Kamis, 16 Juni 2011

Apakah Alien beragama dan memiliki Tuhan?

Berikut ini satu cuplikan menarik dari kesaksian perjumpaan dengan UFO dalam kategori CE-5 yang dikutip dari buku "Beyond Top Secret" karya Timothy Good:
"Sid Padrick was taken into what was referred to by the visitors as a 'consultation room'. The colour effect in this room defied description. `Would you like to pay your respects to the Supreme Deity?' he was asked".
"Sid Patrick dibawa ke sebuah ruangan yang disebut oleh para pendatang (Ufonaut, red.) sebagai "ruang konsultasi". Efek warna dari ruangan ini tidak bisa ia gambarkan. 'Apakah anda mau memberikan penghormatan pada Yang Maha Kuasa?', begitulah pertanyaan yang terlontar".
"When he said that I almost fainted. I didn't even know how to accept it. I said to him, 'We have one, but we call it God. Are we talking about the same thing?' He replied, 'There is only one.'. . . So I knelt and did my usual prayer. . . Until that night I had never felt the presence of the Supreme Being - but I did feel Him that night".
"Ketika ia mengatakan ini saya hampir pingsan. Saya bahkan tidak tahu bagaimana harus menerimanya. Saya katakan padanya, 'Kami memilikinya juga, namun kami memanggilnya Tuhan. Apakah kita bicara mengenai hal yang sama?' Iapun menjawab, 'Memang hanya ada satu.'... Jadi saya berlutut dan melakukan do'a saya yang biasanya... Hingga malam itu saya tidak pernah merasa kehadiran Tuhan - namun saya dapat merasakan Nya di malam itu."
It's obvious that they are on a very high scientific level, but their relation with the Supreme Being means a lot more to them than their technical and scientific· ability and knowledge. I would say that their religion and their science are all in one.

"Adalah suatu hal yang jelas bahwa mereka berada pada tingkat teknologi yang sangat tinggi, namun hubungan mereka dengan Yang Maha Kuasa berarti banyak pada mereka dibanding kemampuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Saya hendak mengatakan bahwa agama dan ilmu pengetahuan mereka adalah suatu kesatuan".

"Padrick was taken back to where he had been picked up two hours earlier, then stepped out of the craft and walked home"

"Padrick kemudian dibawa kembali ke tempat dimana ia dijemput dua jam sebelumnya, lalu melangkah keluar dari pesawat dan berjalan pulang".
Referensi: http://gratisenergi.se/beyond.htm
(byms)

Rabu, 08 Juni 2011

Kemungkinan Nikel sebagai kunci untuk memahami Crop Circle Sleman, DI Yogyakarta, 2011

Setelah membaca buku "Menguak Misteri Crop Circle di Indonesia", yang dieditori oleh Muhammad Nur, ahli Fisika Plasma dari FMIPA UNDIP, terkait hasil penelitian dari tim FMIPA UNDIP, bisa diketahui kalau karakteristik-karakteristik khas dari Crop Circle (CC) yang asli, teramati juga pada CC yang terjadi di Sleman ini (CC1-2011 Sleman) sebagai berikut:

  • Batang padi membengkok pada ruasnya, tidak patah
  • Terjadi kerusakan dalam level mikroskopis terhadap sel epidermis padi
  • Hancurnya amilum padi
  • Menggembungnya ruas batang padi yang dibengkokkan
  • Adanya bekas kecoklatan pada batang padi yang menunjukkan adanya pemanasan
  • Melonjaknya kadar Nitrogen pada batang padi dan tanah di lokasi CC
  • Berubahnya bentuk sel dari silinder menjadi lonjong pada bagian padi yang membengkok
  • Kerusakan sel pada permukaan daun padi
  • Ditemukannya jejak partikel nikel di tanaman padi dalam lokasi CC
  • Dll.

Dari hasil penelitian laboratorium tersebut maka bisa disimpulkan kalau CC Sleman ini bukanlah buatan manusia dengan menggunakan papan, tali, dan pasak; walaupun pola yang terbentuk sendiri sangat mungkin dirancang oleh manusia biasa karena tidak melibatkan perhitungan yang terlalu rumit.

BUKAN BUATAN UFO?

Kesimpulan yang tertuang dalam buku ini sendiri menyatakan kalau CC tersebut terbentuk karena "angin ion dan vortex plasma". Walaupun ini terkesan mengeliminasi keberadaan UFO sebenarnya tidak juga, karena pertanyaan berikutnya yang pasti akan muncul adalah:

"Siapakah di Indonesia yang memiliki teknologi (penciptaan), pengendalian, dan pemanfaatan angin ion dan vortex plasma untuk membengkokkan tanaman padi secara selektif, dan membentuk pola yang kompleks?"

Dalam buku tersebut dinyatakan pula bahwa ada kemungkinan kuat kalau CC ini terbentuk oleh perangkat yang terbang melayang di udara, di atas terbentuknya formasi CC, karena jika dilakukan dengan alat berat yang dipancang di tanah maka akan menimbulkan jejak yang jelas, sedangkan perangkat yang mereka miliki di laboratorium untuk menciptakan petir buatan saja sangat rumit dan memiliki ukuran yang tidak kecil.

Adapun komentar buku ini mengenai kemungkinan CC dibuat oleh UFO adalah "Keberadaan UFO belum bisa diterima oleh dunia akademis".

Jadi sebenarnya buku ini sudah memaparkan dengan cukup pintar bahwa:

  • Teknologi pembuatan CC tidak dimiliki manusia (sejauh yang mereka ketahui)
  • Namun untuk bisa menyatakan kalau CC ini dibuat oleh UFO mereka tidak bisa, karena kurangnya data untuk penelitian ke arah ini, dan didukung pula oleh kondisi dimana keberadaan UFO belum diakui oleh dunia akademis, termasuk di Indonesia.


Jadi dalam hal ini bisa dibilang bahwa ini adalah jawaban yang "aman" namun kritis dan berbobot.

MENGAPA NIKEL?

Adapun faktor yang kemudian membedakan dari CC lainnya di dunia adalah sebagai berikut:

  • Terjadi di lahan padi (walaupun bukan satu-satunya kejadian di dunia)
  • Mengandung partikel nikel, sementara biasanya besi

Jika faktor lahan padi dianggap keterbatasan tempat dan pilihan (karena di Indonesia tidak terdapat lahan gandum atau jagung dalam skala besar?), maka faktor pembeda yang khas, bisa jadi adalah adanya kandungan partikel nikel ini; yang mana menimbulkan pertanyaan, mengapa nikel?

Apakah dalam kemunculan partikel Nikel, bukannya Besi, terdapat suatu unsur kesengajaan, yang bisa diartikan sebagai pesan? Inikah kunci pemecah teka-teki kemunculan Crop Circle di Sleman ini? (byms)

Gambar buku dari: http://www.grahailmu.co.id/index/buku/detil/0/1/2/29/buku759.html

Jumat, 15 April 2011

Klasifikasi Baru Penampakan UFO

Seiring dengan perkembangan dunia Ufologi, maka terjadi pulalah pengembangan pada standar klasifikasi penampakan UFO yang banyak dipakai oleh para peneliti UFO, yaitu klasifikasi sistem Hynek. Klasifikasi ini aslinya digagaskan oleh astronomer and peneliti UFO J. Allen Hynek dalam bukunya "The UFO Experience: A Scientific Inquiry" yang terbit pada tahun 1972. Jenis penampakan yang Hynek cantumkan di sana dibagi berdasarkan tiga kategori:
  1. Close Encounter of the First kind (CE-1); penampakan satu atau lebih UFO mencakup: piring terbang, cahaya aneh, benda angkasa yang tidak bisa dikaitkan terhadap teknologi manusia yang diketahui
  2. Close Encounter of the Second kind (CE-2); penampakan UFO, beserta efek fisik yang terkait dengan UFO tersebut, termasuk: panas atau radiasi, kerusakan pada lahan, Crop Circles, kelumpuhan pada manusia (Catalepsy), hewan yang ketakutan, gangguan pada mesin atau TV atau penerimaan radio, serta adanya bagian waktu yang dirasa hilang (Lost Time) dari ingatan saksi penampakan UFO
  3. Close Encounter of the Third kind (CE-3); Pengamatan adanya entitas/mahluk hidup ("animate being" dalam istilah Hynek) dalam kasus penampakan UFO, tanpa berasumsi mengenai asal-usul mahluk tersebut (tidak pasti harus Alien atau Extra Terrestrial). Terkait CE-3 ini, peneliti UFO Ted Bloecher kemudian mengajukan 6 sub-jenis sebagai berikut:
  • A: Entitas teramati hanya dalam UFO
  • B: Entitas teramati baik di dalam maupun di luar UFO
  • C: Entitas teramati dekat UFO namun tidak dalam posisi masuk atapun keluar 
  • D: Entitas teramati tanpa adanya UFO, namun aktivitas UFO telah dilaporkan terjadi di area tersebut pada waktu yang kurang lebih bersamaan
  • E: Entitas teramati tanpa adanya UFO, dan tidak ada aktivitas UFO dilaporkan dari area tersebut pada waktu yang kurang lebih bersamaan
  • F: Tidak ada entitas atau UFO yang teramati, namun subyek mengalami adanya suatu bentuk "intelligent communication" (komunikasi cerdas) 
Adapun kategori yang baru ditambahkan belakangan adalah Close Encounter of the Fourth Kind (CE-4); Adanya manusia yang diculik (abducted) oleh UFO maupun penghuninya. Adapun Jacques Vallee, rekan peneliti UFO Hynek, beranggapan bahwa CE-4 seharusnya dideskripsikan sebagai "kasus dimana saksi penampakan mengalami transformasi pada persepsi atas kenyataan yang mereka miliki" sehingga mencakup juga kasus-kasus non-penculikan dimana kejadian-kejadian absurd, halusinatif, dan mirip mimpi diasosiasikan dengan penampakan UFO. 

Sedangkan kategori yang ditambahkan paling akhir adalah Close Encounter of the Fifth Kind (CE-5) yang digagaskan oleh Steven M. Greer dari kelompok peneliti UFO CSETI; perjumpaan dengan kontak dua arah, yang terjadi melalui kesadaran, sukarela dan digagas secara proaktif oleh manusia, atau komunikasi bersahabat dua arah dengan mahluk cerdas luar bumi (ETI - Extraterrestrial Intelligence). Uraian lengkap mengenai kategori CE-5 ini bisa didapat di halaman website CSETI mengenai CE-5. 

Karena berbasis pada komunikasi yang digagas proaktif oleh manusia, Steven M Greer bersama CSETI kemudian menyusun suatu protokol untuk melaksanakan CE-5 ini, dan menfasilitasinya melalui pelatihan bertajuk "Ambassador to the Universe & Consciousness Trainings/Expeditions". Adapun CSETI CE-5 Contact Protocols yang diajarkan ini mencakup teknik-teknik yang dianggap efektif untuk melakukan kontak dan berkomunikasi dengan para ETI atau Aliens ini, mencakup pelatihan tingkat lanjut dalam meditasi matra beserta pembelajaran Sanskrit Vedas kuno, pelatihan tingkat lanjut dalam teknik Remote Viewing (penglihatan jarak jauh), Precognition (melihat ke masa depan), dan the Science of Consciousness. Termasuk juga dalam pelatihan adalah pengaruh dari Sanskrit Puja, suatu bentuk upacara Vedic untuk menciptakan tempat suci untuk berkomunikasi.

Sedangkan klasifikasi lebih lanjut yaitu CE-6 yang digagaskan oleh Michael Naisbitt (mengakibatkan luka atau kematian saksi); dan CE-7 oleh The Black Vault Encyclopedia project (terjadinya hubungan sexual antara saksi dengan ETI sehingga menghasilkan ras hibrida), menurut Wikipedia tidak bisa dimasukkan kedalam standarisasi karena dianggap sudah dicakup, atau malah bertentangan dengan klasifikasi yang sudah ada. (byms)

Kamis, 03 Maret 2011

Bicara Ufologi di "Clubsky" Trax FM Jakarta

Tadi malam saya diundang mewakili BETA-UFO Indonesia menjadi narasumber buat wawancara tentang UFO di "Clubsky"nya radio Trax FM 101.4 Jakarta. Sesuai dengan kalangan pendengarnya yang rata-rata adalah kaum muda  yang penuh rasa penasaran, maka topik yang dibahas pun lebih ke dasar-dasar Ufologi seperti; apakah itu UFO, benarkah mereka ada, dari manakah mereka berasal, apa tujuan para Alien datang ke Bumi, dan apakah pernah terjadi kasus penculikan (Abduction) oleh Aliens di Indonesia.

Sesi awal diawali dengan temuan mengenai topik ini oleh para host; Ryo dan Molen, selanjutnya disusul oleh Ufonesia diwakili Irfan yang membahas sebagian topik tersebut, termasuk soal keaslian Crop Circle yang muncul beberapa waktu lalu ;-), dan disusul BETA-UFO di segmen ke dua sebagai penutup yang membahas lebih ke arah Alien Abduction. 

Acara yang menarik, cuma mungkin waktunya yang rada bikin ngantuk secara di Denpasar waktu itu sudah lewat tengah malam saat on-air :). Thanks buat Oscar, Ryo, Molen yang sudah mengangkat topik Ufologi kepada para pendengarnya, dan mengundang kami untuk jadi narasumber. 

Sayangnya juga baru tau kalau Trax FM ternyata bisa dipantau secara online streaming via alamat ini. Kalau tahu lebih awal mungkin sudah dikabar-kabari kesana kemari supaya pada ikut mendengarkan. (byms) 

Senin, 28 Februari 2011

Cahaya kelap-kelip teramati dalam penerbangan Bandung - Denpasar 24 Feb 11

Dalam penerbangan sore Bandung-Denpasar hari Kamis lalu (24 Feb 11), adik saya melaporkan bahwa pada suatu saat ia melihat keluar jendela pesawat dan menemukan pemandangan aneh di kejauhan; sumber cahaya yang berganti warna dan berkelip cepat, tidak bergerak, di ketinggian hampir sama dengan pesawat, yang saat itu sedang sama-sama berada di atas awan, serta tidak kelihatan bentuk bendanya seperti apa; hanya cahayanya saja.

Semula ia kira ini cahaya dari tiang pemancar radio, namun dalam pemikiran saya mengingat ketinggian jelajah pesawat komersil adalah sekitar 28,000 kaki (sekitar 8,5 km) rasanya sangat kecil kemungkinan ada tiang pemancar radio yang menjulang hampir setinggi dari Mt. Everest, Himalaya (8,8 km), di tanah Jawa pula.

Kemungkinan pesawat lain juga bisa dihapus karena obyek teramati tidak bergerak, sedangkan untuk balon udara saya kurang tahu apa ada jenis balon udara yang bisa mengambang stasioner maupun dilengkapi dengan piranti lampu dengan karakteristik sedemikian. Jadi kemungkinan besar yang dilihat si adik memang UFO.

Sayangnya ia tidak tahu persis posisi pesawat saat itu (wajar saja), maupun mengetahui dengan tepat waktu saat itu, sehingga posisi pesawat di peta tidak bisa dipastikan. (byms)