul pertanyaan mereka.
Adapun kemungkinan telah adanya mahluk cerdas di Bumi sebelum Adam AS, disiratkan dari pemberian istilah "khalifah" itu sendiri:
Perlu dicatat bahwa kata "khalifah" pada mulanya berarti "yang menggantikan" atau "yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya". Atas dasar ini, ada yang memahami kata khalifah di sini dalam arti yang menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan2-Nya, tetapi bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan, namun karena Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan. Ada lagi yang memahaminya dalam arti yang menggantikan mahluk lain dalam menghuni bumi ini.
Jadi jika mengacu pada tafsir dari Quraish Shihab tersebut, maka surat Al Baqarah ayat 30 ini bisa jadi memang menyiratkan kemungkinan pernah adanya mahluk ciptaan Allah yang malaikat ketahui memiliki kebiasaan menumpahkan darah dan membuat kerusakan; dengan wujud yang mirip Adam AS sehingga memungkinkan malaikat untuk langsung melakukan asosiasi dan stereotyping; dan dengan tanggung-jawab yang setara (khalifah), di tempat dan waktu lain, sehingga malaikat merasa wajar untuk menyandingkannya dengan Adam AS.

Berdasarkan penelaahan akar kata "khalifah" itu sendiri tersirat makna bahwa mahluk mirip Adam AS ini memiliki kapasitas untuk memimpin, melerai perselisihan dan menegakkan hukum; yang semuanya adalah karakter dari mahluk cerdas.

Kemudian berangkat dari asal kata "khalifah" sebagai pengganti dari mahluk lain yang menghuni Bumi, menyiratkan arti bahwa sebelum Adam AS turun ke Bumi, Bumi telah memiliki penghuni, namun apakah penghuninya ini mahluk cerdas, atau mahluk serupa manusia tidak dijelaskan di ayat ini.

Adapun mengenai pendapat bahwa kemungkinan Malaikat berujar demikian karena mereka memiliki kemampuan melihat ke masa depan, dan memiliki akses ke kitab Lauh Mahfuzh, tidak disinggung sama sekali dalam tafsir ini, sehingga muncul suatu indikasi bahwa memang Malaikat tidak memiliki kemampuan sedemikian.

Jadi apakah betul ada mahluk cerdas serupa manusia, sebelum Adam AS diciptakan? Menurut penafsiran Quraish Shihab atas ayat ini kemungkinan besar iya. (byms)

Referensi:
01. M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah, Buku 1, hal 172-173

Enhanced by Zemanta

Senin, 30 Juli 2012

Apakah Uwais Al Qarni Anunnaki Alien?

Dalam sebuah artikel tulisan Kanzun Qalam "Misteri ANUNNAKI (ALIEN), di masa kehidupan RASULULLAH?" diungkapkan suatu hipotesa mengejutkan bahwa di jaman Rasulullah SAW hidup, teridentifikasi kemungkinan adanya Alien, atau mahluk luar angkasa yang hidup diantara manusia. Lebih lanjut lagi Alien ini diduga sebagai bagian dari Anunnaki: dewa yang dipercayai dan disembah oleh masyarakat dalam mitologi Sumeria kuno. Benarkah demikian? 

Anunnaki = Alien?

Dalam pandangan penulis walaupun hipotesanya menarik (dan akhirnya dipatahkan sendiri oleh penulisnya), ada beberapa ketidaksesuaian faktual disana yang agak rancu, misalnya mengenai penyamarataan istilah Alien sebagai Anunnaki, padahal "Anunnaki" bukanlah kata ganti untuk "Alien" secara umum, namun secara spesifik mengacu suatu entitas yang spesifik: entitas super yang menurut penafsiran Zecharia Sitchin dalam seri buku "Earth Chronicles", adalah ras Alien super yang berasal dari planet Nibiru, dan pencipta manusia Bumi; suatu paham yang bertentangan dengan kepercayaan Islam bahwa Allah SWT lah yang menciptakan manusia Bumi.



Jikapun bukan dari ras Anunnaki, betulkah Uwais Al Qarni itu sendiri seorang Alien? Pertanyaan ini muncul berdasarkan hadist yang dikutip di artikel tersebut sebagai berikut:
Rasulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qorni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau, memandang kepada Ali bin Abi Thalib r.a. dan Umar bin Khattab r.a. lalu bersabda : “Suatu saat apabila kalian bertemu dengan dia mintalah do’a dan istighfarnya, karena dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”
Untuk menjawab pertanyaan ini, maka dari beberapa artikel referensi dijelaskan bahwa Uwais tidak berasal dari planet lain di luar angkasa, bukan juga Alien, namun ia seorang manusia biasa yang berasal dari Yaman, dengan silsilah yang jelas keturunan siapa2nya. Uwais juga bukanlah orang asing di tengah-tengah kaumnya, dan diketahui betul kapan lahirnya dan seperti apa hidupnya.

Yang membedakan dari sisi duniawi, adalah Uwais itu sangat miskin sehingga seringkali tidak terlalu dianggap oleh kaumnya sendiri, namun demikian ada sesuatu yang spesial mengenai Uwais sehingga Rasulullah SAW memandang tinggi derajat beliau.

Adapun terkait hadist yang menyatakan Uwais adalah "penduduk langit" sehingga dianggap sebagai kemungkinan statusnya sebagai Alien, dalam tafsir internasional kita dapati tafsir yang cukup berbeda:
"He wears a woolen garment and is known to the people of the heavens" (bagian dari hadist Qudsi diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.)
Jika kita lihat bagian kata "...and is known to the people of the heavens" maka terjemahan yang lebih tepat adalah "dikenal baik oleh para penduduk Surga", bukan "Uwais adalah manusia dari langit (luar angkasa)." Adapun cerita yang kemudian mengiringi hadist tersebut menceritakan keistimewaan Uwais ini lebih dalam konteks karena keimanan, kemuliaan akhlaknya, termasuk pengabdiannya yang nyaris sempurna kepada ibunya.

Islam mengukur derajat berdasar amal-amalan

Hal yang juga membuat condong kepada alasan status "penduduk langit" nya Uwais berdasarkan keimanan, bukan karena ia Alien ataupun Anunnaki adalah Islam tidak mengutamakan derajat seseorang berdasarkan rupa, ras, pangkat, ataupun dari planet mana ia berasal, melainkan berdasarkan amal-amalannya.
"Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." ~QS Al-an’aam: 132.
Diriwayatkan dalam hadist pula, kala Uwais ini pada saat Hari Akhir nanti akan diberikan Allah SWT hak untuk syafaat, yang diilustrasikan juga adalah syafaat sebanyak jumlah kaum Rabi'a dan Mudhar: dua suku Uwais di Yaman; bukan suatu ras tak dikenal dari planet di luar Bumi, ataupun Anunnaki.
Adapun "tanda putih" pada telapak tangan yang dikutip di situs-situs Indonesia, dalam artikel luar dijelaskan bukan sebagai tanda khusus semisal tanda kenabian, namun sebagai bekas penyakit kulit serupa kusta, berwarna putih sebesar uang dirham, dan adanya di bawah bahu sebelah kiri. Silakan baca cuplikan hadist-hadist di bawah ini untuk bahan bacaan lebih lanjut. (byms)

Hadist-hadist terkait Uwais Al Qarni:

'Umar b. Khattab reported: I heard Allah's Messenger (may peace be upon him) as saying: Worthy amongst the successors would be a person who would be called Uwais. He would have his mother (living with him) and he would have (a small) sign of leprosy. Ask him to beg pardon for you (from Allah). ~Muslim :: Book 31 : Hadith 6171

Usair b. Jabir reported that a delegation from Kufa came to 'Umar and there was a person amongst them who jeered at Uwais. Thereupon Umar said: Is there amongst us one from Qaran? That person came and Umar said: Verily Allah's Messenger (may peace be upon him) has said: There would come to you a person from Yemen who would be called Uwais and he would leave none in Yemen (behind him) except his mother, and he would have the whiteness (due to leprosy) and he supplicated Allah and it was cured except for the size of a dinar or dirham. He who amongst you meets him should ask him to supplicate for forgiveness (from Allah) for you. ~Muslim :: Book 31 : Hadith 6170

Another narration is: `Umar said: "I heard Messenger of Allah saying, `The best one of the next generation (At-Tabi`un) is a man called Owais, he will have a mother and he will be suffering from leucoderma. Go to him and ask him to pray for forgiveness for you". ~Muslim.

In a Hadith Qudsi recorded by the Companion Abu Hurayra, may Allah be pleased with him, the Prophet Muhammad, upon whom be peace and blessings, said speaking on behalf of his Lord:

"Allah, Exalted and Mighty is He, loves of His creation the God-fearing, the pure in the heart, those who are hidden, and those who are innocent, whose face is dusty, whose hair is unkempt, whose stomach is empty, and who, if he asks permission to enter to the rulers, is not granted it, and if he were to ask for a gentle lady in marriage, he would be refused, and when he leaves the world it does not miss him, and if he goes out, his going out is not noticed, and if he falls sick, he is not attended to, and if he dies, he is not accompanied to his grave."

They asked him, "O Messenger of Allah, how can we find someone like that?" He, upon whom be peace and blessings, said, "Uwais al-Qarani is such a one."

Concerning the hadith of the Prophet, upon whom be peace and blessings, "More people shall enter Paradise through the intercession of a certain man from my Community than there are people in the tribes of Rabi`a and Mudar,"[1] al-Hasan al-Basri said: "That is Uwais al-Qarni."

Jumat, 27 Juli 2012

Film The Fourth Kind kisah nyata atau hoax?

The Fourth Kind
The Fourth Kind (Photo credit: Wikipedia)
Dari sekian banyak film yang membahas mengenai UFO & Aliens, film "The Fourth Kind" bisa jadi yang paling memancing pertanyaan dari para penonton Indonesia, karena bisa jadi inilah filmyang bertema semi-dokumenter mengenai peristiwa Alien abduction (penculikan oleh Alien), atau yang dunia Ufologi klasifikasikan sebagai penampakan UFO dari kategori "CE4" alias "Close Encounter of the 4th Kind".

Adapun film-film lainnya yang berkisah mengenai Alien Abduction misalnya "Close Encounters of The Third Kind (1977)", "Communion (1989)", dan "Fire in The Sky (1993)"; dua judul terakhir tersebut berbasis pada kisah nyata, tidak ditayangkan di bioskop Indonesia sehingga luput dari perhatian penonton film-film sci-fi Indonesia.

Terkait judul film "The Fourth Kind sendiri", istilah ini sendiri muncul mengacu pada hasil penelusuran Ufolog kenamaan J. Allen Hynek, yang menjadi konsultan utama Project Blue Book AU AS, dan menyelidiki sekitar 12,000 kasus penampakan UFO yang diterima AU AS di era tahun 1950an. Dari hasil penyelidikan tersebut, Hynek menerbitkan klasifikasi penampakan UFO kedalam beberapa golongan berdasarkan karakteristik dari penampakan yang terjadi (1).

Sedangkan mengenai keaslian dan klaim dari film The Fourth Kind sebagai berbasis pada kisah nyata, ternyata tak lebih dari sekedar marketing gimmick, mengikuti jejak kesuksesan cara marketing serupa yang dilakukan oleh film "The Blair Witch Project (1989)", dan "Paranormal Activity (2007)" film ini bukanlah "berdasarkan kisah nyata" ataupun film semi-dokumenter, tapi fiksi.

Cover of
Cover of The Blair Witch Project
Baik tokoh cerita utama, Dr. Abigail Tyler, kasus kehilangan anaknya karena Alien Abduction, maupun banyaknya warga Nome, Alaska, yang hilang karena diculik Alien, termasuk footage yang ditampilkan di beberapa bagian film, semuanya fiktif, alias rekayasa belaka (2)(3).

Lantas apakah seluruh elemen dalam film ini merupakan hoax? Sebenarnya tidak, setidaknya dalam hal-hal berikut ini:
  1. Kasus Alien Abduction adalah salahsatu fenomena yang dipelajari dalam Ufologi dan dipercaya sebagai nyata 
  2. Kemampuan Alien untuk menghapus pikiran para korban abduction, atau melakukan False Memory Implantation (FMI) - penanaman ingatan yang berbeda sebagai selubung atas kejadian yang sebenarnya, ini juga merupakan kejadian yang berbasis pada kisah nyata para korban Alien abduction 
  3. Kemungkinan seorang psikolog untuk melakukan hypnosis regression untuk membuka ingatan korban abduction mengenai apa yang terjadi sebenarnya, adalah praktik yang banyak dipakai Ufolog dalam menyelidiki kasus kemungkinan Alien abduction 
Adapun mengenai korban Abduction yang terus menerus kerasukan Alien, lalu melakukan hal-hal diluar kewajaran seperti terbang atau mematahkan diri sendiri, sejauh ini tidak ada padanannya dalam kasus di dunia nyata. Begitu juga mengenai komunikasi Alien dalam bahasa Sumeria Kuno, ini adalah kisah fiktif yang mengakar pada legenda Anunnaki: dewa Sumeria kuno. Sejauh yang Ufologi ketahui, banyak jenis Alien lebih memilih berkomunikasi secara telepatik, atau kalaupun secara verbal maka yang mereka pakai adalah bahasa yang terkini yang dikenal oleh saksi, bukan bahasa kuno yang sudah tidak pernah dipakai lagi.

Saya pribadi jika pada awalnya cukup terhanyut dengan aneka ragam footage yang ditampilkan, serta munculnya ciri-ciri telah terjadinya FMI, mulai buyar konsentrasi dan rusak ilusi filmnya, ketika korban Abduction yang diwawancara menunjukkan tanda-tanda kerasukan ala film "The Exorcist (1973)", dan Alien yang dibicarakan berbicara dalam bahasa Sumeria kuno. Padahal baik premise maupun prolog filmnya cukup menarik.

Jadi apakah film "The Fourth Kind" ini berdasar kisah nyata? Secara faktual tidak, tapi sebagian elemen cerita yang dipakai betul mengacu pada kasus-kasus Alien abduction yang asli.


Jika anda tertarik dengan film mengenai kisah Alien Abduction yang berdasar kisah nyata, silakan tonton "Fire in The Sky" yang bercerita mengenai kisah penculikan Travis Walton, salahsatu kasus Alien abduction paling terkenal di dunia Ufologi, atau "Communion" yang mengisahkan kasus Alien abduction terhadap Whitley Strieber. (byms)


Referensi:
Enhanced by Zemanta