Kamis, 09 Februari 2012

Bintang Berjalan Merah Redup di atas Pulau Serangan, 6 Feb 2012

Senin 6 Feb 2012 lalu, saat itu pulang kantor sekitar jam 7an, dan udara jarang-jarang cerah. Dari pelataran parkir belakang kantor di dekat Pulau Serangan, Bali ini, terlihat sang rembulan menyala gagah menerangi langit malam di atas Pulau Serangan. Sedikit disayangkan, adalah kondisinya yang belum purnama sempurna karena berdasarkan penanggalan Hijriah, malam itu baru tanggal 13 Rabiul Awal, sehari setelah Maulid Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam.

Sesuai juklak, maka jika kondisi "malam hari" bertemu dengan "langit cerah", maka hasilnya adalah: waktunya berburu UFO! Segera sayapun keluarkan dari tas ransel, bagian-bagian dari pena laser 200 mW (mili Watt) untuk disusun. Sengaja saya simpan terpisah karena ternyata perangkat ini terus menerus memakan baterai saat tidak dipakai sekalipun jika disimpan dalam keadaan utuh. Dengan cara ini, saya bisa berhemat penggunaan baterai AAA dari sekitar 1 mingguan ke berbulan-bulan.

Segera setelah pena siap, sayapun mengarahkan laser ke beberapa awan yang terbang rendah. Di kejauhan tampak titik kuning redup dengan iringan flashing dari lampu-lampu merah dan hijau: pesawat terbang komersil. Bukan ini yang saya cari. Sinar lasernya sendiri, ternyata bisa menjangkau hingga ke awan rendah, terbukti dari adanya bulatan (spot) teramati di awan yang kena tembak laser.

Setelah secara acak menembakkan laser ke berbagai penjuru langit, sayapun fokus ke bagian langit di atas kepala dan mulai membiasakan mata terhadap kondisi langit yang gelap ini.

Kamis, 29 September 2011

Panduan Identifikasi UFO: Layang-Layang Berlampu

Salahsatu masalah dalam identifikasi penampakan UFO secara visual, adalah semakin banyaknya benda terbang buatan manusia yang entah disengaja atau tidak, memiliki penampilan mirip UFO. Karena itu sebagai seorang pengamat UFO, merupakan hal yang sangat penting untuk selalu memperbarui pengetahuannya dengan perkembangan terkini, terutama terkait benda terbang buatan; baik itu yang dibuat dengan teknologi tinggi, maupun dengan teknologi relatif sederhana, dan bisa dibuat dengan mudah sehingga populer di masyarakat umum.

Salahsatu benda terbang yang masuk kategori terakhir tersebut, dan seringkali diduga oleh pengamat sebagai UFO, adalah layang-layang/layangan/wau berlampu.

Seiring mudahnya dan murahnya memperoleh lampu LED beserta sumber listriknya, maka melengkapi sebuah layang-layang dengan sumber cahaya bukanlah lagi masalah sekarang. Terlebih dengan ukuran layang-layang yang kadang bisa mencapai rentang tiga meter, maka sumber cahaya yang lebih kuat, sekaligus rangkaian elektronik untuk memanipulasi pola tampilan cahayanya, bisa juga dipakai.

Namun demikian, walaupun dari penampilan di waktu malam sama-sama misterius seperti UFO sungguhan, ada beberapa karakteristik yang konsisten teramati pada layang-layang berlampu ini, terutama karena ketergantugannya pada adanya tali pengikat ke bumi, dan cara terbangnya yang sepenuhnya memanfaatkan hembusan angin.

Secara umum, penampakan layang-layang berlampu ini marak di sekitar mulainya musim kemarau, hingga berakhirnya, yaitu antara bulan Juli hingga Desember. Di beberapa tempat, semisal di Bali, malah bulan-bulan ini dimanfaatkan untuk mengadakan lomba layangan, memanfaatkan kondisi langit cerah tak berawan, dan besarnya angin yang berhembus.

Karena besarnya layang-layang yang diperlombakan di ajang seperti ini, maka seringkali untuk menerbangkannya pun perlu usaha ekstra keras menggunakan bantuan seperti kendaraan bermotor, atau orang banyak, sehingga umumnya jika telah terbang maka akan dibiarkan terbang selama beberapa hari tanpa diturunkan.
Berikut ini beberapa karakteristik khas penampakan layang-layang berlampu: 
  1. Pola pergerakannya monoton, tidak ada perubahan dalam waktu relatif lama
  2. Bentuk pola lintasan antara ellips, lingkaran, atau lingkaran ganda/angka 8
  3. Tidak ada perubahan kecepatan yang mendadak ataupun ekstrim, misalnya dari bergerak lincah ke diam, atau sebaliknya
  4. Arah pergerakan relatif mulus, tidak zigzag ataupun acak
  5. Posisi relatif stasioner, alias di bagian langit yang itu-itu saja, tidak berkelana ke bagian langit lain yang jauh
  6. Teramati secara konstan dalam waktu relatif lama
  7. Sumber cahaya berupa titik, ukuran relatif kecil (bukan layang2nya sendiri yang bercahaya)
  8. Intensitas cahaya relatif lemah
  9. Perubahan intensitas warna relatif konstan, antara tidak meredup atau menerang sama sekali, atau meredup dan menerang dalam jarak waktu yang sama
  10. Warna cenderung "mentah"; merah murni, hijau murni, biru murni, dll.
Apakah anda pernah menyaksikan penampakan serupa? Atau memiliki komentar terkait karakteristik-karakteristik yang diungkapkan di sini? Silakan berbagi komentar. (byms)

Jumat, 12 Agustus 2011

Grup diskusi UFO Islami

Sehubungan dengan semakin meningkatnya ketertarikan masyarakat umum terhadap bidang kajian Ufologi, khususnya dalam keterkaitan nya dengan Islam, maka sekarang telah dibuka satu grup diskusi di facebook untuk memfasilitasi pertukaran pikiran, ide, dan diskusi Ufologi dalam lingkup bahasan Islami.

Kepada rekan-rekan yang tertarik silakan bergabung di http://www.facebook.com/groups/islamicufo/
Published with Blogger-droid v1.6.9

Rabu, 10 Agustus 2011

Alien dalam Qur'an; "Dabbatin" dan petunjuk dalam Surah As-Syuura ayat 29 (42:29)

Front of the QuranImage via WikipediaDalam Surah As-Syuura, Ayat 29 (42:29) dari Quran, kita diberitahu, "Dan diantara (tanda-tanda kekuasaan)-Nya adalah penciptaan Surga dan Bumi, dan makhluk-mahluk melata yang Dia sebar pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa untuk mengumpulkan mereka bersama-sama apabila dikehendaki-Nya".

Sebelum melangkah lebih jauh, satu atau dua hal harus kita perhatikan; kata "sama" diterjemahkan sebagai "surga", adalah juga merupakan bahasa Arab untuk "langit".

Orang mungkin beranggapan bahwa bahwa ayat tersebut mengacu pada adanya makhluk-mahluk di langit (yang mana berarti burung), bukan di Surga. Namun demikian, dalam surah 24:41 burung-burung disebutkan secara terpisah dari makhluk langit: "Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan"

Dalam catatan 42:29, Muhammad Asad menyatakan "Dalam Quran, ungkapan "surga dan bumi" selalu menunjukkan alam semesta secara keseluruhan". Al-Quran juga menyebutkan bahwa benda mati juga menyembah Allah: "Apakah mereka tidak melihat ciptaan Allah, (bahkan) di antara benda (mati)-bagaimana bayangan mereka berputar, dari kanan ke kiri, bersujud diri kepada Allah. .. "(16:48). Oleh karena itu, tidak mungkin makhluk yang dibicarakan dalam 42:29 di langit, adalah benda mati ciptaan Tuhan, tidak.

Ayat berikutnya, 16:49 menyatakan "Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi da
n (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Adapun kata yang diterjemahkan sebagai "makhluk melata" di sini adalah sama dengan yang di 42:29 yaitu  دَابَّةٍ "Dabbatin" (atau "Dabbatun"), bentuk jamak dari kata "dabbah".

Komentar Asad, "Kata 'dabbah' mencakup setiap makhluk, dengan bentuk fisik yang mampu bergerak secara spontan dan dibedakan dengan mahluk non-fisik, spiritual, yang dikenal sebagai "malaikat". Dengan kata lain, 42:29 mengacu secara khusus kepada jenis mahluk hidup yang ilmu pengetahuan cari-cari, bukan sesuatu entitas metafisik.

Yusuf Ali mengatakan, "Dabbatun: binatang, hidup, makhluk melata dari semua jenis". Ini adalah kata yang sama digunakan dalam 2:164 ,"... dalam segala macam jenis binatang yang Dia sebarkan di bumi ... adalah tanda-tanda bagi orang-orang yang bijaksana, " dan 24: 45, "Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu"

Mengomentari 42:29, Allama Shabbir Ahmad Usmani mengatakan, "Dari ayat ini tampak bahwa seperti di bumi, ada beberapa jenis hewan - makhluk hidup - di langit juga"

Alien2Image via WikipediaPada ayat yang sama, Yusuf Ali berkomentar, "Hidup ini tidak terbatas pada planet kecil kita. Adalah suatu spekulasi yang sangat tua untuk membayangkan beberapa bentuk kehidupan seperti manusia ada di planet Mars ... adalah wajar untuk menduga bahwa Hidup dalam beberapa bentuk atau lainnya tersebar pada beberapa dari jutaan benda langit yang tersebar di angkasa luar."

Dari komentar seperti itu, pembaca akan menyadari bahwa cendekiawan Muslim sangat menyadari fakta bahwa 42:29 jelas menyebutkan adanya Alien, mahluk cerdas di luar angkasa sana. (diterjemahkan oleh bayuamus)


Enhanced by Zemanta

Jumat, 17 Juni 2011

Isra’ Mi'raj, Kitab Mulia dan Kripto

ISRA’ MI'RAJ, KITAB MULIA DAN KRIPTO. by Arifin Mufti on Saturday, July 10, 2010 at 2:00pm di account Facebooknya.

“ Diakui beragam pemahaman tentang kisah Isra’ dan Mi'raj . Namun jika kita cermati pola bahasa Kitab Mulia dengan berbagai ‘isyaratnya’, maka kita akan dapat menyimpulkan – pada dasarnya kisah tersebut adalah Perjalanan Dimensi Ruang dan Waktu Antar Bintang - dari kawasan yang dekat (Tata Surya) ke kawasan Bintang yang ‘terjauh’, Sidratil Muntaha melewati Bintang Sirius (Asy Syi’ra). Kisah ini direkam pada penggalan sejumlah ayat pada Surat Bintang pula, sangat spesifik”.

Sabtu, 10 Juli 2010.

Klasifikasi: Sangat Rumit.

Saya diminta oleh sejumlah teman untuk menulis tentang kisah Isra’ Mi'raj yang diberitakan baik oleh Kitab Mulia dan Hadist (perkataan dan perbuatan Nabi) yang diriwayatkan para sahabatnya. Pada awalnya, enggan – karena sangat rumit dan penjelasannya cukup panjang. Tidak mudah dicerna.

Namun demikian, akhirnya penulis putuskan untuk mencobanya dengan merobah bahasanya menjadi lebih umum.

Baik kita akan mulai dengan pendekatan yang berbeda, dan belum tentu pembaca setuju semua. Karena memang tidak sederhana, bisa beragam penafsiran.

Dalam tradisi Yahudi. kisah seorang Nabi berwisata “naik kelangit”, bukan hanya dialami oleh nabi Muhammad saja. Tapi jauh sebelum itu, bahkan jauh sebelum Nuh as (Noah) 4500 tahun yang lalu. Nabi Idris as (Enoch atau Anuch) ditemani oleh seorang malaikat berkunjung ke langit (dmaknai langit-4), dimensi ruang dan waktu (DRW) lebih tinggi dari DRW kita, kemudian ke "Surga" serta melihat dan mencoba nikmatnya “di tempat yang tinggi” yang dimaknai Surga. Ini dicatat dalam berbagai catatan Kisah para Nabi dari Kaum Yahudi. Juga diisyaratkan dalam Kitab Mulia, walaupun sangat sumir, dalam pengertian hakiki (Maryam, 56-57).

Kisah dimulai dari kaum Quraish Makkah Saudi Arabia yang selalu tidak percaya informasi dari Nabi, dan menginginkan bukti-bukti yang aneh-aneh. Setelah dibuktikan, dianggap sihir.


Bagian dari Alam Semesta
Tahun 614 M, kaum Quraish menginginkan Bulan dibelah, dan itu dilayani oleh Nabi (Bulan, 01) dan sejumlah Hadist shahih (Bukhari, Ibnu Mas'ud, dan Anas). Mereka bertanya tentang perjalanan Dzulkarnain (Kisah Pendiri Imperium Persia Cirus The Great) serta kisah pemuda Nasrani dalam Gua, direspon oleh Nabi dengan baik. Tahun 618-620, mereka minta beberapa hal yang mustahil (Yang diperjalankan malam hari/ al Isra’, 90-93)

1. Memancarkan mata air dari bumi.
2. Meminta sebuah kebun kurma dan anggur, dengan air mengalir di bawahnya.
3. Meminta menghadirkan Allah beserta malaikat-malaikatnya..
4. Meminta sebuah rumah dari emas.
5. Yang terakhir, mereka meminta Nabi untuk "naik ke langit".

Permintaan terakhir dikabulkan oleh Allah swt, tahun 620/621 M, Nabi Muhammad naik kelangit – menjelajah ruang angkasa dari satu dimensi (KRW: Kontinum Ruang dan Waktu) ke dimensi lain, hingga dimensi tertinggi, langit ke-7. Dari kawasan Bintang terdekat (Matahari) ke kawasan Bintang Terjauh (Sidratil Muntaha), boleh jadi melewati Bintang Sirius – karena direkam dalam surat yang sama – surat Bintang – dan memiliki kombinasi kode (kripto) yang sama. Dalam waktu relatif singkat, waktu standar Bumi, relativitas waktu.

Perjalanan ini adalah perjalanan nyata, baik badan dan rohnya, karena ditegaskan dengan melihat kawasan Sidratil Muntaha (Tepi/Tempat Terjauh di Alam Semesta) dan Jibril as dalam wujud sebenarnya, dengan kata “ ra-aahu” (Bintang, 13-16). “ Ra’aahu” dan “yaara” bermakna melihat dengan indra mata lahir, fisik – bukan meta fisik, dan “yaraa” secara khusus (Bintang, 12) (Al Mishbah, Dr Quraish Shihab). Pengalaman fisik, bukan mimpi atau hanya roh. Penglihatannya tidak berpaling kemana-mana, karena terpesona melihat bukti kekuasaan Tuhan (Bintang, 17). Sebagaimana kita jika ditempat paling tinggi, puncak gunung misalnya, melihat panorama dibawahnya. Banyak hal yang mampu dilihat - apa lagi pada dimensi tertinggi.

Kata "bi 'abdihii" yang berarti "hamba-Nya" juga bermakna wujud nyata, fisik - bukan semata-mata roh. Lengkapnya, " Maha Suci Tuhan yang telah memperjalankan hamba-Nya (bi 'abdihii) pada suatu malam...." (Al Israa', 01).

“Apakah kamu membantahnya atas apa yang dilihatnya (yaraa)” (Bintang, 12).

Secara ringkas perjalanan Isra' Mi'raj dibagi dalam dua tahap :

1. Tahap satu disebut al Isra’ atau “Yang diperjalankan pada malam hari”, dari Makkah ke Yerusalem di Israel sekarang. Diceritakan dengan mengendarai “Buraq”, atau artinya “ cepat sekali, seperti cahaya kilat”. Hadist shahih, tidak menjelaskan spesifik hewan, apa lagi “kuda bersayap dengan kepala seorang wanita”. Tetapi adalah “binatang tunggangan atau alat transport dalam bahasa kini” yang ukurannya lebih kecil dari kuda dan lebih besar dari keledai”. Itu saja, tidak ada penjelasan lain. Kisah Isra' sendiri dicatat dalam Kitab Mulia berupa penggalan ayat pada surat Al Isra'.

2. Tahap kedua dari Bumi (kawasan Bintang Matahari) ke Sidratil Muntaha (kawasan Bintang terjauh di Alam Semesta) – didekatnya ada “Surga Tempat Hunian Yang Indah dan Nyaman” atau “jannatul ma-waa” (Bintang, 15). Salah satu lokasi terbaik pada Surga Tingkat Paling Atas. Perjalanan ini tidak menggunakan Buraq, tetapi dengan “Miraj” atau artinya “Alat dan Tempat untuk naik”. Suatu “alat”, entah apa detilnya, yang membantu perjalanan Nabi agar Perjalanan Yang Jauh ini berlangsung dengan cepat, singkat, selamat dan nyaman.

“M'iraj” adalah bentuk singular, dalam bentuk plural disebut “al Ma’arij”, atau “Alat-alat/Tempat-tempat untuk naik kelangit”. Merupakan judul surat tersendiri dalam Kitab Mulia. Para Malaikat dan Jibril as terbiasa menggunakan alat ini ketika pergi ke Sidratil Muntaha – karena merujuk penjelasan Dr Quraish Shihab – perjalanan kesana sangat jauh dan membuat lelah. Jibril as tidak menggunakan “sayapnya”, karena melelahkan dan “payah”, tetapi dengan “al Ma’arij”. Kecepatannya dalam bahasa teks Kitab Mulia adalah sama dengan “ Satu hari setara dengan 50.000 ribu tahun" (Qs, 70:04).

Lengkapnya, " Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun" (Qs, 70:04).

Namun ini belum bermakna apa-apa. Harus dikombinasikan dengan keterangan lain, dimana “1 hari sama dengan 1000 tahun perhitungan waktu Bumi”. (Haji, 47)

Nah, disini rumitnya. Kedua informasi tadi harus dikonversikan kedalam bahasa astronomi, supaya dapat dipahami dengan lebih baik.


Tata Surya
Singkat kata, dengan merujuk penjelasan ahli Fisika dari Mesir Professor Elnaby (A New Astronomical Qur’anic Method For The Determination Of The Greatest Speed , C”), Paul Dirac dan Paul Davies, menggunakan sistem kalendar Bulan atau Side Real – kecepatan jelajah “Mi'raj” adalah “1 hari sama dengan 16,392 miliar tahun cahaya”. Lebih mudah dipahami, dikonversikan ke jam, kecepatannya adalah 683 juta tahun cahaya per jam. Ini adalah gambaran yang diberikan Kitab Mulia, kecepatan "alat untuk naik" , yang biasa digunakan oleh para malaikat dan Nabi ke Sidratil Muntaha. Kita tahu, satu detik cahaya setara dengan 300.000 km.

Sebagai perbandingan, dari Bumi ke Matahari adalah 8 menit dengan kecepatan cahaya. Bintang terdekat, Alpha Centauri, sekitar 4,2 tahun cahaya. Dengan kecepatan 683 tahun cahaya per jam, menjadi tidak berarti apa-apa perjalanan yang jauh ini. Dengan kecepatan relatif mendekati cahaya saja, waktu sudah tidak sama lagi. Disuatu tempat, obyek yang bergerak, di alam semesta waktu terasa lama, tetapi mungkin di Bumi hanya singkat saja, atau sebaliknya. Di Bumi waktu sangat lama, tapi di suatu tempat hanya beberapa detik saja. (Paul Davies, About Time).

Tiap "langit" atau "as sama' " memiliki sejumlah KRW (Kontinuum Ruang dan Waktu), dimana hukumnya berbeda dengan apa yang kita kenal sekarang ini. Alam Semesta didefinisikan 11 Dimensi (Hyperspace - Michio Kaku), oleh sejumlah ilmuwan - kita masuk pada Dimensi ke-4 (3 ruang: panjang, lebar dan tinggi serta satu satuan waktu). Diatasnya ada 7 Dimensi Ruang yang berbeda, detilnya seperti apa - pengetahuan kita belum sampai kesana.
Dalam bahasa lebih sederhana, Kitab Mulia memberi isyarat, bahwa langit terbagi dua: (1) Langit dekat (Dunya) dihiasi dengan Bintang, gugusan Bintang dan "Musobiha", atau fenomena alam berupa Bintang yang sangat masif, sekarat dan meledak (Hypernova). (2) Langit jauh dan lama (Akhirat), terbagi menjadi tujuh langit atau Tujuh Dimensi Ruang. Sukar dipahami.

Inilah yang digambarkan oleh Kitab Mulia, melengkapi kisah Isra’ dan Miraj Nabi.


Bahasa Kripto Isra' Mi'raj Nabi.

Kitab Mulia selalu melengkapi isi dan makna sebuah ayat atau surat dengan bahasa kripto atau sandi, untuk meneguhkan bahwa itu benar, yang tentu saja hanya dapat dipahami oleh pembaca yang memang khusus mempelajari hal tersebut. Tujuan akhirnya adalah, “memberi keyakinan kepada pembaca yang beriman supaya menjadi lebih beriman” dan melengkapi keterangan bahasa teks.

Dibawah ini kita ambil contoh bahasa kripto yang sederhana:

1. Ketika firman Illahi menjelaskan “langit” (Dimensi Ruang) diatas kita ada 7. Angka 7, memang benar 7. Kitab Mulia mencatatnya 7 kali dalam 7 surat, 7 ayat. Angka bilangan Prima.
Yaitu: (Qs, 02:29), (Qs, 17:44), (Qs, 23: 86) (Qs, 41:12), (Qs, 65:12), (Qs, 67:03), dan (Qs, 71:15).

Contohnya: “Langit yang tujuh, Bumi dan semua bertasbih kepada Allah….” (Qs, 17:44).

Susunan surat dan nomor ayat ini memiliki kode utama 19, angka bilangan prima, yang menunjukkan posisi surat dan nomor ayat yang sangat sistematis.

Perhatikan nomor surat, susunannya: 2 1 7 2 3 4 1 6 5 6 7 7 1, bilangan ini merupakan bilangan kelipatan 19, karena 2172341656771 adalah 19 x 114333771409.

Nomor ayatnyapun demikian, susunannya: 2 9 4 4 8 6 1 2 1 2 3 1 5. Bilangan ini juga kelipatan 19, karena 2944861212315 adalah 19 x 154992695385.

Ingat, kode shalatpun merupakan bilangan kelipatan 19!

Kodenya 5 digit, yaitu 2 4 4 3 4, atau 19 x 1 2 8 6. Dimana angka 2 adalah jumlah rakaat shat subuh, angka 4 adalah jumlah rakaat shalat dzuhur, dan seterusnya.
Luar biasa bukan?.

2. Ketika berbicara al Isra’, maka judul surat ini ditempatkan pada nomor surat 17, karena berhubungan dengan banyaknya rakaat shalat dalam Islam, 17 rakaat. Perintahnya turun pada saat Is'ra dan Mi'raj. Bilangan Prima juga.

3. Ketika berbicara Mi'iraj dan perjalanan antar Bintang, Kitab Mulia juga menggunakan bilangan prima sebagai kodenya, yaitu angka 17. Perhatikan, posisi surat Bintang (53), kesurat Al Ma’arij (70), dan para Malaikat menghadap Al A’laa (Yang Maha Tinggi) ke Sidratil Muntaha, posisi surat (87). Semuanya berbeda 17 surat. Kita mengetahui, bahwa angka 17 adalah banyaknya jumlah rakaat shalat bagi Muslim yang beriman yang diperintahkan melalui Muhammad ketika di Sidratil Muntaha. Angka 5 dan 17 adalah bilangan prima dalam matematika.

Posisi suratnyapun demikian, tidak ada makna apa-apa. Tetapi jika ditambahkan dengan angka 17, maka terbentuklah kode angka 7 berupa 8 digit: 5 3 7 0 8 7 1 7. Disbut kode, karena bilangan tersebut merupakan kelipatan 7, atau 5 3 7 0 8 7 1 7 = 7 x 1 2 5 2 9 3 3 9.

4. Semua yang bermakna Bintang, dikombinasikan dengan posisi surat, dan nomor ayat pada surat Bintang memiliki kode utama 7. Karena bilangan tersebut habis dibagi oleh 7, ingat 7 langit. Dalam 14 digit yang rumit.

Perhatikan:


Bintang Sirius, terdapat pada surat Bintang.
Surat Bintang posisi surat nomor 53, yang bermakna Bintang ada 4 ayat, nomor 1,9,14, dan 49, yaitu, dengan demikian kode 14 digit adalah 5 3 1 5 3 9 5 3 1 4 5 3 4 9. Disebut kode, karena bilangan tersebut merupakan bilangan khusus kelipatan 7, atau sama dengan
7 x 7 5 9 3 4 2 1 8 7 7 9 0 7.

Kita tahu, bahwa kode PIN ATM atau kartu kredit kita hanya 6 digit saja, dan sangat sederhana. sedangkan digit diatas jauh lebih rumit, karena menggambarkan makna, posisi surat dan nomor ayat.


Angka 5 3 adalah nomor surat, angka 1 adalah nomor ayat – bintang tersembunyi atau terbenam, maksudnya Sirius. Angka 9, adalah nomor ayat yang menjelaskan bentuk orbit Sirius, Bintang Ganda, berupa dua busur panah. Angka 49, adalah Bintang Sirius dan angka 14 adalah nomor ayat “kawasan Bintang Sidratil Muntaha di langit-ke7.

Tuhan mengajari kita bahasa matematika.

Melihat rumitnya kisah Isra’ dan Miraj, maka kita dapat memahami – mengapa respon Muslim terhadap kisah ini memiliki tafsir yang beragam. Bagaimanapun juga, dasar utamanya adalah perjalanan spiritual, pembuktian kekuasaan Tuhan untuk menjalankan seorang Nabi “naik kelangit”, akidah, ibadah dan pelajaran bagi pembaca adanya isyarat tentang sains modern, yang tidak terbayangkan. Relativitas waktu Eisntein dan perjalanan antar dimensi.

Dalam beberapa tahun kedepan, pemahaman seperti ini, akan lebih mudah diterima pembaca Muslim.

Semoga bermanfaat.

Salam
Arifin Mufti, Bandung, West Java.
Indonesia.

Buku dan artikel Terkait:

1. Pemerintahan Tuhan, Arifin Mufti
2. Surat Bintang, artikel Arifin Mufti di Notes.
3. Berbagi artikel Kripto Al Qur’an, Arifin Mufti
4. About Time, Paul Davies
5. (A New Astronomical Qur’anic Method For The Determination Of The Greatest Speed , C”), Profesor Fisika Elnaby , Mesir
6. Hyperspace, Michio Kaku
7. Tafsir Al Mishbah, Dr Quraish Shihab dan Tafsir-tafsir Maududi (Ulama Pakistan).